45 Tahun Excalibur: Ketika John Boorman Gagal Bikin Lord of the Rings, Lalu Lahirkan Mahakarya Mitologi
Baca dalam 60 detik
- Excalibur, film arahan John Boorman yang rilis 1981, berawal dari proyek adaptasi The Lord of the Rings yang dibatalkan United Artists karena biaya membengkak.
- Boorman dan penulis Rospo Pallenberg mengalihkan gagasan itu ke kisah Arthur, menghasilkan film yang lebih menyerupai teater mitologis ketimbang narasi fantasi konvensional.
- Empat dekade lebih berlalu, Excalibur tetap menjadi rujukan sinematografi dan studi akademik, sekaligus penanda era keemasan sword-and-sorcery di Hollywood.

Empat puluh lima tahun setelah dirilis, Excalibur masih berdiri sebagai upaya paling berani menjembatani bahasa sinema dengan mitologi—sebuah pencapaian yang jarang disamai film fantasi mana pun. Disutradarai John Boorman, film ini bukan sekadar adaptasi legenda Arthur, melainkan eksperimen visual yang menolak tunduk pada pakem narasi modern.
Kisah di balik layar tak kalah dramatis. Menurut memoar Boorman, Adventures of a Suburban Boy, proyek ini bermula dari tawaran United Artists untuk mengadaptasi The Lord of the Rings. Boorman bersama Rospo Pallenberg menulis naskah lengkap, tetapi studio membatalkannya karena biaya produksi dianggap terlalu tinggi. Gagasan itu lalu dialihkan ke kisah Merlin dan Arthur, dengan banyak elemen visual serta desain set yang semula disiapkan untuk Middle-earth.
Boorman sendiri mengakui bahwa ia tidak sedang mengejar akurasi sejarah. Dalam wawancara 1981 dengan jurnalis Harlan Kennedy, ia menegaskan, "Film ini berkaitan dengan kebenaran mitis, bukan kebenaran historis." Ia menambahkan bahwa latar ceritanya sengaja ditempatkan di dunia imajinasi, semacam Middle-earth dalam istilah Tolkien.
Pendekatan Boorman sengaja tidak konvensional. Alur yang melompat-lompat, dialog yang terasa aneh, dan karakter yang berubah cepat kerap dikritik. Namun, bagi Boorman, itu semua adalah pilihan estetika. Excalibur lebih menyerupai pertunjukan panggung: setiap adegan adalah tableau, potret beku dari dunia peri Arthur yang hidup sekejap. Film ini tidak berusaha bercerita dalam pengertian tradisional, melainkan mencoba melakukan sesuatu yang jarang berhasil di layar: menuturkan mitos.
Seperti Iliad dan Odyssey Homer, Le Morte d'Arthur karya Thomas Malory—yang ditulis akhir abad ke-15—adalah kompilasi legenda yang berkembang berabad-abad. Mitos, baik dari peradaban Mycenaean maupun Eropa Abad Pertengahan Awal, mengekspresikan diri dengan cara yang fundamentally berbeda dari narasi modern. Boorman dan Pallenberg memahami hal ini, sehingga mereka tidak memaksakan struktur dramatis konvensional.
Referensi mitografis bertebaran. Ketika Arthur sakit, tanah pun layu dan menangis—citra yang berasal dari figur Fisher King, tetapi akarnya lebih tua lagi, sebagaimana diulas James George Frazer dalam The Golden Bough. Buku itu sering disebut lebih menginspirasi Excalibur ketimbang Le Morte d'Arthur. Boorman bahkan mengakui bahwa ia ingin menciptakan "kejelasan primal, seolah segala sesuatu terjadi untuk pertama kalinya."
"Saya mencoba menyarankan semacam Middle-earth, dalam istilah Tolkien." — John Boorman, 1981
Estetika film ini tak terlupakan. Para ksatria dan dame tampak seperti keluar dari lukisan Pre-Raphaelite: menggoda sekaligus mengesankan, erotis namun heroik. Mereka selalu dibingkai oleh dedaunan dan cahaya—elemen terpenting dalam film. Sejarawan seni Jean-Marc Elsholz pernah menganalisis Excalibur dari sudut teologi cahaya, di mana kilau hijau pada armor dan permukaan danau adalah pantulan cahaya spiritual dari Tuhan. Namun, Tuhan dalam Excalibur bukanlah Tuhan Kristen dalam tradisi Arthur. Boorman menyadari kekuatan mitos untuk bertransformasi. Dalam film, Sacred King dari tradisi Celtic, Fisher King, dan Holy Grail semuanya melebur ke dalam figur Arthur. Ketika Perceval menuntaskan pencarian, rahasia Grail terungkap, dan citra cawan digantikan oleh sosok Raja. Ikon religius itu bukan lagi representasi Kristenisasi, melainkan simbol kekuasaan politik—yang memicu tafsir bahwa film ini adalah pembelaan konservatif era Thatcher.
Setelah bertahun-tahun film fantasi dan trilogi The Lord of the Rings yang sesungguhnya, Excalibur tetap diakui sebagai pelopor kebangkitan sword-and-sorcery di layar lebar, meski film ini sebenarnya sulit digolongkan ke genre tersebut. Akar konseptualnya yang dalam membuatnya sering menjadi subjek studi akademik. Namun, yang paling patut dirayakan adalah kekuatan sinematografi dan komposisinya—dari adegan Arthur menemukan Lancelot dan Guinevere di hutan, hingga perjalanan terakhir Ksatria Meja Bundar dengan musim semi yang kembali mengiringi nada epik Carmina Burana karya Carl Orff.
Bagi penonton Indonesia, Excalibur menawarkan pelajaran tentang keberanian artistik di tengah industri yang kian terpolarisasi antara waralaba raksasa dan konten cepat saji. Film ini membuktikan bahwa visi sutradara yang tak kompromis bisa bertahan lintas generasi, bahkan ketika teknologi dan selera berubah. Di saat sinema global didominasi sekuel dan reboot, pertanyaannya: masih adakah ruang bagi eksperimen mitologis semacam ini di era streaming? Excalibur tersedia untuk disewa di Prime Video dan Apple, menjadi pengingat bahwa mitos tak pernah benar-benar mati—ia hanya menunggu untuk diceritakan ulang dengan cara yang berani.



