Whittaker Lolos Dramatis di Eliminator IBF, Wallace Nyaris Bikin Kejutan
Baca dalam 60 detik
- Ben Whittaker meraih kemenangan angka atas Lyndon Wallace dalam duel eliminasi IBF, meski nyaris tumbang di ronde terakhir.
- Kemenangan ini membuka jalan Whittaker menantang Dmitrii Bivol, namun jadwal pertarungan diperkirakan baru terwujud musim panas tahun depan.
- Promotor Eddie Hearn tidak menutup peluang rematch, sementara kedua petinju mengakui kesalahan masing-masing.

Ben Whittaker mempertahankan rekor tak terkalahkannya setelah melewati ujian berat melawan Lyndon Wallace dalam laga eliminasi IBF kelas berat ringan, Minggu dini hari WIB. Petinju berjuluk "The Surgeon" itu menang angka mutlak, tetapi kemenangan tersebut nyaris berubah menjadi bencana di ronde penutup.
Selama sembilan ronde pertama, Whittaker tampil dominan. Ia mengandalkan jab, mobilitas, dan interaksi dengan penonton yang membuatnya terlihat mengendalikan pertarungan. Namun, situasi berbalik pada ronde ke-10 ketika Wallace mulai mendaratkan serangkaian pukulan kiri southpaw yang mengguncang Whittaker dan membangunkan atmosfer arena.
Puncaknya terjadi di ronde ke-12. Wallace menggempur Whittaker tanpa henti, menjatuhkannya tiga kali—dua di antaranya karena Whittaker menarik Wallace ke bawah. Wasit tidak menghitung knockdown, tetapi Whittaker terlihat kehabisan tenaga dan hanya bertahan hingga bel berbunyi. Skor akhir 117-111, 116-112, dan 115-113 tetap memberinya kemenangan.
Kemenangan ini seharusnya menjadi batu loncatan bagi Whittaker untuk menantang Bivol, yang saat ini memegang sabuk juara terpadu. Namun, jadwal Bivol yang sudah terisi menghadapi Callum Smith pada 12 Desember membuat peluang Whittaker baru terbuka pada pertengahan tahun depan. Promotor Eddie Hearn menyatakan bahwa duel tersebut kemungkinan tidak akan terwujud sebelum musim panas, tetapi ia tidak menutup kemungkinan menggelar rematch dengan Wallace—sesuatu yang disambut baik oleh kedua kubu.
"Pertarungan ini terlalu mudah, sehingga saya kehilangan fokus," aku Whittaker usai laga. Sementara Wallace mengakui bahwa ia baru mulai memberikan tekanan terlalu terlambat.
Bagi Whittaker, insiden di ronde 12 menjadi peringatan keras. Dominasi sembilan ronde nyaris sirna karena kelengahan dan kelelahan. Jika ia benar-benar menghadapi Bivol—petinju dengan reputasi sebagai salah satu yang terbaik di kelasnya—kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Whittaker perlu memperbaiki kondisi fisik dan ketajaman mentalnya jika ingin bersaing di level elite.
Di sisi lain, penampilan Wallace di dua ronde terakhir menunjukkan bahwa ia masih memiliki daya juang dan pukulan yang berbahaya. Meski kalah, ia berhasil membuat Whittaker terlihat rapuh. Rematch bisa menjadi jalan bagi Wallace untuk membuktikan bahwa ia mampu tampil konsisten sejak awal, bukan hanya di saat-saat kritis.
Dengan lanskap kelas berat ringan yang semakin kompetitif, pertanyaan besarnya adalah apakah Whittaker mampu memanfaatkan peluang ini sebaik mungkin, atau justru kembali tergelincir seperti di ronde 12. Sementara itu, para penggemar tinju di Indonesia mungkin belum bisa menyaksikan langsung duel ini, tetapi dinamika di kelas berat ringan selalu menarik untuk diikuti, terutama menjelang pertarungan besar Bivol vs Smith akhir tahun nanti.



