OKX dan ICE Ajukan Perdagangan Saham AS 24/7 Berbasis Token ke SEC
Baca dalam 60 detik
- OKX dan Intercontinental Exchange (ICE) resmi mengajukan rencana peluncuran bursa saham tokenisasi 24/7 kepada SEC.
- Langkah ini memanfaatkan pengecualian inovasi SEC yang berlaku lima tahun dan mencakup lebih dari 60 emiten saham AS.
- Jika disetujui, perdagangan saham tokenisasi dapat berlangsung nonstop dengan hak dividen dan voting setara saham konvensional.

Dunia pasar modal Amerika Serikat bergerak menuju era perdagangan tanpa henti. OKXICE, perusahaan patungan antara bursa kripto OKX dan Intercontinental Exchange (ICE)—induk Bursa Efek New York (NYSE)—telah menyampaikan pemberitahuan resmi kepada Securities and Exchange Commission (SEC) bahwa mereka berencana mengoperasikan venue perdagangan saham tokenisasi. Langkah ini diumumkan langsung oleh mantan Gubernur New York, Andrew Cuomo, yang menjabat sebagai co-chair OKXICE, melalui platform X.
Rencana tersebut menandai babak baru integrasi aset digital dengan infrastruktur pasar tradisional. Berbeda dari platform kripto yang selama ini menawarkan saham tokenisasi hanya untuk investor di luar AS, OKXICE ingin membawa perdagangan tersebut ke yurisdiksi domestik yang diatur SEC. Lebih dari 60 perusahaan yang tercatat di bursa saham AS akan menjadi daftar awal, dengan hak dividen dan voting yang setara dengan saham biasa.
"Tokenisasi sedang mengumpulkan momentum nyata, dan kita mulai melihat apa yang terjadi ketika infrastruktur pasar tradisional bertemu teknologi blockchain. OKX dan ICE menyatukan keahlian mendalam dari kedua sisi persamaan itu. Peluangnya sekarang adalah membangun langkah pertama ini dan menunjukkan bagaimana pasar onchain 24/7 dapat membuat perdagangan dan penyelesaian lebih efisien, mudah diakses, dan global," ujar Cuomo kepada CoinDesk.
Keputusan SEC menjadi fondasi utama. Melalui pengecualian inovasi yang berlaku hingga lima tahun, regulator memberi ruang bagi pelaku pasar untuk menguji model perdagangan baru. Namun, ada rambu-rambu ketat: saham tokenisasi wajib membawa hak yang sama dengan saham konvensional, termasuk dividen dan hak suara. Perusahaan yang sahamnya akan ditokenisasi juga memiliki waktu 30 hari untuk menolak. Periode ini menjadi penentu waktu peluncuran yang sesungguhnya.
Keterlibatan ICE—pemilik NYSE—menjadi sinyal bahwa tokenisasi tidak lagi dipandang sebagai eksperimen pinggiran. Selama ini, bursa kripto menawarkan saham tokenisasi secara offshore, dan pertumbuhannya pesat. Kini, dengan masuknya pemain infrastruktur pasar tradisional, standar kepatuhan dan legitimasi diharapkan meningkat. Bagi investor AS, ini berarti akses ke instrumen yang sebelumnya terbatas, dengan potensi likuiditas lebih dalam dan penyelesaian transaksi yang lebih cepat.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Regulator harus memastikan tidak ada celah arbitrase antara saham tokenisasi dan saham biasa, terutama terkait tata kelola dan perlindungan investor. Selain itu, integrasi sistem penyelesaian berbasis blockchain dengan infrastruktur kliring yang ada membutuhkan koordinasi teknis dan hukum yang rumit. Pertanyaan tentang siapa yang menanggung risiko operasional jika terjadi kegagalan smart contract juga belum sepenuhnya terjawab.
"Dan kita baru saja memulai," kata Cuomo, mengisyaratkan ambisi lebih besar di masa depan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengkaji kerangka aset kripto dan tokenisasi. Jika model OKXICE berhasil, tekanan untuk mempercepat adopsi serupa di pasar domestik bisa meningkat. Namun, tanpa kejelasan regulasi dan infrastruktur pendukung, risiko perlindungan investor tetap menjadi pertimbangan utama. Kolaborasi antara bursa tradisional dan platform digital bisa menjadi cetak biru, tetapi setiap yurisdiksi memiliki karakter unik.
Ke depan, pertanyaan krusialnya bukan lagi apakah saham tokenisasi akan menjadi arus utama, melainkan seberapa cepat regulator dan pelaku pasar dapat menyelaraskan kepentingan. Jika OKXICE berhasil melewati periode penolakan 30 hari dan memperoleh restu penuh, perdagangan saham 24/7 di AS bisa menjadi kenyataan dalam waktu dekat. Akankah bursa lain mengikuti jejak ini, atau justru muncul perlawanan dari pemain incumbent yang merasa terancam?



