Lewis Hamilton Pamer Outfit Monza dan Ferrari F40 Restorasi, Simbol Baru Gaya Pembalap
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton tampil dengan setelan hitam rancangan Khaite dan baret hitam saat tiba di Sirkuit Monza, mencuri perhatian penggemar.
- Ia juga mengendarai Ferrari F40 hasil restorasi yang dibeli setelah lama terbengkalai, menegaskan kecintaannya pada otomotif klasik.
- Penampilan ini memperkuat citra Hamilton sebagai ikon gaya yang mampu memadukan dunia balap dan mode, berpotensi memengaruhi tren fashion pria.

Lewis Hamilton kembali menjadi sorotan bukan hanya karena kecepatannya di lintasan, tetapi juga gaya busananya. Pada Grand Prix Italia September lalu, pembalap Ferrari itu tiba di Sirkuit Monza dengan mengendarai Ferrari F40 restorasi sambil mengenakan setelan hitam dan mantel cokelat muda. Penampilannya langsung menarik perhatian publik dan media sosial.
Menurut laporan Motorsport.com, detail outfit yang dikenakan Hamilton saat itu baru terungkap. Ia tampil dengan busana rancangan Khaite, sebuah merek yang sebenarnya tidak memproduksi lini khusus pria. Hamilton, bersama stylist jangka panjangnya Eric McNeal, mengenakan ensemble serba hitam yang mirip dengan tampilan di runway koleksi Fall 2026. Ia melengkapinya dengan baret hitam dan sepatu bot hitam, menciptakan kesan elegan namun tetap edgy.
Reaksi penggemar di Instagram pun beragam. Banyak yang memuji selera mode Hamilton, seperti komentar "He never misses" dan "Everything looks better on Lewis". Ada pula yang menyebut penampilannya sebagai definisi gaya sejati. Fenomena ini menunjukkan bagaimana Hamilton tidak hanya dianggap sebagai atlet, tetapi juga trendsetter yang pengaruhnya melampaui dunia balap.
Di balik gaya busananya, Hamilton juga mengungkapkan kecintaannya pada Ferrari F40. Mobil ikonik itu ia beli setelah sebelumnya menjual seluruh koleksi mobilnya. "Ini mobil impian saya sejak lama," tulisnya di Instagram. Ia menceritakan bagaimana ia menemukan F40 dalam kondisi berdebu setelah lama disimpan di garasi selama lebih dari tiga dekade. Mobil itu kemudian dikirim ke Maranello untuk direstorasi oleh teknisi Ferrari selama berminggu-minggu.
"Mobil-mobil ini adalah karya seni dan sangat langka. Ketika saya menemukannya, saya tahu harus membawanya pulang," ujar Hamilton dalam unggahannya.
Langkah Hamilton ini bukan sekadar pamer gaya. Ia tengah membangun identitas sebagai pembalap Ferrari yang tidak hanya fokus pada performa, tetapi juga pada warisan dan estetika. Sejak bergabung dengan tim Maranello tahun lalu, ia memang berusaha menyelami budaya Italia, termasuk dalam hal otomotif klasik. Hal ini sejalan dengan strategi Ferrari yang ingin memperkuat citra merek sebagai simbol kemewahan dan warisan balap.
Bagi industri mode, penampilan Hamilton di Monza menjadi bukti bahwa batas antara olahraga dan fashion semakin tipis. Kolaborasi dengan merek seperti Khaite, meski tanpa lini pria, menunjukkan keberanian dalam bereksperimen. Ini bisa menjadi preseden bagi merek lain untuk lebih fleksibel dalam menanggapi permintaan pasar akan busana gender-neutral. Di sisi lain, penggemar F1 di Indonesia juga merasakan dampaknya. Banyak yang mengagumi Hamilton bukan hanya karena prestasinya, tetapi juga karena gaya hidupnya yang inspiratif. Fenomena ini bisa mendorong minat terhadap mode dan otomotif di kalangan anak muda Indonesia.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Hamilton akan terus memadukan dunia balap dan mode dengan cara yang sama? Ataukah ini menjadi awal dari lini fashionnya sendiri? Yang jelas, setiap penampilannya selalu dinanti, baik di lintasan maupun di karpet merah.



