NVIDIA Vera CPU Tiba di Los Alamos, Jadi Fondasi Tiga Superkomputer Nuklir AS
Baca dalam 60 detik
- Los Alamos National Laboratory menerima sistem NVIDIA Vera CPU pertama untuk pengujian di testbed Darwin.
- Vera CPU akan menjadi tulang punggung tiga superkomputer masa depan: Mission, Vision, dan Veritas.
- Kedatangan perangkat keras ini menandai babak baru dalam kemitraan riset dan pengembangan CPU berperforma tinggi antara lab dan NVIDIA.

Los Alamos National Laboratory (LANL) resmi menerima sistem NVIDIA Vera CPU pertamanya, yang langsung dipasang di testbed Darwin untuk pengujian performa awal. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam kemitraan panjang antara laboratorium nuklir Amerika Serikat tersebut dan NVIDIA dalam pengembangan teknologi CPU berperforma tinggi.
Gary Grider, senior director for computing technology di Los Alamos, menyatakan bahwa laboratoriumnya akan menjadi salah satu institusi pertama di dunia yang menerima teknologi Vera CPU melalui kolaborasi yang telah terjalin lama. Sistem yang baru tiba berupa node MGX Vera CPU berpendingin udara, yang menggabungkan dua CPU Vera—masing-masing membawa 88 inti Olympus berbandwidth tinggi—dalam server dua soket. Kedua CPU terhubung melalui antarmuka NVLink Chip-to-Chip milik NVIDIA.
Pemasangan ini merupakan kelanjutan dari lebih dari satu dekade kerja sama codesain perangkat keras dan perangkat lunak antara kedua organisasi, setelah kesuksesan CPU Grace yang kini menggerakkan superkomputer Venado di laboratorium tersebut. Venado sendiri dibangun bersama oleh NVIDIA dan HPE.
Node Vera CPU yang kini terpasang di Darwin adalah cikal bakal bagi tiga superkomputer mendatang di Los Alamos: Mission, Vision, dan Veritas. Ketiganya akan mengandalkan kombinasi CPU Vera dan GPU Rubin NVIDIA. Mission dan Veritas secara khusus akan menggabungkan partisi CPU Vera dengan partisi NVIDIA Vera Rubin NVL-4 dan NVL-72 untuk mendukung pemodelan kompleks, simulasi, dan beban kerja AI agentik.
Perangkat keras tiba di Los Alamos pada Agustus, dan tim Darwin—didukung oleh Program Advanced Simulation and Computing dari National Nuclear Security Administration (NNSA)—segera memasang serta mengonfigurasi sistem. Pengujian performa dan stabilitas menyusul tak lama setelah tumpukan perangkat lunak diterapkan, dan sistem kini aktif mendukung pekerjaan benchmark serta kesiapan aplikasi.
Mission menonjol sebagai sistem Advanced Technology System pertama dari NNSA yang dibangun dari beberapa partisi teknologi khusus, bukan satu arsitektur serbaguna. Sistem ini akan menggabungkan tiga partisi berbeda: Ranger yang berjalan di CPU Vera, Sandstone yang dibangun di atas perangkat keras Vera Rubin NVL-4, dan Starlight yang berbasis Vera Rubin NVL-72, semuanya terhubung melalui penyimpanan berperforma tinggi bersama yang dirancang untuk pemodelan dan simulasi berbasis AI. Node CPU Vera juga direncanakan untuk sistem Veritas terpisah.
Galen Shipman, chief architect of advanced technology systems di Los Alamos, mengungkapkan bahwa CPU Vera pada akhirnya akan mendukung simulasi multi-fisika 3D paling kompleks di laboratorium begitu diterapkan di partisi Ranger milik Mission. Sementara itu, Ian Buck, vice president NVIDIA, menilai kemitraan ini memposisikan CPU Vera dan GPU Rubin untuk membantu menggabungkan AI agentik dengan beban kerja pemodelan dan simulasi paling menantang di laboratorium ke depan.
Partisi Ranger lengkap diperkirakan tiba di Los Alamos pada 2027 bersama partisi Sandstone, sedangkan partisi Mission-Starlight dan Vision-Transformer bisa dikirim paling cepat akhir 2026. Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin bagaimana infrastruktur komputasi berperforma tinggi—yang menjadi tulang punggung riset nuklir, iklim, dan AI—semakin bergantung pada kolaborasi lintas sektor antara laboratorium pemerintah dan raksasa teknologi. Ketika negara-negara maju berlomba menyiapkan superkomputer eksascale, pertanyaannya: akankah Indonesia mampu membangun ekosistem serupa untuk mendukung riset strategis dan kedaulatan teknologi di masa depan?



