Uskup Washington yang Tantang Trump 'Berbelas Kasih' Umumkan Pengunduran Diri
Baca dalam 60 detik
- Mariann Edgar Budde, uskup Episkopal Washington DC, akan meninggalkan jabatannya pada 3 Juni 2028 setelah penahbisan uskup baru.
- Ia menjadi sorotan nasional setelah meminta Donald Trump menunjukkan belas kasih kepada imigran dan komunitas LGBTQ+ dalam khotbahnya.
- Pengunduran diri ini menandai berakhirnya kepemimpinan uskup perempuan pertama di keuskupan tersebut sejak 2011.

Uskup Episkopal Washington DC, Rev Mariann Edgar Budde, mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan yang telah diembannya sejak 2011. Keputusan ini disampaikan melalui surat resmi yang menyebutkan bahwa ia akan meninggalkan posnya pada 3 Juni 2028, setelah penahbisan dan ordinasi uskup diosesan yang baru. Budde, 66 tahun, adalah perempuan pertama yang memimpin keuskupan Episkopal Washington dan sebelumnya menjabat sebagai rektor Gereja St John’s Episcopal di Minneapolis selama 18 tahun.
Dalam suratnya, Budde menyatakan bahwa keputusan ini diambil setelah berkonsultasi dengan pimpinan diosesan dan kantor Uskup Presiding. “Saya tidak mengambil keputusan ini dengan ringan atau sendirian, dan tidak akan mudah mengucapkan selamat tinggal kepada diosesan yang saya cintai,” tulisnya. Pekan depan, komite tetap akan menguraikan langkah-langkah yang diperlukan, termasuk pembentukan dua komite untuk mempersiapkan pemilihan uskup berikutnya.
Nama Budde mencuat ke panggung nasional setelah khotbahnya pada pelantikan kedua Donald Trump. Dalam sermon itu, ia meminta presiden untuk menunjukkan belas kasih kepada imigran dan komunitas LGBTQ+, khususnya anak-anak gay, lesbian, dan transgender dari berbagai latar politik yang, menurutnya, “takut akan hidup mereka”. Permintaan tersebut memicu reaksi keras dari Trump, yang melalui media sosial menuntut permintaan maaf. “Ia membawa gerejanya ke dunia politik dengan cara yang sangat tidak sopan. Nada bicaranya kasar, tidak meyakinkan, dan tidak cerdas,” ujar Trump. “Selain pernyataannya yang tidak pantas, kebaktian itu sangat membosankan dan tidak menginspirasi. Ia tidak pandai dalam pekerjaannya! Ia dan gerejanya berutang permintaan maaf kepada publik!”
Ini bukan pertama kalinya Budde berselisih dengan Trump. Pada masa jabatan pertama Trump, ia menulis opini di New York Times yang mengkritik aksi Trump berfoto sambil memegang Alkitab di depan Gereja St John’s Episcopal, setelah aparat federal menggunakan kekerasan untuk membubarkan demonstran damai yang memprotes kematian George Floyd. Budde menulis bahwa Trump “menggunakan simbol-simbol sakral untuk menyelubungi dirinya dengan mantel otoritas spiritual, sementara menganut posisi yang bertentangan dengan Alkitab yang dipegangnya”.
Kepemimpinan Budde di Keuskupan Washington juga ditandai dengan komitmennya terhadap keadilan sosial dan inklusi. Meskipun menghadapi tekanan politik, ia tetap konsisten menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam surat pengunduran dirinya, ia menegaskan akan memastikan transisi kepemimpinan yang kuat dan sehat. “Bersama staf diosesan dan badan-badan kepemimpinan, saya akan melakukan segala daya untuk memastikan diosesan ini sekuat dan se sehat mungkin untuk transisi kepemimpinan ini. Saya berdoa untuk semua yang terlibat, dan terutama untuk orang yang Tuhan persiapkan untuk melayani sebagai uskup kesepuluh Keuskupan Washington,” pungkasnya.
Pengunduran diri Budde menimbulkan pertanyaan tentang arah masa depan Keuskupan Episkopal Washington, terutama dalam konteks politik Amerika yang semakin terpolarisasi. Apakah penerusnya akan melanjutkan tradisi vokal dalam isu-isu sosial, atau justru mengambil pendekatan yang lebih konservatif? Sementara itu, bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bagaimana pemimpin agama dapat berperan sebagai suara moral di tengah dinamika kekuasaan, sekaligus menghadapi risiko politisasi. Dunia akan menyaksikan bagaimana warisan Budde dipertahankan atau diubah oleh uskup berikutnya.



