Banjir Thailand: Ular hingga Buaya Raksasa Masuk Permukiman, Warga Diminta WFH
Baca dalam 60 detik
- Banjir di Thailand memicu kemunculan satwa liar seperti ular dan buaya di area permukiman, termasuk seekor buaya raksasa bernama Nuea Thong yang dievakuasi dari kuil di Prachinburi.
- Pemerintah Thailand menutup sejumlah sekolah dan mengimbau warga bekerja dari rumah untuk mengurangi risiko paparan satwa dan memperlancar mobilitas di tengah genangan.
- Insiden ini menyoroti perlunya pengelolaan kawasan konservasi dan sistem drainase yang tangguh di kawasan perkotaan Asia Tenggara yang rawan banjir musiman.

Banjir yang merendam banyak wilayah Thailand memaksa satwa liar keluar dari habitatnya dan masuk ke kawasan permukiman. Ular dan buaya berukuran besar terlihat di beberapa titik, memicu respons cepat dari otoritas setempat.
Di Distrik Sanam Chai Khet, Provinsi Chachoengsao, seekor buaya sepanjang sekitar dua meter ditemukan berkeliaran dekat rumah warga pada Kamis (1/10). Petugas kepolisian terpaksa menembak mati reptil tersebut karena dianggap mengancam keselamatan. Anggota Dewan Provinsi Udon Thepwatee mengonfirmasi tindakan itu melalui Facebook, seraya berterima kasih kepada aparat yang bergerak cepat.
Sebelumnya, otoritas telah mengeluarkan peringatan agar warga tidak memasuki air banjir, memancing, atau mendekati saluran irigasi. Kenaikan permukaan air berpotensi memaksa reptil dan hewan air lainnya mencari tempat berlindung di area pemukiman.
Ancaman serupa juga terjadi di Bangkok. Curah hujan lebih dari 300 milimeter dalam 48 jam memicu banjir parah di ibu kota. Foto dan video ular yang berenang di genangan hingga melintasi jalan raya viral di media sosial. Selain itu, 10 rusa babi diselamatkan dari Siam Amazing Park, sementara beberapa lainnya ditemukan mati.
Di Provinsi Prachinburi, banjir mengancam keselamatan seekor buaya raksasa bernama Nuea Thong yang dipelihara di Wat Pho Thong. Pada Minggu (27/9), Kepala Distrik Si Maha Phot, Juthamas Buaphuean, menerima permintaan evakuasi dari pengelola kuil. Koordinasi dilakukan dengan Kementerian Perikanan, relawan Yayasan Ruamkatanyu, dan warga setempat. Petugas mengikat rahang dan kaki buaya dengan tali, lalu menggunakan derek truk untuk mengangkatnya ke kendaraan pengangkut. Nuea Thong kemudian dipindahkan ke penampungan sementara di kecamatan lain yang belum terdampak banjir.
"Beberapa wilayah di Bangkok masih menghadapi permukaan air yang tinggi," ujar Juru Bicara Pemerintah Thailand, Ekkapob Pianpises, seperti dilansir Gulf News.
Pemerintah Thailand turut menutup sejumlah sekolah dan mengimbau warga bekerja dari rumah. Imbauan ini membuat jalanan dan transportasi umum di Bangkok lebih lengang pada Senin pagi. Meski demikian, sistem drainase dinilai membantu menurunkan permukaan air sehingga aktivitas warga berangsur pulih.
Thailand memang memasuki puncak musim hujan pada September. Namun, banyak warga menilai curah hujan dan banjir tahun ini lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Fenomena ini sejalan dengan pola cuaca global yang semakin sulit diprediksi.
Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi banjir, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Interaksi antara manusia dan satwa liar di kawasan konservasi yang berdekatan dengan permukiman juga perlu diantisipasi, misalnya melalui early warning system dan tata ruang yang mempertimbangkan jalur evakuasi satwa.
Ke depan, pemerintah Thailand dan negara-negara Asia Tenggara perlu memperkuat infrastruktur drainase serta sistem peringatan dini yang terintegrasi. Tanpa itu, banjir tidak hanya mengancam keselamatan manusia, tetapi juga memicu konflik baru antara warga dan satwa liar yang kehilangan habitat.



