F1 2026 Tanpa Balapan Basah, Sepang Dinilai Lokasi Paling Ideal
Baca dalam 60 detik
- Musim F1 2026 belum sekali pun menggelar balapan atau sesi latihan basah meski sudah memasuki putaran ke-16.
- FIA merevisi regulasi cuaca basah dengan menaikkan suhu selimut ban intermediate, membatasi daya listrik, dan melarang mode dorongan.
- Pirelli menilai Sepang sebagai sirkuit terbaik untuk menguji ban basah karena aspal kasar, suhu tinggi, dan elevasi yang membantu drainase.

Formula 1 musim 2026 telah melewati 16 seri tanpa sekali pun menggelar balapan atau sesi latihan dalam kondisi basah. Ancaman hujan beberapa kali muncul, tetapi aksi di lintasan selalu berlangsung kering. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang kesiapan regulasi teknis anyar dan performa ban basah.
FIA sebelumnya mengubah sejumlah aturan untuk mengatasi kekhawatiran keselamatan di cuaca basah. Perubahan itu mencakup peningkatan suhu selimut ban intermediate, pembatasan daya listrik, dan larangan penggunaan mode dorongan saat hujan. Namun, para pembalap masih menyuarakan keraguan. Isack Hadjar menyebut kondisi tersebut "berbahaya", sementara Pierre Gasly mengakui pengalaman pertamanya dengan mobil 2026 di lintasan basah sangat buruk.
Gasly, pembalap Alpine, menilai Sepang International Circuit sebagai lokasi paling masuk akal untuk balapan basah perdana musim ini. Menurutnya, karakter aspal yang kasar, suhu udara tinggi, dan adanya perubahan elevasi membuat sirkuit di Malaysia itu mampu mengurai genangan air dengan cepat. "Dari semua sirkuit musim ini, kalau ada yang bagus untuk hujan, mungkin di sini," ujarnya kepada Motorsport.com. Ia membandingkan dengan Las Vegas yang bersuhu dingin dan jauh lebih rumit jika diguyur hujan.
Pandangan senada datang dari pemasok ban Pirelli. Kepala insinyur Simone Berra menyatakan bahwa Sepang adalah tempat ideal untuk mengumpulkan data ban basah dari tim dan pembalap. "Saya ingin mendapat umpan balik, tidak hanya dari tes kami, tetapi juga dari balapan normal," kata Berra. Ia mengingatkan bahwa saat di Montreal, kondisi dingin dan sirkuit berenergi rendah disebut sebagai "badai sempurna", tetapi di Malaysia situasinya berbeda total.
Perbedaan utama terletak pada risiko overheating. Di Montreal, pembalap kesulitan memanaskan ban; di Sepang, ban justru berpotensi terlalu panas karena suhu tinggi dan aspal kasar. "Kami bisa berakhir pada situasi overheating, terutama jika hujan lalu cepat mengering," jelas Berra. Efek panas berlebih itu, menurutnya, bisa menjadi faktor penting yang memengaruhi strategi balapan.
"Saat hujan di sini, curahnya sangat besar dan saya melihat ban full wet sebagai ban balapan yang lebih disukai. Itu mungkin untuk pertama kalinya, karena biasanya tim lebih memilih intermediate." โ Simone Berra, Kepala Insinyur Pirelli
Berra juga menyoroti bahwa tim umumnya enggan memakai ban full wet, tetapi di Sepang justru sebaliknya. Hujan monsun yang deras menuntut pembuangan air maksimal, sehingga ban full wet bisa menjadi pilihan utama. "Ini mungkin tahun pertama kami mencapai putaran 16 tanpa hujan. Tapi jika hujan datang, ban full wet tidak bisa diabaikan," tambahnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki nilai strategis. Sepang hanya berjarak sekitar satu jam penerbangan dari Jakarta, dan banyak penggemar F1 Tanah Air yang biasa menonton langsung. Jika balapan basah benar-benar terjadi, antusiasme penonton Indonesia berpotensi melonjak, sekaligus menjadi ajang pembuktian keselamatan generasi mobil 2026. Selain itu, pengalaman Sepang bisa menjadi rujukan bagi penyelenggara balapan di kawasan tropis, termasuk jika Indonesia kelak kembali menggelar event motorsport internasional.
Pertanyaannya, apakah hujan akan benar-benar turun di Sepang? Jika ya, momen itu tidak hanya menjadi ujian teknis, tetapi juga panggung bagi F1 untuk membuktikan bahwa regulasi barunya mampu menghadirkan balapan basah yang aman dan kompetitif. Jika tidak, musim 2026 akan tercatat sebagai musim tanpa setetes pun air di lintasanโsebuah anomali yang layak ditunggu jawabannya.



