Ketika Badak, Trump, dan Mick Jagger 'KW' Ramaikan Pemilu Brasil
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 7.800 kandidat bersaing di pemilu Brasil, sebagian memakai nama dan kostum tokoh terkenal untuk meraup suara.
- Sistem proporsional Brasil membuat suara kandidat unik tetap mengalir ke partai, memengaruhi perolehan kursi dan dana publik.
- Fenomena ini telah berlangsung sejak 1959 dan diprediksi kembali mewarnai pemungutan suara pada 4 Oktober mendatang.

Pemilihan umum Brasil tahun ini tidak hanya diwarnai pertarungan gagasan, tetapi juga parade kandidat dengan nama dan penampilan nyentrik. Dari pilot helikopter yang menjelma menjadi Donald Trump hingga tukang kayu yang menamai diri Mick Jagger, ratusan figur unik ikut berebut kursi di Kongres dan legislatif negara bagian. Fenomena ini bukan sekadar lelucon politik, melainkan cerminan sistem pemilu proporsional yang membuka celah bagi siapa pun untuk mendulang suara.
Plinio Vicentin Junior, 59 tahun, adalah salah satu bintang di antara mereka. Ia mengubah penampilannya menyerupai Presiden Amerika Serikat Donald Trump—rambut pirang disisir ke belakang, dasi oranye menjuntai, bahkan gaya berjalan dan jabat tangan dibuat mirip. Saat berkampanye di Minas Gerais, ia mengendarai Pontiac Grand Ville klasik dengan bendera Amerika Serikat berkibar di kaca depan. Nama kampanyenya: Plinio Trump. "Trump itu ikonik dan disukai. Hanya sedikit orang yang mencemooh saya. Kebanyakan tersenyum dan memeluk saya," ujarnya kepada Associated Press di Juiz de Fora, seperti dikutip KCAU9.
Selain Plinio, ada Henrique Barack Obama yang mencalonkan diri untuk kursi Senat di Distrik Federal. Meski wajahnya tidak terlalu mirip Obama, temannya, Claudio Santos, mengatakan nama itu lebih soal citra dan perhatian. Lalu ada Walcy Calixto Vieira, 66 tahun, tukang kayu yang menggunakan nama Mick Jagger untuk legislatif negara bagian Goias. Penampilannya khas: rambut acak-acakan dengan poni panjang menutupi alis. Kandidat lain memakai nama "Nenek Tsunami", "Siapa Siapa", "Lonely Boy", dan "Samurai Taxi Driver"—seorang ahli nunchaku yang aktif di Instagram.
Tradisi ini bukan hal baru. Pada 1959, sekitar 100 ribu pemilih Sao Paulo menuliskan nama Cacareco, badak betina dari kebun binatang setempat, di surat suara pemilihan dewan kota. Otoritas pemilu membatalkannya, tetapi bibit fenomena sudah tertanam. Selama kediktatoran militer 1964-1985, praktik ini meredup, lalu bangkit lagi setelah pemilu nasional 1989. Saat itu, dokter jantung Eneas Carneiro mencuri perhatian lewat pidato cepat dan gaya bicara menggebu-gebu dalam iklan 15 detik. Ia meraih 360 ribu suara di pemilihan presiden, lalu melesat ke 4,6 juta suara pada 1994 dan finis ketiga di bawah Lula da Silva dan Fernando Henrique Cardoso.
Puncaknya terjadi pada 2010 ketika Tiririca, badut sirkus sekaligus komedian, memenangkan kursi Kongres untuk Sao Paulo dengan lebih dari 1,3 juta suara. Slogannya menyindir kinerja politikus: "Keadaan tidak mungkin lebih buruk lagi" dan "Apa yang dilakukan seorang anggota kongres federal? Saya benar-benar tidak tahu. Pilih saya dan saya akan mencari tahu untuk Anda!" Tiririca, nama asli Francisco Everardo Oliveira Silva, bertahan empat periode. Kini ia mencalonkan diri untuk periode kelima mewakili Ceara, meski pada 2022 hanya meraih sekitar 70 ribu suara.
"Beberapa kandidat ini memiliki cukup suara untuk menang sendiri, tetapi yang lain hanya menambahkan 1.000 atau 2.000 suara untuk partai. Mereka tidak dapat kursi, tetapi membantu partai mengamankan bagian lebih besar dari Kongres dan dana publik." — Carlos Melo, profesor ilmu politik Universitas Insper, Sao Paulo.
Melo menjelaskan bahwa sistem pemilu proporsional Brasil membuat suara kandidat dihitung untuk partai. Kandidat yang tidak menang langsung tetap bisa mendongkrak perolehan kursi dan anggaran partai. Ia juga mencatat bahwa meningkatnya jumlah kandidat unik berkaitan dengan perubahan lanskap politik: sejumlah tokoh tradisional mulai meninggalkan politik institusional, membuka ruang bagi pendekatan alternatif. Bagi Plinio Trump, sosok Trump bukan hanya soal kemiripan fisik. "Kami memiliki sedikit pilihan di sayap kanan di Brasil. Bagi saya, Trump adalah referensi sayap kanan," ujarnya.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang kualitas demokrasi. Di satu sisi, kandidat unik meramaikan pesta demokrasi dan mendorong partisipasi. Di sisi lain, mereka bisa mengalihkan perhatian dari isu substantif. Namun, dalam sistem proporsional, keberadaan mereka tetap fungsional bagi partai—menyedot suara yang mungkin tidak akan datang jika hanya mengandalkan kandidat konvensional. Setelah kampanye di Juiz de Fora, Plinio Trump bersiap kembali ke Varginha, kota yang terkenal karena dugaan penampakan UFO. Ia berharap penampilannya terus menarik perhatian hingga hari pemungutan suara, 4 Oktober. Apakah gaya kampanye seperti ini akan semakin mengakar, atau justru memudar ketika pemilih menuntut kompetensi? Waktu yang akan menjawab, tetapi untuk sekarang, badak, Trump, dan Mick Jagger 'KW' telah menjadi bagian tak terpisahkan dari wajah pemilu Brasil.



