Sears Pernah Kuasai Elektronik Rumah Tangga, Kini Tinggal 5 Gerai
Baca dalam 60 detik
- Sears memulai katalog pesanan lewat pos pada 1893 dan sempat memiliki lebih dari 3.500 gerai, tetapi awal 2026 hanya lima toko yang masih beroperasi.
- Merek internal seperti Silvertone, Tele-Games, dan LXI menjadi kendaraan Sears menjual radio, konsol game, hingga komputer rumah ke jutaan konsumen Amerika.
- Kisah kejayaan Sears menunjukkan bagaimana peritel besar bisa kehilangan relevansi ketika inovasi teknologi dan perubahan perilaku belanja tidak diantisipasi.

Jaringan ritel asal Amerika Serikat, Sears, yang berdiri sejak 1893 dan pernah menjadi ikon pusat perbelanjaan di Negeri Paman Sam, kini hanya menyisakan lima gerai pada awal 2026. Padahal, pada masa jayanya, Sears mengoperasikan lebih dari 3.500 toko dan menjadi tujuan utama keluarga membeli perangkat elektronik rumah tangga.
Sepanjang abad ke-20, Sears bukan sekadar department store. Perusahaan ini membangun ekosistem merek sendiri untuk radio, televisi, sistem audio, hingga komputer pribadi. Langkah itu membuat Sears berperan besar dalam membawa teknologi konsumen dari etalase laboratorium ke ruang keluarga.
Perjalanan Sears di industri elektronik dimulai lewat merek Silvertone pada 1915. Merek ini identik dengan radio tabung vakum yang dikemas dalam kabinet kayu besar, yang berfungsi sebagai pusat hiburan keluarga. Pada 1956, Sears mulai menjual radio transistor portabel Silvertone model 7228 dengan harga 57,95 dolar AS, setara sekitar 715 dolar AS pada 2026.
Ketika format pita 8-track populer pada akhir 1960-an hingga pertengahan 1980-an, Sears ikut menjual pemutar untuk mobil dan rumah. Perangkat buatan RCA Victor Records itu dijual sekitar 45 dolar AS pada dekade 1970-an, atau setara 340 dolar AS saat ini. Meski kalah dari kaset, 8-track sempat memenuhi rak Sears lebih dari satu dekade.
Peran Sears dalam industri gim rumahan tidak bisa diabaikan. Pada 1975, Sears menjalin kerja sama dengan Atari untuk menjual konsol Pong. Kesuksesan penjualan itu meyakinkan pasar bahwa gim arkade bisa masuk ke rumah. Sears kemudian menjual Atari VCS dengan nama Tele-Games Video Arcade, serta Intellivision Mattel sebagai Tele-Games Super Video Arcade Cartridge System.
Di segmen komputer, Sears menjual Commodore 64, Macintosh 128K, dan bahkan klon Apple IIc buatan VTech dengan nama Laser 128. Komputer klon itu dijual 479 dolar AS, jauh lebih murah dari Apple IIc yang dibanderol 1.300 dolar AS. Langkah ini memperluas akses komputer rumah bagi kelas menengah Amerika.
"Sears membantu mempopulerkan komputer rumah dengan memajang Commodore 64 di tokonya, meski tidak menjualnya secara eksklusif," demikian catatan dalam artikel aslinya.
Pada 1980-an dan 1990-an, Sears mengandalkan merek LXI untuk sistem stereo, boombox, dan televisi. Merek ini muncul dalam katalog Natal Sears sejak 1979 dan menghilang pada 1996. LXI menjadi simbol bagaimana peritel besar bisa membangun lini produk elektronik sendiri, sebelum akhirnya kalah oleh spesialisasi dan perubahan selera pasar.
Bagi Indonesia, kisah Sears menjadi cermin bagi peritel besar seperti Matahari, Ramayana, atau Hero yang pernah mendominasi pusat perbelanjaan. Ketika e-commerce dan merek langsung ke konsumen tumbuh, peritel yang tidak bertransformasi menghadapi risiko serupa. Sears menunjukkan bahwa skala besar dan sejarah panjang tidak otomatis menjamin kelangsungan bisnis.
Pertanyaannya kini, akankah peritel warisan di Indonesia dan Asia Tenggara belajar dari kejatuhan Sears, atau justru mengulang pola yang sama ketika teknologi belanja kembali berubah?



