Pentagon Danai Proyek Ambisius Overview Energy: Listrik Surya dari Orbit Bumi
Baca dalam 60 detik
- Departemen Pertahanan AS resmi menandatangani kontrak dengan Overview Energy untuk mengembangkan sistem transmisi daya surya berbasis antariksa, termasuk uji coba homing beacon.
- Teknologi ini menjanjikan pasokan listrik 24/7 tanpa hambatan cuaca dan tanpa kebutuhan lahan luas, namun efisiensi ekonomi masih dipertanyakan oleh fisikawan Stanford.
- Jika demonstrasi 2028 sukses, konstelesi satelit GEO akan mulai dioperasikan pada 2030, membuka jalan bagi komersialisasi energi surya antariksa.

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (DoD) resmi menggandeng Overview Energy, sebuah perusahaan rintisan berusia empat tahun, untuk merancang, membangun, dan menguji homing beacon yang memungkinkan sistem energi surya antariksa menembakkan daya dari orbit ke stasiun penerima di Bumi secara presisi. Kontrak ini menjadi sinyal kuat bahwa Washington semakin serius mengeksplorasi sumber listrik yang tak terpengaruh siklus siang-malam maupun cuaca.
Konsep dasar teknologi ini bukan hal baru: panel surya ditempatkan di satelit yang mengorbit Bumi, menangkap sinar matahari tanpa hambatan atmosfer, lalu mengirimkan energinya ke permukaan melalui laser atau gelombang mikro. Namun, yang membedakan Overview Energy adalah pendekatan homing beacon—sebuah penanda yang memandu berkas energi agar tepat sasaran, sebuah tantangan teknis yang selama ini menjadi penghalang utama realisasi ide tersebut.
Bagi sektor energi bersih, daya tarik utama teknologi ini terletak pada kemampuannya mengatasi intermitensi. Panel surya di orbit dapat menghasilkan listrik 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, tanpa terpengaruh awan atau malam. Ini menjawab salah satu masalah kronis energi terbarukan: ketidaksesuaian antara jam produksi puncak dan jam permintaan puncak, yang kerap memicu pemborosan energi bahkan harga listrik negatif di beberapa pasar.
Selain itu, pembangkit surya antariksa tidak memerlukan lahan luas. Menurut laporan konsultan McKinsey & Company pada 2022, pembangkit surya skala utilitas membutuhkan lahan setidaknya sepuluh kali lebih besar per unit daya dibanding pembangkit batu bara atau gas—bahkan setelah memperhitungkan lahan untuk produksi dan transportasi bahan bakar fosil. Dengan menempatkan panel di luar angkasa, hambatan lahan dan tantangan hukum perizinan dapat dihindari sepenuhnya.
Kepala eksekutif bersama Overview Energy, Darko Filipi, menegaskan bahwa koneksi antara antariksa dan Bumi adalah elemen paling krusial. "Koneksi antara antariksa dan permukaan Bumi adalah elemen paling kritis dari energi surya antariksa, terutama bagi prajurit yang bergantung pada pasokan listrik di lokasi spesifik," ujarnya, seperti dikutip Interesting Engineering. Filipi juga menyatakan keyakinannya bahwa perusahaannya mampu menyediakan listrik skala utilitas dengan teknologi ini.
Meski demikian, tidak semua pihak optimistis. Amory Lovins, fisikawan Stanford dan salah satu pendiri lembaga pemikir energi RMI, menyatakan keraguannya. "Teknologinya mungkin berhasil, tetapi saya sangat meragukan sisi ekonominya," kata Lovins kepada The Washington Post. Ia menunjuk pada alternatif energi bersih yang sudah terbukti, seperti nuklir dan panas bumi, yang dapat menghasilkan listrik jauh lebih murah dan dengan teknologi yang lebih mapan.
Kontrak dengan DoD dan Meta memang belum diuji secara penuh dari orbit. Sistem lengkap dari antariksa ke Bumi belum pernah didemonstrasikan, sehingga masih ada risiko teknis dan komersial yang signifikan. Namun, bagi Overview Energy, taruhannya jelas: jika berhasil, mereka tidak hanya mengubah lanskap energi global, tetapi juga membuka era baru dalam pemanfaatan ruang angkasa untuk kebutuhan sipil dan militer.
Pertanyaannya kini, apakah proyek ini akan menjadi terobosan yang mengubah cara dunia memandang energi surya, atau justru menjadi pengingat bahwa beberapa ide paling ambisius tentang antariksa tetap lebih dekat ke fiksi ilmiah daripada ke realitas ekonomi?



