Perang AI AS-China Memanas: DeepSeek dan Moonshot Kumpulkan Miliaran Dolar Sebelum IPO
Baca dalam 60 detik
- DeepSeek dikabarkan hampir menutup putaran pendanaan senilai $12โ15 miliar dengan dukungan Tencent dan CATL, menjelang IPO awal 2027.
- Moonshot AI merampungkan pendanaan privat terakhir dengan valuasi $50 miliar dan menargetkan IPO di Hong Kong pada kuartal I 2027.
- OpenAI dan Anthropic juga bersiap menggelar IPO besar, menandai gelombang ekspansi modal di sektor AI global yang semakin intens.

Persaingan kecerdasan buatan (AI) antara Amerika Serikat dan China memasuki babak baru. Perusahaan rintisan AI asal China, DeepSeek, dilaporkan tengah menyelesaikan putaran pendanaan yang nilainya bisa mencapai $15 miliar, jauh melampaui target awal $12 miliar. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa investor global semakin agresif menanamkan modal di sektor AI, meski ketegangan geopolitik antara Washington dan Beijing belum mereda.
Menurut laporan Bloomberg, pendanaan DeepSeek didukung oleh raksasa teknologi Tencent dan produsen baterai CATL. Perusahaan ini berencana melantai di bursa saham pada awal 2027. Kepercayaan investor terhadap DeepSeek tidak lepas dari peluncuran model V4 Flash yang disebut-sebut mampu bersaing dengan OpenAI dan Anthropic, terutama dari sisi efisiensi biaya dan performa. Model ini menjadi bukti bahwa inovasi AI China tidak lagi sekadar pengikut, melainkan penantang serius di panggung global.
Sementara itu, Moonshot AI, pengembang chatbot Kimi, telah menuntaskan putaran pendanaan privat terakhirnya dengan valuasi menembus $50 miliar. Perusahaan ini menargetkan IPO di Hong Kong pada kuartal pertama 2027 dan berpotensi meraup dana hingga $5 miliar. Pendapatan berulang tahunan (ARR) Moonshot diproyeksikan mencapai $2 miliar pada Desember 2026, dua kali lipat dari posisi saat ini. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pasar AI China tidak hanya bergerak di ranah riset, tetapi juga mulai matang secara komersial.
Di sisi lain, OpenAI dikabarkan tengah mengupayakan pendanaan segar minimal $30 miliar dengan valuasi pra-IPO mencapai $1,4 triliun. Laporan Bloomberg menyebut sejumlah investor potensial, termasuk BlackRock dan dana-dana dari Uni Emirat Arab, yang dapat menyumbang hingga $10 miliar. Langkah ini menyusul penundaan IPO OpenAI, yang sebelumnya diharapkan menjadi salah satu penawaran saham terbesar dalam sejarah. Sementara itu, Anthropic dikabarkan tengah menjajaki IPO pada November 2026, setelah pemilu paruh waktu AS, dengan valuasi yang berpotensi menyentuh $2 triliun.
Gelombang pendanaan dan rencana IPO ini menandai pergeseran lanskap industri AI global. Jika sebelumnya perusahaan AI mengandalkan modal ventura, kini mereka mulai membidik pasar publik untuk mendanai ekspansi infrastruktur dan riset yang kian mahal. Persaingan antara AS dan China pun tidak lagi hanya soal teknologi, tetapi juga tentang siapa yang mampu mengendalikan arus modal dan ekosistem AI dunia.
Bagi Indonesia, dinamika ini membawa implikasi langsung. Sebagai negara dengan pasar digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia menjadi target ekspansi layanan AI dari kedua kubu. Pemerintah telah meluncurkan Strategi Nasional AI 2020โ2045, tetapi realisasinya masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan infrastruktur komputasi dan sumber daya manusia. Ketergantungan pada teknologi asing, baik dari AS maupun China, bisa memperbesar risiko kedaulatan data jika tidak diimbangi dengan pengembangan kapasitas lokal.
Di sisi lain, perusahaan teknologi Indonesia seperti GoTo dan Bukalapak telah mulai mengadopsi AI untuk efisiensi operasional. Namun, tanpa ekosistem pendanaan yang setara, startup AI lokal berpotensi tertinggal jauh. Pemerintah perlu mendorong kemitraan strategis dengan pemain global, sekaligus memperkuat regulasi perlindungan data agar tidak sekadar menjadi pasar bagi produk AI impor.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah AI akan mendominasi ekonomi global, melainkan siapa yang akan menikmati buahnya. Jika DeepSeek, Moonshot, OpenAI, dan Anthropic benar-benar melantai di bursa dalam dua tahun ke depan, peta kekuatan AI dunia akan semakin terkonsentrasi pada segelintir pemain besar. Akankah Indonesia hanya menjadi penonton, atau mampu mengambil peran dalam rantai nilai AI global?



