Beto Goncalves Soroti Absennya Nomor 9 Murni di Timnas Indonesia Jelang Final ASEAN Cup 2026
Baca dalam 60 detik
- Alberto Goncalves menilai lini depan Timnas Indonesia kini kehilangan sosok penyerang tengah murni yang bertahan di kotak penalti.
- Lima gol Mitchell Baker ke gawang Bangladesh disebut sebagai modal kepercayaan diri, tetapi perlu diuji melawan tim sekelas Thailand.
- Final ASEAN Cup 2026 di Stadion Gelora Bung Karno menjadi pembuktian apakah pola tanpa target man tetap efektif.

Mantan penyerang Timnas Indonesia, Alberto "Beto" Goncalves, mengangkat persoalan mendasar tentang lini depan skuad Garuda menjelang partai puncak FIFA ASEAN Cup 2026. Menurutnya, karakter penyerang Indonesia saat ini telah bergeser dari sosok nomor 9 murni yang bertahan di dalam kotak penalti menjadi pemain yang lebih sering turun menjemput bola.
Pergeseran itu terlihat dari peran Ole Romeny yang kerap melebar ke sisi lapangan, sementara Mitchell Baker baru mencuri perhatian setelah mencetak lima gol ke gawang Bangladesh. Beto tidak memungkiri kualitas kedua pemain, namun ia melihat ada ruang yang belum terisi dalam skema serangan tim asuhan pelatih saat ini.
"Striker Timnas sekarang sedikit berbeda dengan karakter saya dulu. Saya lebih ke nomor 9 murni. Sekarang pemain depan kadang keluar mengambil bola di luar kotak penalti," ujar Beto, dikutip dari wawancara dengan Bola.com, Minggu (4/10/2026).
Beto mengenang masa kejayaannya di timnas ketika ia didukung sayap-sayap cepat dengan kemampuan crossing mumpuni, serta kehadiran Stefano Lilipaly yang datang dari lini kedua untuk melakukan kombinasi satu-dua. Menurutnya, ekosistem permainan seperti itu sangat cocok dengan tipikal penyerang yang menetap di area pertahanan lawan.
Kritik Beto bukan tanpa dasar. Sepanjang fase grup, Indonesia memang mengandalkan mobilitas penyerang yang menarik keluar bek lawan untuk membuka ruang bagi gelandang dan winger. Pola itu efektif ketika menghadapi tim dengan kualitas di bawah, seperti yang ia singgung saat mengomentari pesta gol Baker. Namun, menghadapi Thailand di partai final, ruang akan jauh lebih sempit dan duel fisik di kotak penalti bakal lebih intens.
Beto menilai ledakan lima gol Baker tetap berharga sebagai suntikan mental. Ia membandingkannya dengan pengalamannya sendiri saat mencetak empat gol ke gawang Vanuatu, yang ia sebut sebagai momen pembangun rasa percaya diri untuk laga-laga berikutnya. "Kalau ada kesempatan cetak banyak gol, harus diambil," ujarnya.
Meski demikian, ia tidak sepenuhnya menutup mata pada kualitas yang ada. Beto menyebut stok penyerang Indonesia saat ini cukup baik, tetapi ia mendorong adanya opsi tambahan berupa penyerang bertipe target man yang lebih dalam menempati kotak penalti. Menurutnya, kombinasi antara mobilitas dan kehadiran sosok di depan gawang bisa membuat produktivitas gol timnas melonjak.
Pertanyaan taktisnya kini mengerucut: apakah pelatih akan mempertahankan pola fleksibel yang mengandalkan pergerakan Romeny dan Baker, atau menyiapkan plan B dengan menempatkan penyerang murni untuk membombardir pertahanan Thailand? Partai final di Gelora Bung Karno akan menjadi ujian sesungguhnya bagi lini depan yang sedang dalam transisi karakter ini.
Jika Indonesia mampu menembus pertahanan rapat Thailand tanpa kehadiran nomor 9 murni, perdebatan tentang tipikal striker mungkin akan mereda. Sebaliknya, jika lini depan macet, sorotan terhadap absennya target man akan kembali menguat โ dan itu bisa menjadi bahan evaluasi panjang bagi arah permainan timnas ke depan.



