Verstappen dan Hadjar Sepakat: Red Bull Harus Bereksperimen Kini demi 2027
Baca dalam 60 detik
- Red Bull menyisakan tujuh hingga delapan balapan musim 2026 untuk menghindari tahun tanpa kemenangan pertama sejak 2015.
- Max Verstappen dan Isack Hadjar menilai pembelajaran untuk mobil 2027 lebih krusial ketimbang hasil balapan sisa musim.
- Paket Baku menjadi upgrade terakhir RB22, dengan perubahan besar tertunda akibat batas anggaran dan sasis.

Red Bull Racing menutup musim Formula 1 2026 dengan dua misi yang saling bertolak belakang: mengakhiri paceklik kemenangan yang mengancam menjadi yang pertama sejak 2015, sekaligus mengumpulkan data sebanyak mungkin untuk menyongsong regulasi baru 2027. Dengan tujuh atau delapan balapan tersisa—tergantung situasi di Timur Tengah—Max Verstappen dan Isack Hadjar justru menempatkan eksperimen teknis di atas hasil jangka pendek.
Verstappen secara terbuka menyebut bahwa proses belajar untuk musim depan lebih penting ketimbang mengejar kemenangan di sisa kalender. "Kami harus menunggu beberapa balapan ke depan untuk melihat performa mobil di berbagai karakter sirkuit. Itu justru bagus untuk kami," ujarnya. Menurut juara dunia empat kali itu, setiap akhir pekan menjadi kurva pembelajaran yang menentukan arah pengembangan RB23.
Hadjar, yang berhasil mengakhiri kutukan kursi kedua Red Bull, sepakat sepenuhnya. Pembalap Prancis itu bahkan menyatakan bahwa delapan balapan tersisa adalah kesempatan emas untuk mencoba segala hal, termasuk membuat kesalahan yang tidak akan terulang di 2027. "Kami harus mencoba semua hal, membuat semua kesalahan sekarang, dan melakukan semua pembelajaran agar tiba di 2027 siap melaju," kata Hadjar. Ia menegaskan tidak ada tekanan karena tim tidak sedang bersaing memperebutkan gelar.
Verstappen telah mengungkapkan bahwa ia memiliki gagasan tentang perubahan struktural besar untuk mobil 2027, termasuk upaya mencegah degradasi performa yang menghantui RB22. Namun, keterbatasan sasis dan plafon anggaran membuat modifikasi tersebut tidak mungkin dilakukan pada musim berjalan. "Untuk tahun depan, jika kami benar-benar ingin bersaing, kami perlu mengambil langkah yang jauh lebih besar. Itu berlaku untuk semuanya: mobil, unit daya, segala hal," tegasnya.
"Kami tidak sedang bertarung untuk kejuaraan, jadi bagi kami ini kurva pembelajaran besar. Tapi beberapa akhir pekan terakhir sudah jauh lebih baik dibanding awal musim." — Max Verstappen
Soal unit daya, Verstappen mengakui bahwa tanpa token ADUO, ruang gerak Red Bull terbatas. Meski demikian, ia menilai masih ada celah untuk penyempurnaan hal-hal kecil. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa kompleksnya persiapan menuju era regulasi baru yang menuntut keseimbangan antara performa mesin dan efisiensi aerodinamika.
Hadjar, yang ditanya apakah ia memiliki ide serupa dengan Verstappen tentang apa yang perlu diubah secara struktural pada RB23, menjawab dengan senyum penuh arti: "Ya, tentu saja. Dan kami sebagian besar sepakat tentang hal-hal itu." Keselarasan antara kedua pembalap menjadi sinyal positif bahwa arah pengembangan tim sudah bulat.
Bagi Red Bull, sisa musim 2026 bukan sekadar formalitas. Setiap data yang dikumpulkan dari sirkuit yang berbeda—mulai dari trek jalan raya hingga sirkuit permanen—akan menjadi fondasi bagi pengembangan mobil 2027. Kegagalan memanfaatkan periode ini bisa berujung pada keterpurukan berkepanjangan, terutama dengan rival seperti Mercedes dan Ferrari yang juga tengah bersiap menyambut regulasi baru.
Pertanyaannya kini: mampukah Red Bull mengubah tekanan menjadi inovasi, atau justru tersandung oleh eksperimen yang terlalu berani? Jawabannya akan terlihat bukan hanya di sisa balapan 2026, tetapi juga di grid start musim 2027.



