Pilpres Brasil 2026: Flávio Bolsonaro Ungguli Lula, Putaran Kedua Jadi Ajang Adu Strategi
Baca dalam 60 detik
- Flávio Bolsonaro memenangi putaran pertama dengan 47,1% suara, unggul tipis atas Lula yang meraih 45%.
- Kubu kanan diprediksi melaju ke putaran kedua sebagai favorit setelah meraup suara dari kandidat kanan lainnya.
- Hasil ini menandai kebangkitan keluarga Bolsonaro meski Jair Bolsonaro tengah menjalani hukuman 27 tahun.

Pilpres Brasil akan berlanjut ke putaran kedua setelah kandidat sayap kanan, Flávio Bolsonaro, mengalahkan petahana Luiz Inácio Lula da Silva pada putaran pertama, Minggu (5/10/2026). Dengan lebih dari 99% suara terhitung, Flávio meraih 47,1% suara, sementara Lula mendapatkan 45%. Karena tidak ada yang mencapai mayoritas mutlak, kedua kandidat akan bertarung lagi pada 25 Oktober mendatang.
Flávio, putra mantan presiden Jair Bolsonaro yang tengah menjalani hukuman 27 tahun penjara karena kasus kudeta, masuk ke putaran kedua sebagai favorit. Ia diperkirakan akan mendapat tambahan suara dari pemilih kandidat kanan lainnya, seperti Ronaldo Caiado (2,1%) dan Renan Santos (2,2%). Gelombang kanan juga terlihat di legislatif: dari 54 senator terpilih, 34 di antaranya berasal dari partai kanan atau ekstrem kanan. Keluarga Bolsonaro pun mencetak kemenangan di berbagai kursi, termasuk Carlos dan Michelle Bolsonaro yang lolos ke Senat, serta Jair Renan ke DPR.
Lula, yang sebelumnya optimistis menang satu putaran, mengakui hasil ini sebagai pelajaran berharga. "Kita baru saja mendapat pelajaran tentang demokrasi Brasil. Hasilnya sering tak terduga," ujarnya di São Paulo. Ia berjanji akan meluncurkan kampanye baru untuk memaparkan perbedaan visi dengan lawannya. "Mulai besok kami akan memulai kampanye baru: dengan hanya dua kandidat, kami bisa menunjukkan perbedaan proposal untuk Brasil," tambahnya.
Sementara itu, Flávio menyerukan akhir dari apa yang disebutnya "era kemunduran" Lula. "Saya lebih dari siap memimpin negara ini dan memberi keluarga Brasil hak untuk bermimpi lagi," klaimnya. Ia berjanji akan menindak tegas kejahatan, meski memiliki hubungan dengan kelompok paramiliter di Rio. Flávio juga berharap kemenangannya bisa membebaskan ayahnya dari penjara.
"Adalah hal yang menyedihkan bahwa rakyat Brasil memilih kemunduran sebesar ini," kata Marcelo Mac, pemilik bar sayap kiri di Rio, saat melihat hasil penghitungan suara.
Kemenangan Flávio tidak lepas dari isu ekonomi dan keamanan yang mendominasi kampanye. Krisis biaya hidup dan kekerasan perkotaan membuat sebagian pemilih beralih ke kanan. Namun, survei opini gagal memprediksi besarnya gelombang kanan ini. Seorang pemilih Flávio, Italo Andrade dos Santos (31), mengaku kecewa karena Flávio tidak menang satu putaran, tetapi senang ia unggul. "Saya lebih memilih untuk mengeluarkan Lula daripada memilih Flávio sendiri," ujarnya.
Isu internasional juga mewarnai pilpres Brasil. Lula menuduh Presiden AS Donald Trump berusaha memengaruhi hasil demi kepentingan Flávio, yang dianggap ingin "mengkolonisasi" Brasil dan menguasai sumber daya alamnya. Flávio berjanji akan mempererat hubungan dengan Trump, yang berharap kemenangan kanan di Brasil memperkuat kendali AS di Amerika Latin setelah kemenangan pemimpin pro-Trump di Chile, Kolombia, dan Peru.
Bagi Indonesia, hasil pilpres Brasil ini bisa menjadi cerminan bagaimana isu ekonomi dan keamanan mampu menggeser preferensi politik. Sebagai sesama negara demokrasi berkembang, Indonesia juga menghadapi tantangan serupa dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Hubungan dagang Indonesia-Brasil yang selama ini terjalin baik di sektor pertanian dan energi perlu terus dijaga, apa pun hasil akhir pilpres nanti.
Dengan putaran kedua yang masih terbuka, pertanyaannya kini: akankah Flávio mampu mempertahankan momentum dan mengunci kemenangan, atau Lula berhasil membalikkan keadaan dengan kampanye yang lebih agresif? Semua akan terjawab dalam tiga minggu ke depan.



