Cybercab Tesla Melewati Bulan Pertama yang Berat di Austin, Ekspansi Jadi Ujian Sesungguhnya
Baca dalam 60 detik
- Tesla baru mengantongi izin komersial untuk 169 unit Cybercab di Texas, jauh tertinggal dari 1.154 kendaraan otonom Waymo.
- Keluhan penumpang soal waktu tunggu hingga 45 menit dan lokasi antar-jemput yang meleset mewarnai debut layanan tanpa kemudi itu.
- NHTSA membuka audit kepatuhan keselamatan, sementara regulator dan petugas darurat menuntut mekanisme kendali manual untuk armada tanpa setir.

Tesla harus mempercepat perluasan armada Cybercab jika ingin mewujudkan ambisi Elon Musk di bisnis transportasi tanpa pengemudi. Sebulan setelah peluncuran komersial di Austin, Texas, pada 3 September 2026, perusahaan baru memperoleh otorisasi untuk 169 unit kendaraan otonom dua pintu itu—naik hampir empat kali lipat dari 45 unit saat debut, tetapi masih jauh dari skala yang dibutuhkan untuk mendominasi pasar.
Angka tersebut terpaut sangat jauh dari capaian Waymo, unit kendaraan otonom milik Alphabet. Hingga Jumat pekan lalu, Waymo telah mengantongi izin komersial untuk 1.154 kendaraan di Texas, termasuk 359 unit model Ojai terbaru. Secara nasional, Waymo mengoperasikan lebih dari 4.000 kendaraan tanpa pengemudi, melayani lebih dari 500.000 perjalanan berbayar setiap pekan, dan telah menempuh 270 juta mil otonom komersial. Waymo juga telah mengumumkan rencana ekspansi internasional ke London, Tokyo, dan Munich.
Kesenjangan itu menjadi tekanan tersendiri bagi Tesla. Penjualan mobil inti perusahaan mengalami penurunan pendapatan tahunan berturut-turut akibat persaingan dari produsen China seperti BYD dan Xiaomi yang menawarkan model lebih terjangkau dan inovatif. Saham Tesla sendiri tercatat turun 18% sepanjang tahun ini—satu-satunya raksasa teknologi yang gagal mencetak imbal hasil positif bagi investor. Laporan pengiriman kuartal ketiga yang lebih baik dari perkiraan sempat mengangkat saham hampir 5% pada Jumat, tetapi secara tahunan pengiriman masih menyusut 2%.
Umpan balik penumpang di Austin pun belum sepenuhnya positif. Sejumlah penumpang berbayar mengeluhkan waktu tunggu yang panjang, penjemputan dan pengantaran di lokasi yang salah, serta kendala teknis pada pintu kupu-kupu dan bagasi yang tidak menutup sempurna. Ethan McKanna, mahasiswa ilmu komputer Texas A&M yang juga pendiri situs pelacak RobotaxiTracker.com, mengatakan bahwa ia telah mencoba sekitar 30 perjalanan Cybercab. Ia memuji kenyamanan kabin dan kualitas berkendara yang halus, tetapi menilai pengalaman antar-jemput belum matang. "Permintaan sangat tinggi sehingga waktu tunggu sering kali 45 menit lebih," ujarnya, seraya menambahkan bahwa antrean mulai memendek dalam beberapa pekan terakhir seiring permintaan yang lebih merata. Menurut McKanna, Waymo lebih matang karena telah beroperasi komersial lebih lama dengan layanan 24 jam dan dukungan yang lebih baik.
Di sisi keselamatan, National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) membuka audit query setelah peluncuran Cybercab untuk memastikan kepatuhan terhadap standar federal. Tesla semula diminta menjawab daftar panjang pertanyaan keselamatan pada 30 September, namun memperoleh perpanjangan waktu. Kapten Pemadam Kebakaran Austin, Matt McElearney, mengungkapkan bahwa meski Tesla telah memberikan panduan darurat yang rinci, regulasi nasional atau negara bagian tetap diperlukan agar kendaraan tanpa setir dan pedal menyediakan mekanisme bagi petugas keselamatan publik untuk mengambil kendali—menggerakkan, mengarahkan, atau mematikan kendaraan—baik dalam situasi darurat maupun tidak. Ia juga mendesak adanya proses "sertifikasi dinamis" yang menguji performa kendaraan sepanjang siklus hidup produk, mengingat pembaruan perangkat lunak dapat mengubah perilaku kendaraan.
"Waymo telah menjalankan operasi komersial lebih lama, jadi mereka lebih matang dengan layanan 24/7 dan dukungan yang lebih baik." — Ethan McKanna, pengguna Cybercab dan pendiri RobotaxiTracker.com
Ekspansi ke luar Austin menjadi ujian berikutnya. Tesla berencana memperluas layanan ke San Antonio, Dallas, serta negara bagian Nevada dan Florida yang memiliki regulasi lebih ramah dan cuaca mendukung. Namun di California, tempat Waymo sudah lazim terlihat, Tesla belum memperoleh izin mengoperasikan kendaraan tanpa pengemudi di jalan umum. Janji Musk di Forum Ekonomi Dunia Davos pada Januari bahwa robotaxi akan "sangat, sangat luas" di AS pada akhir 2026 belum terwujud. Analis Cantor menekankan besarnya peluang ini, seraya mengingatkan bahwa manajemen pernah menyatakan Cybercab berpotensi menjadi kendaraan dengan volume terbesar dalam jajaran produk Tesla begitu produksi meningkat.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin penting. Pemerintah tengah menyusun kerangka regulasi kendaraan otonom, dan pelajaran dari Austin menunjukkan bahwa adopsi teknologi tanpa kemudi tidak cukup hanya soal kematangan algoritma. Diperlukan kesiapan infrastruktur, protokol darurat, serta penerimaan publik yang terbentuk dari pengalaman nyata, bukan sekadar janji efisiensi. Pertanyaannya, akankah Tesla mampu menutup ketertinggalan operasional dari Waymo sebelum gelombang kompetisi berikutnya datang?



