Signal Veil: Game Horor Silent Hill-like, Ponsel Flip Jadi Senjata Parry
Baca dalam 60 detik
- Signal Veil, game horor psikologis dari Time Hunters, memperkenalkan mekanisme unik: ponsel flip sebagai senjata untuk menangkis serangan musuh.
- Sistem kewarasan (sanity) memengaruhi gaya bertarung karakter utama, Aki, yang semakin putus asa seiring menurunnya kondisi mental.
- Game ini belum memiliki tanggal rilis, tetapi sudah dapat dimasukkan ke daftar keinginan di Steam.

Industri game horor terus berinovasi menghadirkan ketegangan yang berbeda. Setelah era kejayaan Resident Evil dan Silent Hill yang mengandalkan bayangan panjang dan kabut tebal, kini muncul Signal Veil, sebuah game horor psikologis yang menawarkan konsep unik: menggunakan ponsel flip sebagai senjata untuk menangkis serangan musuh.
Dikembangkan oleh Time Hunters, Signal Veil menempatkan pemain sebagai Aki, seorang gadis sekolah menengah dengan lingkaran hitam di matanya, yang terjebak dalam situasi mengerikan. Dalam trailer yang dirilis selama 28 Games Later Horror Showcase yang digelar Insider Gaming, terlihat Aki dikejar oleh monster berdaging. Namun, ia tidak sendirianโia membawa ponsel flip vintage milik ibunya, yang dapat digunakan untuk menyerang musuh secara fisik.
Mekanisme pertarungan ini menjadi daya tarik utama. Ponsel tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga senjata untuk memukul kepala musuh atau menggunakan lampu kilat kamera untuk membuat musuh tertegun, membuka peluang untuk melakukan parry. "Kami sangat menyukai game dengan sistem parry, jadi pada suatu titik kami berpikir, 'Bagaimana jika kita bisa menggunakan ponsel untuk menangkis musuh?'" ujar pengembang. "Itu salah satu ide yang terdengar aneh pada awalnya, tetapi setelah kami mencobanya, kami menyukainya."
Selain mekanisme pertarungan, Signal Veil juga mengusung sistem kewarasan yang mempengaruhi cara Aki bertarung. Semakin memburuk kondisi mentalnya, semakin putus asa, agresif, dan berantakan gaya bertarungnya. Hal ini menciptakan pengalaman horor psikologis yang mendalam, di mana pemain tidak hanya menghadapi musuh eksternal tetapi juga pergulatan batin karakter.
"Kami tumbuh dengan mencintai game horor klasik seperti Resident Evil, tetapi untuk Signal Veil kami ingin lebih condong ke horor psikologis," ungkap Time Hunters.
Penggunaan ponsel sebagai senjata juga menjadi metafora tentang bagaimana teknologi dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi dapat mengganggu dan merusak kehidupan, tetapi di sisi lain, ia dapat menjadi alat penyelamat. Dalam game ini, ponsel yang biasanya identik dengan komunikasi dan ancaman privasi, justru menjadi harapan terakhir untuk bertahan hidup.
Meskipun belum ada tanggal rilis yang pasti, Signal Veil telah menarik perhatian para penggemar genre horor. Game ini dapat dimasukkan ke daftar keinginan di Steam, menandakan bahwa pengembang serius dalam menggarap proyek ini. Antusiasme terhadap konsep unik ini menunjukkan bahwa pasar game horor masih memiliki ruang untuk inovasi yang berani.
Bagi industri game Indonesia, keberhasilan Signal Veil nantinya bisa menjadi inspirasi untuk mengembangkan game horor dengan mekanisme serupa yang mengangkat kearifan lokal. Misalnya, menggunakan benda-benda sehari-hari sebagai senjata atau mengintegrasikan mitos lokal ke dalam sistem permainan. Dengan semakin matangnya ekosistem game di Tanah Air, bukan tidak mungkin kita akan melihat game horor Indonesia yang mendunia.
Pertanyaannya, apakah mekanisme ponsel sebagai senjata ini akan efektif dan menyenangkan saat dimainkan? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi keberanian Time Hunters untuk bereksperimen patut diapresiasi. Kita tunggu kabar selanjutnya.



