Meta Muse Dilaporkan Kumpulkan Data Relasi Pengguna, Picu Kekhawatiran Privasi
Baca dalam 60 detik
- Asisten AI Meta Muse disebut membuat profil setiap orang dalam hidup pengguna, dari keluarga hingga kolega, berdasarkan pesan, foto, dan memori interaksi.
- Meta berdalih pengumpulan konteks itu perlu agar agen AI berguna, tetapi peneliti keamanan menemukan prompt sistem yang memerintahkan pembuatan halaman relasi secara berkala.
- Kemunculan Muse menambah tekanan regulasi privasi di berbagai negara, termasuk Indonesia yang tengah menyusun aturan perlindungan data pribadi.

Asisten kecerdasan buatan milik Meta, Muse, telah diunduh lebih dari lima juta kali hanya dalam tiga pekan. Popularitas itu langsung memicu pertanyaan soal bagaimana aplikasi ini memperlakukan data pribadi pengguna dan orang-orang di sekitar mereka.
Laporan Wired bersama peneliti keamanan AI independen Karan Joshi mengungkap bahwa Muse diduga diinstruksikan untuk membuat "halaman untuk setiap orang dalam kehidupan pengguna". Halaman-halaman itu mencakup anggota keluarga, pasangan, teman, rekan kerja, hingga figur yang diikuti di media sosial. Menurut peneliti dari FutureSociety, sebuah loop bernama "Relationships" berjalan setiap jam di latar belakang komputer pengguna untuk memperbarui profil setiap orang.
Joshi mengaku berhasil membuat Muse membocorkan prompt sistemnyaโsemacam aturan internal yang mengatur perilaku chatbot. Meski Mashable tidak dapat memverifikasi secara independen, beberapa peneliti lain turut membagikan dugaan prompt tersebut dalam beberapa hari terakhir. Menurut dokumen yang beredar, Muse mengompilasi data dari pesan, foto, dan memori interaksi sebelumnya untuk menyusun halaman relasi. Setiap halaman memuat panduan cara berkomunikasi dengan individu terkait, mencatat utang atau janji yang pernah dibuat pengguna, jenis hubungan, tempat tinggal, preferensi, tanggal penting seperti ulang tahun, hingga latar belakang hubungan. Muse bahkan dapat merancang strategi untuk mempererat hubungan antara pengguna dan orang tersebut.
Juru bicara Meta, Daniel Roberts, membela praktik tersebut. Ia mengatakan bahwa agen AI memerlukan konteks tentang pengguna dan orang-orang yang berinteraksi dengannya agar dapat membantu mencapai tujuan. Roberts mencontohkan Muse dapat mengingat bahwa pengirim tagihan adalah tukang pipa yang pernah memperbaiki kamar mandi, atau bunga kesukaan pasangan. Meta menegaskan konteks itu dihimpun dari informasi publik dan apa yang dipilih untuk dibagikan pengguna, sesuai izin yang diberikan.
"For any agent to be useful and actually help you achieve your goals, it needs to have context about you and those you interact with." โ Daniel Roberts, juru bicara Meta
Meski demikian, laporan ini menyoroti risiko yang lebih luas. Apple baru-baru ini mengumumkan akan mengubah cara penanganan "Full Disk Access" sebagai respons terhadap agen AI seperti Muse. Pengguna Mac disebut mungkin tidak menyadari izin apa yang sebenarnya diberikan kepada alat pihak ketiga, termasuk risiko keamanan siber yang menyertainya.
Di Indonesia, kekhawatiran serupa mengemuka seiring meningkatnya adopsi asisten AI. Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) mewajibkan persetujuan eksplisit dan transparansi tujuan pemrosesan data. Praktik pengumpulan data relasi secara otomatis, seperti yang diduga dilakukan Muse, berpotensi menabrak prinsip minimalisasi data dan pembatasan tujuan. Pengguna di Indonesia perlu waspada terhadap izin akses yang diminta aplikasi AI, terutama yang beroperasi di latar belakang dan mengakses penyimpanan perangkat.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan hanya soal kemampuan teknis Muse, melainkan sejauh mana pengguna memahami dan mengendalikan data yang dikumpulkan. Tanpa pengawasan ketat dan edukasi privasi, asisten AI bisa berubah dari alat bantu menjadi mata-mata yang tak diminta. Apakah regulator di Indonesia akan mengambil langkah tegas, atau justru menunggu kasus serupa muncul di dalam negeri?



