Smartwatch Samsung Galaxy Deteksi AFib, Selamatkan Nyawa Pria dari Operasi Jantung Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Joseph Holycross, 39 tahun, mengalami atrial fibrillation yang terdeteksi oleh Galaxy Watch 4 Classic miliknya, yang mendorongnya segera ke rumah sakit dan menjalani operasi jantung terbuka.
- Fitur ECG pada smartwatch, meski bukan alat medis, terbukti mampu memberikan peringatan dini yang akurat dan berpotensi menyelamatkan nyawa.
- Kejadian ini menyoroti pentingnya regulasi dan adopsi teknologi wearable di Indonesia untuk deteksi dini penyakit kardiovaskular.

Seorang pria berusia 39 tahun di Amerika Serikat nyaris kehilangan nyawanya akibat gangguan irama jantung yang tidak disadari. Berkat peringatan dari jam tangan pintar Samsung Galaxy Watch 4 Classic, Joseph Holycross dapat segera mendapatkan penanganan medis dan menjalani operasi jantung terbuka. Insiden ini kembali memicu diskusi tentang peran teknologi wearable dalam deteksi dini penyakit kardiovaskular.
Holycross awalnya merasakan detak jantungnya tidak normal, namun ia menganggapnya sebagai kelelahan akibat pekerjaan, mengurus empat anak, dan konsumsi kopi berlebihan. Dorongan istrinya yang melihat ia juga sesak napas membuatnya melakukan pemeriksaan elektrokardiogram (ECG) melalui jam tangannya. Hasilnya menunjukkan atrial fibrillation (AFib), kondisi irama jantung tidak teratur yang dapat memicu stroke, serangan jantung, bahkan gagal jantung. Setelah seminggu pemeriksaan di rumah sakit, ia dinyatakan membutuhkan operasi. Dokter memperingatkan bahwa tanpa intervensi tepat waktu, ia bisa mengalami stroke atau serangan jantung dan mungkin tidak akan hidup hingga usia 45 tahun.
Kejadian ini bukan yang pertama. Apple Watch juga sering menjadi sorotan dalam cerita serupa, di mana fitur deteksi AFib membantu pengguna menyadari masalah jantung sebelum diagnosis medis. Meski smartwatch bukan perangkat medis, kemampuannya memantau detak jantung 24/7 dan memberikan peringatan dini telah terbukti memberikan nilai tambah yang signifikan. Samsung Galaxy Watch 4 Classic yang digunakan Holycross adalah model yang sudah berhenti mendapat dukungan perangkat lunak, namun fitur ECG-nya masih berfungsi dengan baik.
Fitur ECG pada smartwatch memang tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Alat ini menggunakan elektrokardiogram satu sadapan (single-lead) yang hanya memiliki satu elektroda, berbeda dengan ECG 12 sadapan di rumah sakit yang lebih presisi. Namun, akurasi deteksi AFib pada perangkat konsumen telah diakui, terutama setelah mendapat persetujuan regulasi di negara tempat perangkat dijual. Holycross sendiri mengulang tes beberapa kali sebelum memutuskan ke ruang gawat darurat, dan hasilnya konsisten.
"Dokter terkesan dengan akurasi jam tangan dalam mendeteksi AFib," ujar Holycross, seperti dikutip dari sumber berita teknologi.
Di Indonesia, penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskular menyumbang sekitar 35% dari total kematian. Deteksi dini menjadi kunci, namun akses ke layanan kesehatan dan kesadaran masyarakat masih terbatas. Kehadiran smartwatch dengan fitur ECG dapat menjadi solusi potensial, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko. Meski demikian, harga perangkat premium dan regulasi alat kesehatan menjadi hambatan. Saat ini, belum semua fitur kesehatan pada smartwatch mendapat izin edar dari Kementerian Kesehatan RI, sehingga penggunaannya sebagai alat bantu diagnosis masih terbatas.
Ke depan, integrasi teknologi wearable dengan sistem kesehatan nasional dapat menjadi terobosan. Jika diatur dengan tepat, data dari smartwatch dapat membantu dokter memantau pasien secara jarak jauh dan memberikan intervensi lebih cepat. Namun, tanpa edukasi yang memadai, risiko misinterpretasi data oleh pengguna awam tetap ada. Kisah Holycross menunjukkan bahwa kombinasi antara teknologi dan kepekaan terhadap gejala tubuh dapat menyelamatkan nyawa. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap memanfaatkan potensi ini secara luas?



