Martha Agbani dan Perempuan Ogoni: Menanam Kembali Hutan Bakau di Delta Niger yang Dihancurkan Minyak
Baca dalam 60 detik
- Martha Agbani mendirikan Lokiaka Community Development Centre pada 2003 untuk memulihkan mangrove di Ogoniland yang rusak akibat pencemaran minyak selama puluhan tahun.
- Sejak 2018, timnya telah menanam 3 juta bibit mangrove dan mereklamasi 190 hektare hutan rawa, sambil melatih lebih dari 400 perempuan dari berbagai komunitas.
- Restorasi ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga upaya mengembalikan hak atas lahan, mata pencaharian, dan suara perempuan dalam pengelolaan lingkungan.

Di Ogoniland, Nigeria, Martha Agbani menyaksikan sendiri bagaimana pencemaran minyak selama lebih dari lima dekade merusak hutan bakau dan menghancurkan sumber penghidupan warga. Kini, melalui Lokiaka Community Development Centre yang ia dirikan pada 2003, ia melatih ratusan perempuan untuk menanam kembali mangrove—satu tunas hijau demi satu tunas hijau.
Kerusakan lingkungan di Delta Niger bukanlah cerita baru. Sejak era eksploitasi minyak besar-besaran, tumpahan minyak telah mencemari sungai, membunuh vegetasi, dan menghilangkan akses masyarakat terhadap perairan yang dulu menjadi sumber ikan dan kerang. Data dari Bodo Mediation Initiative menyebutkan sekitar 1.000 hektare mangrove hancur akibat tumpahan minyak pada 2008, dan lebih dari 500.000 barel minyak mentah diperkirakan telah mencemari lingkungan dalam kurun kurang dari 20 tahun.
Bagi Agbani, perjuangan ini bermula dari luka personal. Ibunya, Theresa Terabiewaa Agbani, adalah seorang aktivis lingkungan. Ketika Agbani masih kuliah, eksekusi mati terhadap Ken Saro-Wiwa—penulis drama dan aktivis Ogoni—beserta delapan aktivis lingkungan lainnya pada 1995 mengguncang hidupnya. “Eksekusi itu membuka mata saya tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik kehancuran kampung halaman saya,” ujarnya.
Alih-alih mengangkat senjata atau turun ke jalan, Agbani memilih jalur restorasi. Ia mengajak perempuan-perempuan Ogoni turun langsung ke rawa-rawa, membekali mereka dengan pengetahuan tentang ekologi mangrove. Di Teenama, Joy Lebewi dan belasan perempuan lainnya setiap hari berendam lumpur, menancapkan tongkat kayu sepanjang dua meter sebagai penanda jarak tanam. Mereka belajar dari kesalahan awal: pada 2018, bibit ditanam terlalu rapat sehingga kanopi saling menutupi. Kini, setiap tanda tongkat adalah langkah kecil rekonstruksi.
“Kami ingin menanam mangrove dengan jarak yang tepat. Ini hutan kami,” kata Lebewi.
Restorasi mangrove di Delta Niger bukan tanpa tantangan. Spesies invasif seperti nipa palm dari Asia Tenggara terus menyusup dan menekan pertumbuhan mangrove asli. Membersihkannya membutuhkan tenaga ekstra, dan sering kali kaum pria dari komunitas sekitar dikerahkan untuk membuka lahan sebelum perempuan menanam. Namun, bagi Agbani, keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang hidup. Ia ingin memastikan bahwa perempuan—yang paling terdampak oleh kerusakan lingkungan—juga menjadi pengambil keputusan.
Pandangan ini sejalan dengan kritik yang dilontarkan Collins Lebeteh, seorang pegiat konservasi berbasis komunitas. Menurutnya, indikator keberhasilan restorasi harus bergeser dari sekadar jumlah bibit ke siapa yang menanam dan mengelola. “Yang terpenting adalah siapa yang melakukan penanaman. Banyak perempuan yang bergantung pada lingkungan yang rusak justru tersingkir dari pengambilan keputusan,” ujarnya.
Oluwakemi Odufuye, ekolog pesisir dari Nigerian Institute of Oceanography and Marine Research, menegaskan bahwa mangrove yang sehat menopang kehidupan jutaan orang. Hutan bakau berfungsi sebagai tempat pembesaran ikan, udang, dan moluska, sekaligus pelindung garis pantai dan penyimpan karbon. Kerusakan yang dibiarkan akan memperparah krisis pangan dan ekonomi di wilayah pesisir.
Kisah Agbani dan perempuan Ogoni menggema jauh melampaui Delta Niger. Di Indonesia, yang memiliki hutan mangrove terluas di dunia—sekitar 3,3 juta hektare—degradasi akibat tambak, alih fungsi lahan, dan pencemaran juga mengancam. Program rehabilitasi mangrove nasional sering kali terjebak pada pendekatan top-down yang mengabaikan partisipasi warga, terutama perempuan. Model Lokiaka menawarkan alternatif: restorasi yang berakar pada komunitas, digerakkan oleh mereka yang paling merasakan dampak kerusakan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah mangrove bisa ditanam kembali, melainkan siapa yang akan mengendalikan prosesnya. Jika pola yang dikembangkan Agbani dapat direplikasi, restorasi ekosistem bisa menjadi jalan menuju keadilan lingkungan yang lebih luas—bukan sekadar proyek penghijauan simbolis.


