John Herdman Tanggapi Nyanyian Suporter di SUGBK: Piala Dunia 2030 adalah Target Sebenarnya
Baca dalam 60 detik
- John Herdman menegaskan target jangka panjangnya adalah membawa Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2030, bukan sekadar juara ASEAN Cup.
- Kemenangan 9-2 atas Bangladesh membawa Indonesia ke final, tetapi Herdman mengingatkan pemain agar tidak terjebak euforia berlebihan.
- Thailand menjadi lawan berikutnya di partai puncak, dan fokus Herdman tetap pada pembangunan tim menuju kualifikasi dunia.

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, menjadi pusat perhatian setelah suporter menyanyikan namanya di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) menyusul kemenangan telak 9-2 atas Bangladesh dalam laga terakhir Grup A FIFA ASEAN Cup 2026, Kamis (1/10/2026) malam WIB. Namun, di balik sorak sorai tersebut, Herdman justru menegaskan bahwa misi utamanya jauh lebih besar: mengantar Skuad Garuda tampil di Piala Dunia 2030.
Kemenangan atas Bangladesh tidak hanya memastikan Indonesia sebagai juara Grup A, tetapi juga melaju ke partai final. Dalam pertandingan tersebut, Mitchell Baker mencetak lima gol (menit 11, 20, 37, 42, dan 90+8), disusul Rizky Ridho (32'), Justin Hubner (45+1'), Luke Vickery (90'), dan Kevin Diks (90+6'). Skor 9-2 menjadi salah satu kemenangan terbesar Indonesia di ajang regional, sekaligus menunjukkan kedalaman skuad yang dimiliki Herdman.
Meski demikian, Herdman tidak ingin timnya larut dalam euforia. Dalam konferensi pers usai laga, ia menekankan bahwa capaian ke final hanyalah satu langkah kecil dari rencana besar yang telah ia susun. "Misi utamanya adalah Piala Dunia 2030. Ini hanyalah satu langkah kecil," ujar Herdman, seperti dikutip dari sesi jumpa pers. Ia juga mengakui bahwa para pemain masih terbawa suasana setelah perjuangan keras menembus partai puncak.
Pernyataan Herdman menyoroti pergeseran orientasi sepak bola Indonesia. Jika sebelumnya prestasi di level ASEAN sering dianggap puncak, kini standar telah dinaikkan. Herdman, yang memiliki pengalaman menangani tim nasional Kanada di Piala Dunia 2022, membawa visi jangka panjang yang menuntut pembinaan berkelanjutan. Ia menyadari bahwa untuk bersaing di kualifikasi Piala Dunia 2030, Indonesia perlu mempersiapkan generasi pemain yang matang, bukan hanya mengandalkan euforia turnamen sesaat.
"Kita boleh antusias mencapai final karena ini langkah besar bagi Mitchell, bagi saya, dan seluruh pemain bersama-sama, tetapi misi sejatinya adalah 2030," tegas Herdman.
Kemenangan atas Bangladesh juga menjadi sinyal bahwa lini serang Indonesia semakin tajam. Mitchell Baker, yang mencetak lima gol, menunjukkan ketajaman di depan gawang. Dukungan dari pemain belakang seperti Rizky Ridho dan Justin Hubner yang ikut menyumbang gol memperlihatkan bahwa skema set-piece dan transisi cepat menjadi senjata ampuh. Namun, kebobolan dua gol tetap menjadi catatan bagi Herdman untuk memperbaiki organisasi pertahanan menjelang final melawan Thailand.
Thailand, yang dikenal sebagai rival tradisional di Asia Tenggara, akan menjadi ujian sesungguhnya. Pertemuan di SUGBK pada Senin (5/10/2026) tidak hanya menentukan gelar, tetapi juga menjadi tolok ukur kesiapan Indonesia menghadapi tekanan. Herdman dihadapkan pada tugas ganda: meraih trofi sekaligus menjaga momentum menuju kualifikasi Piala Dunia 2030. Dukungan suporter yang menyanyikan namanya menjadi energi tambahan, tetapi juga ekspektasi yang harus dikelola dengan bijak.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Herdman mampu mempertahankan konsistensi dan membawa Indonesia ke level berikutnya. Piala Dunia 2030 memang masih empat tahun lagi, tetapi persiapan menuju ke sana harus dimulai sekarang. Final melawan Thailand akan menjadi indikator awal seberapa jauh Skuad Garuda telah berkembang di bawah komando Herdman.



