Solano Puji Tuan Rumah, Pakistan Tersingkir dari ASEAN Cup 2026
Baca dalam 60 detik
- Pakistan harus mengakhiri perjalanan di Grup B ASEAN Cup 2026 setelah kalah dari Vietnam pada laga terakhir.
- Pelatih Nolberto Solano menyoroti kelelahan fisik sebagai penyebab utama kekalahan dan mengapresiasi penyelenggaraan di Indonesia.
- Fokus Pakistan kini beralih ke turnamen di Bangladesh pada November mendatang sebagai ajang pembenahan.

Timnas Pakistan menutup petualangannya di Grup B FIFA ASEAN Cup 2026 dengan kekalahan dari Vietnam pada laga pamungkas, Jumat (2/10/2026). Meski tersingkir, pelatih Nolberto Solano tetap memberikan apresiasi tinggi kepada Indonesia sebagai tuan rumah dan menegaskan pengalaman ini menjadi modal berharga bagi sepak bola Pakistan.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Solano secara terbuka memuji kualitas penyelenggaraan serta pelayanan yang diberikan panitia lokal. Menurutnya, kesempatan berkompetisi di level Asia Tenggara memberi perspektif baru bagi skuadnya yang tengah membangun fondasi permainan.
"Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Indonesia dan panitia penyelenggara yang telah memberikan kesempatan untuk berpartisipasi di turnamen ini. Ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa bagi kami semua," ujar Solano.
Namun, di balik apresiasi tersebut, Solano tidak menutup mata terhadap kelemahan yang membuat Pakistan harus angkat koper lebih awal. Ia menyoroti ketahanan fisik pemain sebagai faktor krusial yang membuat timnya kehilangan kendali permainan, terutama di babak kedua.
"Kami tampil sangat baik dan disiplin pada babak pertama. Namun, di level kompetisi seperti ini, jika Anda tidak bisa menjaga kondisi kebugaran sepanjang laga, Anda akan mulai kehilangan bentuk permainan. Garis pertahanan kami mulai turun terlalu dalam dan memberikan banyak ruang bagi lawan," tambahnya.
Solano menilai penurunan stamina membuat formasi dan kedisiplinan bertahan Pakistan berantakan, sehingga Vietnam leluasa menguasai jalannya pertandingan. Kondisi ini menjadi catatan penting bagi staf pelatih untuk membenahi aspek fisik pemain ke depan.
Meski kecewa, Solano memilih untuk tidak berlama-lama larut dalam kekecewaan. Ia menegaskan bahwa kekalahan dan kelemahan yang terlihat sepanjang turnamen akan menjadi bahan evaluasi berharga untuk meningkatkan kualitas permainan Pakistan di masa mendatang.
Fokus Timnas Pakistan kini langsung dialihkan ke agenda internasional berikutnya. Solano mengonfirmasi bahwa anak asuhnya akan kembali berlaga pada turnamen di Bangladesh yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang. Ajang tersebut diharapkan menjadi panggung pembuktian perbaikan yang telah dilakukan.
Bagi Indonesia, pujian dari pelatih sekaliber Solano menjadi modal positif untuk citra sebagai tuan rumah event internasional. Keberhasilan menyelenggarakan turnamen dengan baik dapat memperkuat posisi Indonesia di kancah sepak bola Asia dan membuka peluang menjadi tuan rumah kompetisi bergengsi lainnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Pakistan mampu menerjemahkan evaluasi menjadi performa nyata di Bangladesh, dan sejauh mana Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk terus meningkatkan standar penyelenggaraan event olahraga di level regional.



