Van Gastel Tegaskan Mentalitas Pengorbanan Jadi Kunci Kebangkitan PSIM Yogyakarta
Baca dalam 60 detik
- PSIM Yogyakarta masih terpuruk di posisi ke-14 BRI Super League dengan koleksi satu poin dari tiga laga.
- Pelatih Jean-Paul van Gastel menggelar internal game 90 menit untuk mengembalikan ritme pemain setelah jeda tiga pekan.
- Van Gastel menekankan bahwa kemauan bekerja keras dan berkorban demi tim akan menentukan komposisi pemain menghadapi Persija Jakarta.

PSIM Yogyakarta menutup jeda kompetisi BRI Super League 2026/2027 dengan menggelar internal game di Lapangan Yogyakarta Independent School (YIS), Sabtu (3/10/2026). Sesi simulasi pertandingan selama 90 menit itu menjadi respons langsung atas start buruk Laskar Mataram yang baru mengumpulkan satu poin dari tiga pertandingan dan terpuruk di peringkat ke-14 klasemen sementara.
Pelatih Jean-Paul van Gastel menilai jeda tiga pekan berpotensi menggerus ketajaman tim, sehingga ia sengaja merancang laga internal yang menyerupai pertandingan resmi, lengkap dengan pengawalan wasit. Seluruh pemain dibagi ke dalam dua tim dengan komposisi yang diupayakan seimbang. Tujuannya bukan sekadar menjaga kebugaran, melainkan mengembalikan naluri bertanding yang sempat hilang.
Bagi Van Gastel, internal game juga berfungsi sebagai ajang evaluasi bagi pemain yang minim menit bermain di kompetisi resmi. Pelatih asal Belanda itu ingin memastikan seluruh skuad berada dalam kondisi siap kapan pun dibutuhkan. Ia mengapresiasi respons fisik para pemain, yang dinilainya menunjukkan kerja keras dan keinginan memberi kontribusi terbaik.
"Menurut saya sangat penting semua pemain mendapatkan kesempatan bermain selama 90 menit. Terutama setelah jeda tiga pekan, kami perlu mengembalikan ritme permainan," ujar Van Gastel.
Hasil internal game menjadi salah satu bahan pertimbangan sebelum Van Gastel menentukan starting eleven melawan Persija. Namun, ia menegaskan bahwa komposisi tim tidak hanya ditentukan oleh performa di latihan. Perkembangan pemain dari pekan ke pekan akan menjadi faktor penentu, termasuk aspek mental dan komitmen terhadap kolektif.
Van Gastel secara khusus menyoroti pentingnya pengorbanan individu demi kepentingan tim. Menurutnya, kualitas teknis saja tidak cukup untuk mengangkat PSIM dari keterpurukan. Ia menuntut setiap pemain siap bekerja ekstra dan mengesampingkan ego pribadi demi hasil kolektif.
"Yang paling penting adalah kemauan setiap pemain untuk bekerja keras, berkorban, dan berjuang bersama demi kepentingan tim," tegasnya.
Sikap tegas Van Gastel mencerminkan tekanan yang dihadapi PSIM di awal musim. Dengan hanya satu poin, Laskar Mataram berada di ambang zona degradasi, terpaut dua tangga dari batas akhir yang ditempati Persijap Jepara. Laga melawan Persija di Stadion Sultan Agung menjadi ujian krusial: kemenangan tidak hanya mendongkrak posisi, tetapi juga menjaga kepercayaan suporter dan stabilitas internal tim.
Jika merujuk pada pola kerja Van Gastel, ia tampaknya ingin membangun budaya disiplin dan kolektivitas sebelum menyentuh taktik yang lebih kompleks. Pendekatan ini lazim di sepak bola Eropa, di mana pelatih menuntut pemain menginternalisasi nilai perjuangan sebagai fondasi performa jangka panjang. Pertanyaannya, seberapa cepat para pemain PSIM mampu menerjemahkan tuntutan itu menjadi hasil nyata di lapangan?



