Russell Peringatkan Overheating Ban di GP Malaysia: Trek Sepang Bak Kertas Amplas
Baca dalam 60 detik
- George Russell memprediksi suhu panas di Sirkuit Sepang akan memicu degradasi ban ekstrem yang menyulitkan manuver menyalip.
- FIA menetapkan status bahaya panas untuk balapan akhir pekan, sementara permukaan trek yang baru diaspal berpotensi abrasif dan licin.
- Sesi latihan Jumat menjadi krusial bagi Mercedes untuk mengukur laju degradasi dan membiasakan pembalap seperti Kimi Antonelli yang belum pernah melintasi Sepang.

Balapan Formula 1 akhir pekan ini akan digelar di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia, bukan di Bahrain seperti yang semula dijadwalkan. Kepindahan venue tersebut membawa konsekuensi tersendiri: suhu udara yang menyengat diprediksi mengubah peta persaingan, terutama bagi Mercedes yang harus mengatasi masalah overheating ban agar tetap kompetitif.
Pembalap Mercedes, George Russell, mengangkat kekhawatiran itu dalam sesi media Kamis waktu setempat. Menurutnya, karakter permukaan trek Sepang yang kasar akan membuat ban cepat panas, bahkan sejak putaran keluar di sesi kualifikasi. Kondisi ini, kata dia, berpotensi mempersempit peluang para pembalap untuk saling mendekat dan melakukan serangan balik setelah disalip.
Russell membandingkan Sepang dengan sirkuit-sirkuit yang biasa disebut "yo-yo circuit" seperti Melbourne, Silverstone, Monza, dan Kanada. Di trek-trek itu, overheating permukaan tidak terlalu parah sehingga pembalap bisa tetap berada dalam jarak satu detik. "Di sini, overheating permukaan akan menjadi faktor besar. Anda akan membuat ban terlalu panas bahkan di putaran keluar kualifikasi," ujarnya. Ia menambahkan bahwa situasi ini masih menjadi wilayah yang belum terpetakan sepenuhnya.
Rekan setim Russell, Kimi Antonelli, termasuk salah satu pembalap yang belum memiliki pengalaman di Sepang. Sesi latihan Jumat nanti akan menjadi momen penting bagi Mercedes untuk mengukur tingkat degradasi ban sekaligus membiasakan diri dengan karakter trek yang baru diaspal. Kombinasi panas menyengat, kelembapan tinggi, dan potensi hujan sore hari menambah kompleksitas persiapan.
Pembalap McLaren, Oscar Piastri, juga menyoroti tingginya degradasi yang diperkirakan terjadi. Ia menggambarkan permukaan trek seperti kertas amplas dan memperkirakan sesi balapan akan berlangsung berat dari berbagai sisi. "Sepertinya akan sangat menantang dari segi degradasi ban. Saya tidak tahu seberapa banyak sesi balapan yang sudah berlangsung di sana, dan hujan mungkin menyapu permukaan setiap sore. Jadi, ini akan menjadi akhir pekan yang sulit," tuturnya.
"Overheating permukaan akan menjadi faktor besar. Anda akan membuat ban terlalu panas bahkan di putaran keluar kualifikasi, yang mungkin mempersulit untuk mengikuti lebih dekat dan menyerang balik setelah disalip." โ George Russell
Bagi Mercedes, trek lurus panjang di Sepang bisa menjadi keuntungan jika mereka mampu mengendalikan suhu ban. Mobil-mobil bertenaga Mercedes diketahui memiliki kecepatan puncak yang mumpuni, namun tanpa manajemen ban yang baik, potensi itu bisa sia-sia. Sesi latihan akan menjadi ujian awal untuk melihat apakah paket aerodinamis dan strategi pendinginan mereka cukup efektif di kondisi ekstrem.
Dengan hanya sedikit data historis karena Sepang lama absen dari kalender F1, para insinyur harus mengandalkan simulasi dan data masa lalu. Ketidakpastian ini bisa menjadi peluang bagi tim-tim yang mampu beradaptasi cepat, atau justru jebakan bagi yang terlalu percaya pada perhitungan teoritis. Balapan akhir pekan nanti tidak hanya menguji kecepatan, tetapi juga ketahanan ban dan kecerdasan strategi.
Pertanyaannya, akankah Mercedes mampu memanfaatkan trek lurus Sepang untuk mencuri keunggulan, atau justru terpuruk karena ban yang terlalu cepat aus? Jawabannya akan mulai terlihat di sesi latihan Jumat, dan perlahan terungkap hingga bendera finis dikibarkan.



