David Fincher Sutradarai Sekuel Resmi Once Upon a Time in Hollywood, Tayang Perdana November
Baca dalam 60 detik
- Netflix mengonfirmasi sekuel resmi Once Upon a Time in Hollywood disutradarai David Fincher, bukan Quentin Tarantino, dengan Brad Pitt kembali sebagai Cliff Booth.
- Film berjudul The Further Mis-Adventures of Cliff Booth ini akan tayang di IMAX selama dua minggu mulai 25 November sebelum debut streaming pada 23 Desember.
- Tarantino menulis naskah sekuel sekaligus menyiapkan novelisasi yang terbit 8 Desember, sementara proyek film ke-10 dan terakhirnya masih misterius.

Tujuh tahun setelah Once Upon a Time ... in Hollywood memikat penonton, sekuel resminya akhirnya dipastikan tayang. Kali ini, kursi sutradara tidak diisi Quentin Tarantino, melainkan David Fincher—sosok di balik Seven dan Fight Club. Film berjudul The Further Mis-Adventures of Cliff Booth itu akan memulai penayangan eksklusif di bioskop IMAX pada 25 November, sebelum mendarat di Netflix pada 23 Desember.
Keputusan menyerahkan kemudi kepada Fincher menandai pergeseran menarik dalam waralaba yang semula sangat personal bagi Tarantino. Sang penulis naskah tetap terlibat, tetapi estetika dan pendekatan naratif kini berada di tangan sutradara yang dikenal dengan gaya dingin, presisi, dan gelap. Bagi Netflix, langkah ini memperkuat posisinya sebagai rumah bagi proyek-proyek auteur yang berani mengambil risiko komersial.
Brad Pitt kembali memerankan Cliff Booth, stuntman yang membawanya meraih Piala Oscar sebagai Aktor Pendukung Terbaik. Jika film pertama berlatar 1969, sekuel ini melompat ke 1977—sebuah periode yang oleh Netflix disebut sebagai "Hollywood yang sangat berbeda". Era tersebut menandai transisi industri menuju blockbuster modern, yang mungkin menjadi kanvas bagi Fincher untuk mengeksplorasi sisi lain dari karakter Booth.
Selain Pitt, jajaran pemain yang telah dikonfirmasi mencakup Elizabeth Debicki, Scott Caan, Carla Gugino, Yahya Abdul-Mateen II, Peter Weller, Matt Groove, JB Tadena, Corey Fogelmanis, dan Karren Karagulian. Naskah ditulis Tarantino, yang hingga kini belum mengumumkan proyek film ke-10 sekaligus terakhirnya sebagai sutradara. Ketidakpastian ini justru menambah daya tarik: apakah ia benar-benar akan pensiun dari penyutradaraan, atau ada kejutan lain?
"Once Upon a Time ... in Hollywood adalah karya Tarantino yang paling tenang dan meditatif, ditutup dengan momen lembut yang mengontekstualisasikan semua yang sebelumnya—pada akhirnya, sebuah surat cinta," tulis kritikus Karen Han pada 2019.
Bagi pasar Indonesia, perilisan sekuel ini berpotensi menggairahkan kembali minat pada film-film Tarantino dan Fincher, terutama di kalangan penikmat sinema independen dan komunitas film. Meski belum ada konfirmasi jadwal tayang di jaringan bioskop Tanah Air, antusiasme global biasanya diikuti oleh platform streaming lokal yang mengejar hak distribusi. Fenomena ini juga mencerminkan bagaimana Netflix semakin agresif mengakuisisi proyek kelas atas untuk memperkuat posisinya di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Yang tak kalah menarik, Tarantino juga menyiapkan novelisasi berjudul The Adventures of Cliff Booth yang akan diterbitkan HarperCollins pada 8 Desember. Ini bukan kali pertama ia menulis prosa—sebelumnya ia merilis novel Once Upon a Time in Hollywood pada 2021. Langkah ini menunjukkan bahwa semesta Cliff Booth terus diperluas melalui medium berbeda, menjadikannya waralaba lintas format yang jarang terjadi di industri hiburan.
Dengan kombinasi Fincher, Pitt, dan naskah Tarantino, The Further Mis-Adventures of Cliff Booth berpotensi menjadi salah satu rilis paling diperbincangkan akhir tahun. Pertanyaannya, apakah chemistry yang dulu memikat masih bisa dipertahankan dalam visi baru? Dan akankah ini menjadi penutup tak resmi bagi era Tarantino sebelum ia benar-benar meninggalkan kursi sutradara?



