Pelatih Vietnam Sebut Skor 9-2 Indonesia vs Bangladesh Fenomena Langka di Sepak Bola Modern
Baca dalam 60 detik
- Kim Sang-sik mengakui kemenangan 9-2 Timnas Indonesia atas Bangladesh sebagai anomali yang jarang ditemui dalam sepak bola kontemporer.
- Pelatih asal Korea Selatan itu menilai laga tersebut memperlihatkan sisi tak terduga sepak bola, meski ia hanya menyaksikan sebagian pertandingan.
- Vietnam kini mengalihkan fokus ke perebutan tempat ketiga melawan Malaysia dengan pendekatan mentalitas final.

Pelatih Timnas Vietnam, Kim Sang-sik, memberikan tanggapan mengejutkan terkait kemenangan telak 9-2 Timnas Indonesia atas Bangladesh pada laga FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Menurutnya, skor dua digit yang tercipta dalam satu pertandingan menjadi pemandangan yang nyaris punah di sepak bola modern, di mana pertahanan ketat dan taktik defensif kerap mendominasi.
Kim mengaku tidak menyaksikan pertandingan secara utuh, namun cukup untuk menangkap esensi laga yang berlangsung dramatis. "Saya menontonnya sekilas. Ada ketegangan dan keributan dalam pertandingan itu. Menurut saya, pertandingan seperti ini jarang terjadi di dunia sepak bola saat ini," ujar Kim dalam konferensi pers jelang laga perebutan tempat ketiga.
Kemenangan sembilan gol tanpa balas itu tidak hanya mengantarkan Indonesia ke final, tetapi juga menciptakan rekor tersendiri dalam sejarah turnamen regional. Kim menilai ledakan gol tersebut sebagai bukti bahwa sepak bola masih menyimpan ruang bagi kejutan yang tidak bisa diprediksi oleh statistik maupun analisis taktis. "Mereka mencetak sembilan gol, itu di luar dugaan. Tapi itulah mengapa sepak bola menyenangkan," tambahnya.
Bagi Vietnam, kekalahan tidak menjadi fokus saat ini. Kim menegaskan bahwa timnya tetap memiliki ambisi besar meski hanya berlaga di partai perebutan juara ketiga. Ia menyebut laga melawan Malaysia akan dipersiapkan dengan pendekatan mentalitas final, meskipun secara matematis tidak lagi memperebutkan gelar juara. "Malaysia melakukan banyak perubahan pada skuadnya, tapi itu tidak memengaruhi kami. Kami hanya fokus pada persiapan sendiri. Ini laga keempat kami, dan kami akan menghadapinya seperti partai puncak," tegasnya.
Pernyataan Kim menyoroti dinamika psikologis yang kerap muncul dalam turnamen sepak bola Asia Tenggara. Perebutan tempat ketiga sering dianggap sebagai laga hiburan, namun bagi pelatih asal Korea Selatan itu, menjaga momentum dan integritas kompetitif tetap menjadi prioritas. Hal ini juga menjadi sinyal bahwa Vietnam tidak ingin pulang dengan tangan kosong setelah menempuh perjalanan panjang di turnamen yang diikuti oleh tim-tim terbaik ASEAN.
Dari kacamata Indonesia, kemenangan 9-2 tersebut memperkuat posisi Tim Garuda sebagai salah satu kekuatan dominan di kawasan. Namun, ujian sesungguhnya baru akan datang di partai final. Konsistensi mencetak gol dalam jumlah besar perlu dibuktikan saat menghadapi lawan yang lebih solid dan disiplin. Publik sepak bola nasional tentu berharap ledakan gol semacam itu bukan sekadar anomali, melainkan bagian dari peningkatan kualitas permainan yang berkelanjutan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah skor besar seperti 9-2 akan menjadi tren baru dalam sepak bola ASEAN, atau justru menjadi catatan sejarah yang sulit diulang. Yang jelas, bagi Kim Sang-sik, laga tersebut telah memberikan pelajaran berharga bahwa sepak bola tidak pernah kehilangan daya kejutnya. Kini, perhatian beralih ke laga Vietnam vs Malaysia, yang akan menjadi ujian mental terakhir bagi kedua tim sebelum menutup perjalanan mereka di FIFA ASEAN Cup 2026.



