Dokumenter Matthew Perry Tayang, Lima Bintang Friends Pilih Diam
Baca dalam 60 detik
- Netflix akan merilis The One About Matthew Perry pada 27 Oktober, namun Jennifer Aniston, Courteney Cox, Lisa Kudrow, Matt LeBlanc, dan David Schwimmer menolak tampil.
- Adik mendiang, Mia Perry Bowick, akhirnya buka suara untuk pertama kali, sementara sutradara Mary Robertson menyoroti sisi kemanusiaan di balik sosok Chandler Bing.
- Keputusan para bintang Friends mencerminkan batas antara duka publik dan privasi, sekaligus menandai pergeseran cara industri hiburan mengemas kisah selebriti yang telah tiada.

Netflix akan merilis dokumenter tiga bagian berjudul The One About Matthew Perry pada 27 Oktober mendatang. Namun, lima aktor utama Friends—Jennifer Aniston, Courteney Cox, Lisa Kudrow, Matt LeBlanc, dan David Schwimmer—dilaporkan menolak permintaan untuk tampil dalam proyek tersebut. Penolakan ini mencuat ke publik setelah sumber internal membocorkan detail produksi ke media Amerika Serikat.
Menurut sumber yang dikutip Page Six dari New York Post, tim produksi telah menghubungi kelima bintang itu secara resmi. "Mereka dihubungi dan memutuskan untuk tidak berpartisipasi," ujar sumber tersebut. Alih-alih menghadirkan wajah-wajah yang selama ini identik dengan Perry, dokumenter ini justru memberi ruang bagi sahabat dan kolega lain yang menyimpan kenangan pribadi tentang mendiang.
Perry meninggal pada Oktober 2023 di usia 54 tahun akibat efek akut ketamin. Kabar duka itu mengguncang penggemar di seluruh dunia, terutama karena ia lama berjuang melawan kecanduan yang kerap ia bagikan secara terbuka. Dalam konteks itulah dokumenter ini diposisikan: bukan sekadar mengenang aktor, melainkan membuka lapisan kehidupan yang jarang tersentuh kamera.
Penolakan Jennifer Aniston menjadi sorotan tersendiri. Sumber kedua menyebut bahwa aktris berusia 57 tahun itu tidak ingin menunjukkan duka secara terbuka. "Tidak mungkin Jen melakukan hal seperti itu. Dia tidak akan duduk dan menangis di depan kamera. Dia tidak ingin mengulang kembali semuanya dan menjadi begitu publik," kata sumber tersebut. Pernyataan ini menggarisbawahi bagaimana selebriti kerap menghadapi tekanan ganda: di satu sisi dituntut tampil otentik, di sisi lain berhak menjaga ruang privasi.
"Butuh waktu bagi saya untuk merasa siap membagikan kenangan ini dan bagaimana rasanya mencintai Matthew dalam segala kompleksitas hidupnya—melihatnya sebagai manusia utuh, bukan hanya sebagai Chandler, dan bukan hanya sebagai seseorang yang bergulat dengan kecanduan," ujar Mia Perry Bowick kepada Tudum.
Mia, yang selama ini jarang tampil di publik, memilih berbicara karena ingin menunjukkan sosok kakaknya secara lebih lengkap. Ia menyebut Matthew membentuk dirinya menjadi pribadi seperti sekarang. "Matthew memiliki hati yang indah dan semangat yang murah hati. Bahkan di masa-masa tergelapnya, ia masih bisa membuat Anda tertawa dan merasa dicintai," tambahnya. Kesaksian ini menjadi jangkar emosional dokumenter, sekaligus penyeimbang dari narasi media yang kerap mereduksi Perry pada tragedi kecanduannya.
Sutradara Mary Robertson menegaskan bahwa proyek ini bukan eksploitasi duka, melainkan upaya memberi panggung bagi mereka yang benar-benar mengenal Perry. Ia menyebut mendiang sebagai "salah satu jenius komedi zaman kita" dan mengakui bahwa publik hanya mengetahui sebagian kecil dari kisah hidupnya. "Kami membuat serial ini agar orang-orang yang mengenal dan mencintai Matthew dapat mengungkap sosok di balik figur publik tersebut," ujarnya.
Keputusan para bintang Friends untuk absen bisa dibaca sebagai pergeseran sikap di Hollywood. Jika dulu dokumenter selebriti nyaris selalu menuntut kehadiran orang-orang terdekat, kini batas antara narasi publik dan hak privasi semakin diperhatikan. Penolakan mereka bukan berarti tidak berduka, melainkan memilih cara sendiri untuk mengenang rekan yang telah bersama mereka selama satu dekade produksi.
Bagi penggemar di Indonesia, fenomena ini juga relevan. Budaya pop Tanah Air kerap memperlakukan duka selebriti sebagai tontonan, terutama di media sosial. Kasus Perry dan Friends bisa menjadi cermin: sejauh mana publik berhak menuntut ekspresi emosional dari figur yang sedang berduka? Dan apakah dokumenter semacam ini benar-benar menghormati yang telah tiada, atau justru memperpanjang konsumsi atas tragedi pribadi?
Dengan tanggal tayang yang semakin dekat, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana Netflix akan menyeimbangkan antara daya tarik komersial dan etika representasi. Jika berhasil, The One About Matthew Perry bisa menjadi preseden bagi dokumenter selebriti yang lebih manusiawi. Jika gagal, ia hanya akan menjadi tontonan lain yang menguap setelah trending. Publik akan menilai mulai 27 Oktober.



