Sennheiser Momentum 5 Wireless Resmi Meluncur: Baterai Bisa Diganti Sendiri, Harga Lebih Murah dari Sony dan Bose
Baca dalam 60 detik
- Sennheiser memperkenalkan Momentum 5 Wireless setelah jeda empat tahun, membawa peningkatan signifikan pada ANC, kenyamanan, dan daya tahan baterai.
- Baterai yang dapat diganti pengguna menjadi pembeda utama di pasar headphone premium yang selama ini didominasi model sekali pakai.
- Dengan banderol US$400, Momentum 5 menantang Sony WH-1000XM6 dan Bose QuietComfort Ultra 2 yang lebih mahal, meski masih kalah dalam fitur Auracast.

Sennheiser akhirnya memperbarui lini headphone premiumnya setelah empat tahun tanpa generasi baru. Momentum 5 Wireless resmi diperkenalkan pada Mei 2026, membawa sejumlah perbaikan penting yang selama ini dinanti penggemar audio presisi, terutama kemampuan mengganti baterai sendiri dan peningkatan peredam bising aktif. Langkah ini menandai upaya Sennheiser mempertahankan relevansi di segmen yang semakin ketat oleh dominasi Sony dan Bose.
Secara fisik, Momentum 5 masih menggunakan material plastik, kain, dan kulit dengan bobot 290 gram—lebih berat sekitar 36 gram dibanding Sony WH-1000XM6 (254 gram) dan 40 gram dari Bose QuietComfort Ultra generasi kedua (250 gram). Meski demikian, bantalan telinga yang lebih lapang dan headband berlapis busa membuatnya nyaman dipakai berjam-jam. Earcup tidak bisa dilipat ke dalam, tetapi dapat diputar rata agar muat dalam casing baru yang lebih ramping dan terkesan premium.
Peningkatan paling mencolok ada pada aspek reparasi. Berbeda dari mayoritas pesaing yang baterainya tertanam permanen, Momentum 5 memungkinkan pengguna melepas bantalan telinga kiri dan mengganti baterai dengan obeng kecil. Langkah ini menjawab kritik lama tentang usia pakai headphone premium yang terbatas pada siklus baterai. Sennheiser juga menyematkan fitur deteksi pemakaian—musik otomatis berhenti saat headphone dilepas—serta auto power off yang bisa diatur lewat aplikasi Smart Control Plus.
Dari sisi suara, Momentum 5 masih mengandalkan driver 42 mm yang sama dengan Momentum 4. Karakternya tetap condong netral dengan mid yang hangat, vokal jernih, bass tegas, dan treble berkilau tanpa terdengar tajam. Bagi pengguna setia Momentum 4, mungkin ada pergeseran halus dari netral total, tetapi secara umum masih lebih netral dibandingkan tuning Sony dan Bose yang cenderung lebih berwarna. Mode Dolby Atmos turut disematkan untuk memperkaya pengalaman menonton film.
Peningkatan terbesar kedua terletak pada active noise cancellation (ANC). Sennheiser menambah jumlah mikrofon dari empat menjadi delapan—empat di setiap earcup—sehingga kemampuan meredam bising pesawat dan suara mesin kendaraan jauh lebih baik. Meski belum mampu melampaui Sony WH-1000XM6 dan Bose QC Ultra 2, jarak ketiganya kini jauh lebih tipis. Mode transparansi juga diperbaiki, membuat percakapan saat memakai headphone terasa lebih alami. Kualitas panggilan suara tidak menemui kendala berarti.
"Momentum 5 Wireless adalah peningkatan besar dari Momentum 4 dan mampu bersaing dengan rival yang lebih mahal," tulis pengulas, seraya menambahkan bahwa Sennheiser masih perlu memberi jarak harga yang lebih tegas agar semakin kompetitif.
Sayangnya, ada satu fitur yang absen: Auracast. Teknologi berbagi audio ke beberapa perangkat sekaligus ini sudah dimiliki Sony dan Bose, bahkan Bose menambahkannya lewat pembaruan firmware. Ketiadaan Auracast bisa menjadi pertimbangan bagi pengguna yang sering menonton bersama atau berbagi audio di ruang publik. Selain itu, Momentum 5 baru mengusung Bluetooth 5.4, meski Sennheiser menjanjikan kesiapan Bluetooth 6.0 melalui pembaruan perangkat lunak di masa depan.
Di pasar Indonesia, segmen headphone premium dengan ANC memang masih ceruk, tetapi pertumbuhannya didorong oleh gaya hidup urban dan kerja hibrida. Kehadiran Momentum 5 dengan baterai yang bisa diganti sendiri berpotensi mengubah ekspektasi konsumen lokal: perangkat audio mahal tidak lagi sekadar soal kualitas suara, tetapi juga umur pakai dan kemudahan servis. Distributor resmi Sennheiser di Tanah Air belum mengumumkan harga pasti, namun dengan kurs saat ini, banderol US$400 setara Rp6,4–6,6 juta—masih di bawah Sony dan Bose yang sering dijual di atas Rp7 juta.
Ke depan, langkah Sennheiser ini bisa memicu tekanan bagi kompetitor untuk menghadirkan desain yang lebih ramah reparasi. Jika tren ini berlanjut, konsumen akan semakin kritis terhadap produk audio sekali pakai. Pertanyaannya, apakah Sony dan Bose akan mengikuti jejak serupa, atau justru mempertahankan strategi baterai tertanam demi alasan ketahanan air dan bobot lebih ringan?



