Bitcoin Nyaris Cetak Rekor Delapan Bulan, Lalu Terpeleset di Bawah $86.000
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin sempat menyentuh $86.950 pada Senin pagi, hanya terpaut tipis dari puncak delapan bulan, sebelum akhirnya koreksi ke bawah $86.000.
- Penguatan didorong data tenaga kerja AS yang lebih lembut, menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sementara saham global dan imbal hasil obligasi bergerak mixed.
- Kegagalan menembus level $87.000 untuk kedua kalinya dalam sepekan memunculkan keraguan apakah pembeli mampu melewati resistensi kunci tersebut.

Bitcoin kembali gagal menembus level tertinggi delapan bulannya setelah sempat melesat mendekati $87.000 pada perdagangan Senin dini hari. Harga aset kripto utama itu sempat menyentuh $86.950 sebelum berbalik arah dan melemah ke bawah $86.000 pada sesi Asia, meski masih mencatat kenaikan 1,3% dalam 24 jam terakhir.
Lonjakan tersebut sejatinya sudah terakumulasi sejak akhir pekan, dengan akselerasi terjadi pada Minggu malam. Namun, tekanan jual muncul tak lama setelah harga mendekati puncak akhir September di kisaran $87.400. Ini menjadi upaya kedua dalam sepekan yang kandas di zona resistensi yang sama, setelah sebelumnya pada Rabu lalu Bitcoin juga sempat melonjak ke $85.500 dan langsung kehilangan momentum dalam hitungan jam.
Pergerakan Bitcoin tidak lepas dari sentimen makroekonomi Amerika Serikat. Data tenaga kerja AS yang dirilis Jumat lalu menunjukkan pelemahan, sehingga mengurangi tekanan bagi Federal Reserve untuk terus menaikkan suku bunga. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun dua basis poin menjadi 5,25%, meski masih berada di level tertinggi sejak 2002. Penurunan imbal hasil ini biasanya menjadi angin segar bagi aset berisiko seperti kripto.
Di pasar saham, optimisme justru lebih terlihat. Indeks Nasdaq 100 mencetak rekor penutupan pada Jumat, indeks ekuitas Asia Pasifik MSCI naik 1%, dan Nikkei 225 Jepang menguat 2,5%. Harga minyak mentah Brent turun 0,7% menjadi sekitar $101,50 per barel setelah Arab Saudi memangkas harga jual resminya untuk Asia. Sementara itu, dolar AS menguat 0,4% terhadap sekeranjang mata uang utama, dengan euro melemah ke level terendah sejak Mei 2025 menyusul laporan bahwa Spanyol bersiap menggelar pemilu dini.
Di antara mata uang kripto lainnya, Dogecoin (DOGE) memimpin penguatan dengan kenaikan lebih dari 3% mendekati $0,10. XRP, BNB, dan ZEC masing-masing menambah 1% hingga 2%, sedangkan ether dan HYPE naik kurang dari 1%. Adapun SOL dan TRX bergerak datar. Data dari CoinDesk menunjukkan rotasi dana yang terbatas pada aset-aset utama, mencerminkan kehati-hatian investor di tengah ketidakpastian arah suku bunga.
Bagi pasar kripto Indonesia, dinamika ini menjadi perhatian tersendiri. Sebagai salah satu negara dengan adopsi kripto terbesar di Asia, pergerakan Bitcoin di level global kerap diikuti oleh investor ritel domestik. Namun, penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi yang masih tinggi dapat menekan selera risiko, terutama jika rupiah kembali terdepresiasi. Pelaku pasar dalam negeri tampaknya akan mencermati apakah reli ini berlanjut atau justru menjadi sinyal koreksi lebih dalam.
"Penutupan harian di atas $87.000 akan menjadi sinyal awal bahwa pembeli mampu melewati resistensi akhir September," catat analis pasar kripto, mengutip laporan CoinDesk.
Ke depan, level $87.000 menjadi ambang psikologis yang menentukan. Jika Bitcoin kembali gagal bertahan di atasnya, ada risiko penguatan dolar dan tingginya imbal hasil obligasi akan memicu aksi ambil untung. Sebaliknya, tembusnya level tersebut dapat membuka jalan menuju rekor baru. Pertanyaannya, apakah lonjakan kali ini hanya euforia sesaat atau awal tren bullish yang lebih solid?



