Isak Kembali Cedera, Liverpool Punya 'Nomor 9 Masa Depan' Berusia 18 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Alexander Isak dipastikan absen membela Swedia karena cedera paha, memicu kekhawatiran di Liverpool.
- Striker muda Will Wright mencetak enam gol dalam enam laga, mencuri perhatian sebagai calon penerus jangka panjang.
- Manajemen Liverpool dinilai cerdik merekrut Wright seharga ยฃ200 ribu dari Salford City, mengalahkan Arsenal.

Alexander Isak harus menepi dari agenda internasional Swedia akibat cedera paha, memantik kecemasan baru di Liverpool yang tengah membangun momentum bersama pelatih Andoni Iraola. Penyerang berharga ยฃ125 juta itu sejatinya baru saja menemukan ritme permainan, mencetak empat gol dalam lima pertandingan Premier League pertama musim ini, sebelum insiden tersebut memaksa ia kembali ke Merseyside lebih cepat dari jadwal.
Pelatih tim nasional Swedia, Graham Potter, menyebut masalah tersebut sebagai "gangguan kecil" dan menegaskan kepulangan Isak semata-mata untuk mengantisipasi jadwal padat. Meski demikian, kembalinya kompetisi domestik dalam waktu dekat tetap menjadi alarm bagi Iraola, terutama mengingat rekam jejak cedera Isak musim lalu yang sempat mengganggu konsistensinya.
Isak bukan satu-satunya penyerang tengah yang diragukan. Hugo Ekitike masih dalam proses pemulihan, sementara Lewis Koumas, 21 tahun, belum menunjukkan ketajaman mumpuni di level senior dengan torehan empat gol di Championship musim lalu. Kondisi ini membuka peluang bagi pemain muda untuk unjuk gigi, dan satu nama mencuat: Will Wright.
Wright, yang baru berusia 18 tahun, telah mencuri perhatian dengan ketajamannya di level U21. Mantan pemain Salford City itu kini menempati jajaran pencetak gol terbanyak Premier League 2, kompetisi yang levelnya jauh di atas usianya. Fleksibilitas dan instingnya di depan gawang membuatnya dijuluki sebagai calon "nomor 9 masa depan" Liverpool.
"Keputusan Isak kembali ke Merseyside diambil karena jadwal yang padat, bukan karena cedera serius," ujar Graham Potter, seperti dikutip dari pernyataan resminya.
Sejarah Liverpool menunjukkan bahwa akademi kerap melahirkan striker kelas dunia, dari Michael Owen hingga Robbie Fowler. Wright berpotensi mengikuti jejak tersebut, terlebih setelah aksi impresifnya melawan Rochdale di EFL Trophy, di mana ia melakukan solo run menakjubkan dan mencetak gol spektakuler ke atap gawang. Momen itu memperkuat keyakinan bahwa ia bisa segera dipromosikan ke tim senior.
Dari sudut pandang manajemen, keputusan FSG merekrut Wright dengan harga murah terbilang cerdas. Arsenal yang saat itu juga memburunya harus gigit jari. Dengan kontrak jangka panjang dan perkembangan pesat, Wright menjadi aset berharga di tengah inflasi harga striker muda di pasar transfer.
Meski demikian, lini depan Liverpool tetap bergantung pada Isak untuk jangka pendek. Jika cedera paha kembali memburuk, Iraola mungkin tak punya pilihan selain mempercayakan lini serang kepada pemain muda. Pertanyaannya, apakah Wright siap menerima beban sebesar itu, atau justru Koumas yang lebih dulu mendapat kesempatan? Yang jelas, persaingan menuju kursi nomor 9 Anfield mulai menghangat.



