Stella Buka Suara Soal Defisit Kecepatan Norris: Bukan Salah Mesin Mercedes, tapi Ada yang Ganjil
Baca dalam 60 detik
- Andrea Stella mengonfirmasi Norris kehilangan 0,1โ0,2 detik per lap akibat kurangnya top speed di lintasan lurus.
- McLaren enggan menyalahkan Mercedes dan menduga ada faktor sasis atau drag yang belum teridentifikasi.
- Perbaikan baru bisa diuji di Singapura, sementara balapan di Bahrain menjadi ujian berat bagi Norris.

Kepala tim McLaren, Andrea Stella, akhirnya angkat bicara mengenai penyebab defisit kecepatan Lando Norris di lintasan lurus yang kembali menghantui sesi kualifikasi Formula 1 Grand Prix Bahrain. Menurut Stella, masalahnya bukan sekadar tenaga mesin, melainkan kombinasi kompleks antara unit daya Mercedes dan karakteristik sasis yang belum sepenuhnya terurai.
Norris sendiri mengaku frustrasi karena kehilangan waktu di setiap trek lurus. "Setiap kali saya keluar dari tikungan dengan baik, saya tetap lebih lambat di ujung lintasan lurus. Itu menyakitkan untuk dilihat terus-menerus," ujarnya. Keluhan ini muncul setelah ia merasakan defisit serupa pada pekan sebelumnya di Baku, dan kini terulang di Sakhir.
Stella menjelaskan bahwa mobil Norris mengalami kekurangan akselerasi dan kecepatan puncak di area yang dibatasi tenaga. "Kami melihat mobil Lando sedikit lebih lambat dalam hal akselerasi dan top speed, dengan parameter lain yang sama. Selisihnya mungkin hanya 1โ2 km/jam, angka yang sangat kecil dan sulit terdeteksi secara kasat mata," papar pria asal Italia itu. Namun, dalam balapan sekelas F1, kehilangan sekecil itu berdampak besar pada catatan waktu.
Stella menegaskan bahwa timnya tidak menuding Mercedes High Performance Powertrains sebagai biang keladi. "Kami tidak sedang menyoroti unit daya. Kami hanya menyoroti kurangnya kecepatan di lintasan lurus, dan itu tanggung jawab kami untuk mengatasinya," tegasnya. Ia menyadari bahwa masalah bisa berasal dari parameter sasis, drag, atau bahkan faktor di luar jangkauan sensor.
"Ini sulit dipantau karena jika itu masalah deployment, kami bisa melihatnya. Tapi ini mungkin terkait parameter lain yang tidak terbaca sensor." โ Andrea Stella
Analisis awal menunjukkan bahwa defisit terutama terjadi di sektor akhir, di mana rekan setimnya, Oscar Piastri, mampu mencapai kecepatan lebih tinggi antara Tikungan 13 dan 14 serta di lintasan lurus menuju Tikungan 15. Perbedaan ini mengindikasikan adanya ketidakseimbangan antara performa mesin dan efisiensi aerodinamis.
Meski demikian, Stella optimistis ada ruang perbaikan. Ia berencana melakukan perubahan pada balapan berikutnya di Singapura. "Kami akan melihat semua parameter yang mungkin dan melakukan perubahan lebih lanjut, tetapi itu baru bisa dilakukan untuk Singapura," tambahnya. Sementara itu, Norris harus bertarung di Bahrain dengan kondisi mobil yang belum ideal.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat bahwa persaingan juara tidak hanya soal kecepatan murni, tetapi juga kemampuan tim mendiagnosis masalah teknis secara cepat. McLaren, yang tengah bersaing ketat di papan atas, dituntut untuk segera menemukan solusi sebelum defisit ini merusak peluang Norris di klasemen.
Pertanyaannya, akankah McLaren mampu menutup celah sebelum terlambat? Atau justru kelemahan ini menjadi titik balik yang menguntungkan rival seperti Red Bull dan Ferrari?



