Pasar Kerja AS Bergeser: Pria Kehilangan Pijakan, Wanita Justru Mendominasi
Baca dalam 60 detik
- Jumlah pekerja wanita di AS melampaui pria selama delapan bulan berturut-turut hingga September 2026, rekor terpanjang sejak 2010.
- Penurunan lapangan kerja pria mencapai 1,2 juta dibanding tahun lalu, sementara wanita naik lebih dari 650 ribu, dipicu pergeseran sektor unggulan.
- Ketergantungan pada sektor kesehatan dan pemerintahan membuat pemulihan ekonomi rapuh, dengan implikasi kebijakan yang perlu diwaspadai.

Data terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS) menunjukkan bahwa pada September 2026, jumlah pekerja wanita kembali melampaui pria untuk bulan kedelapan secara beruntun. Ini merupakan rentetan terpanjang sejak 2010, menurut analisis platform pencarian kerja Indeed. Laporan ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan—hanya 29.000 lapangan kerja baru tercipta, jauh di bawah konsensus 84.000—menjadi pukulan telak bagi pekerja pria, yang secara tahunan kehilangan sekitar 1,2 juta posisi.
Kesenjangan gender ini bukan sekadar angka. Cory Stahle, ekonom senior Indeed, menuturkan bahwa pada 2010 lalu, selisih muncul karena pria kehilangan pekerjaan; kali ini, penyebabnya adalah wanita yang justru mendapatkan pekerjaan. Pergeseran ini mencerminkan perubahan struktural dalam industri yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi AS. Sektor kesehatan, yang menyerap lebih dari separuh ekspansi lapangan kerja September, didominasi oleh pekerja wanita—hampir empat dari lima karyawan di sektor ini adalah perempuan.
Namun, ketergantungan pada sektor kesehatan juga menyimpan risiko. BLS mencatat bahwa laju perekrutan di sektor ini melambat pada September dibanding rata-rata tahun lalu. Akibatnya, lonjakan pekerja wanita tidak sebesar bulan-bulan sebelumnya. Sementara itu, kontraksi di sektor pemerintahan—yang juga banyak menyerap tenaga kerja wanita—semakin menggerus keuntungan. Di sisi lain, pria hanya menyumbang sedikit di atas separuh pertumbuhan pekerjaan bulan lalu, setelah pada Agustus hanya 2%. Meski demikian, secara tahunan, posisi pria tetap terpuruk.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin penting. Meskipun struktur pasar kerja Tanah Air berbeda—sektor manufaktur dan pertanian masih mendominasi—tren global menunjukkan bahwa ekonomi yang bergantung pada sektor jasa perawatan dan pemerintahan rentan terhadap guncangan. Indonesia juga menghadapi tantangan serupa: partisipasi angkatan kerja pria dan wanita masih timpang, dengan wanita sering tersisih di sektor informal. Jika AS saja kesulitan menyeimbangkan, Indonesia perlu memperkuat kebijakan pelatihan kerja dan diversifikasi industri agar tidak terjebak pada satu sektor.
“Dulu, kesenjangan muncul karena pria kehilangan pekerjaan. Kali ini, karena wanita yang mendapatkannya,” ujar Cory Stahle, ekonom senior Indeed.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pergeseran ini bersifat sementara atau permanen. Jika sektor kesehatan terus melambat dan pemerintah mengurangi belanja, keunggulan wanita bisa tergerus. Sebaliknya, jika tren ini berlanjut, pasar kerja AS akan semakin feminin, memaksa pembuat kebijakan untuk merancang ulang program pelatihan dan insentif bagi pria yang kehilangan pijakan. Indonesia, dengan bonus demografi yang akan segera berakhir, tidak bisa menunda reformasi ketenagakerjaan yang inklusif.



