Skema Subsidi Pertanian Berkelanjutan Inggris Kehabisan Dana dalam Hitungan Jam, Peternak di Cumbria Bergulat dengan Wabah TBC
Baca dalam 60 detik
- Program insentif pertanian berkelanjutan Inggris habis dalam beberapa jam, memicu kepanikan di kalangan peternak yang kehilangan akses pendanaan.
- Peternakan di Tebay, Cumbria, terpaksa kembali ditutup setelah satu sapi menunjukkan reaksi tidak konklusif terhadap tes tuberkulosis, memperpanjang ketidakpastian ekonomi.
- Krisis ini menyoroti kerentanan sektor peternakan terhadap kombinasi kebijakan yang tidak stabil dan wabah penyakit, dengan implikasi luas bagi ketahanan pangan.

Peternak di Tebay, Cumbria, Inggris, kembali dilanda ketidakpastian setelah program Sustainable Farming Incentive (SFI) tahun ini kehabisan dana hanya dalam beberapa jam sejak dibuka. Seorang peternak yang berhasil mengajukan permohonan untuk menjadi peternakan organik mengungkapkan rasa syukurnya, namun menyaksikan rekan-rekannya terjebak dalam keputusasaan karena tidak sempat mengakses pendanaan. Kejadian ini menggarisbawahi betapa rapuhnya sistem dukungan pemerintah bagi sektor pertanian berkelanjutan.
Sejak Juni, peternakan tersebut telah "ditutup" akibat wabah tuberkulosis (TB) sapi. Penutupan ini menunda penjualan sapi jantan, pejantan, dan sapi betina bibit, yang seharusnya menjadi sumber pendapatan utama. Komplikasi muncul karena penantian diperpanjang oleh pernikahan anak peternak, dan mereka harus mencari dokter hewan baru setelah dokter hewan sebelumnya berhenti menangani hewan ternak karena dianggap tidak ekonomis. Tekanan mental pun tak terhindarkan; peternak mengaku sulit tidur memikirkan dampak finansial jika penutupan berlanjut.
Proses pengujian ulang menghadapi tantangan tersendiri. Sebelum tes, 67 sapi harus digiring turun dari perbukitan, dan satu sapi melahirkan di ketinggian sekitar 1.200 kaki. Dokter hewan baru meminta semua sapi dibawa masuk, sehingga peternak harus kembali menjemput induk dan anak sapi. Meskipun rumit, upaya tersebut berhasil dan keduanya dipersatukan kembali. Namun, pada hari keempat setelah dua suntikan, satu sapi mengembangkan benjolan 3 mm dan dikategorikan sebagai "inconclusive reactor". Sapi itu diisolasi dan akan diuji ulang dalam 60 hari, sementara peternakan kembali ditutup.
Kebijakan SFI yang diluncurkan pemerintah Inggris bertujuan mendorong praktik pertanian ramah lingkungan. Namun, alokasi dana yang terbatas menciptakan kompetisi ketat. Banyak peternak yang gagal mendapatkan akses kini mempertanyakan kelangsungan usaha mereka. Seorang peternak menilai pemerintah perlu menambah anggaran secara signifikan agar transisi menuju pertanian berkelanjutan tidak mengorbankan mata pencaharian.
"Kami harus berpikir matang tentang langkah selanjutnya, demi sapi dan diri kami sendiri," ujar peternak tersebut, menggambarkan beban ganda antara tuntutan kesejahteraan hewan dan tekanan ekonomi.
Kasus ini mencerminkan tantangan global dalam menyeimbangkan target lingkungan dengan realitas peternakan skala kecil. Di Indonesia, sektor peternakan juga menghadapi masalah serupa, seperti wabah penyakit hewan dan akses subsidi yang rumit. Pelajaran dari Cumbria menunjukkan pentingnya jaring pengaman sosial bagi peternak dan sistem surveilans penyakit yang responsif. Tanpa itu, ketahanan pangan nasional bisa terancam.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemerintah Inggris akan merevisi skema pendanaan agar lebih inklusif, atau justru membiarkan peternak kecil berguguran. Sementara itu, peternak di Tebay menanti hasil tes ulang sapi mereka, berharap bisa segera menjual ternak dan memulihkan stabilitas usaha. Nasib mereka menjadi cermin bagi kebijakan pertanian yang lebih adil dan berkelanjutan.

