Razer Soma Chroma: Kursi Gaming RGB Pertama Razer, Nyaman Tapi Ada Kompromi
Baca dalam 60 detik
- Razer merilis Soma Chroma, kursi gaming pertama dengan lampu RGB terintegrasi di sandaran punggung, dijual sekitar Rp8,1 juta.
- Kenyamanan duduk menjadi keunggulan utama, tetapi fitur penyesuaian seperti lumbar support dan armrest kalah dari pesaing di harga serupa.
- Kursi ini menyasar streamer dan penggemar ekosistem Chroma, namun konsumen yang mengutamakan fungsi sebaiknya melirik Iskur V2 X yang lebih murah.

Razer resmi merilis Soma Chroma, kursi gaming pertama mereka yang dilengkapi strip lampu RGB di sandaran punggung. Dengan harga USD 499,99 (sekitar Rp8,1 juta), kursi ini menawarkan kenyamanan premium sekaligus menjadi eksperimen Razer membawa identitas Chroma ke perabot rumah.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Razer telah lama membangun ekosistem Chroma pada mouse, keyboard, headset, hingga mousepad. Menghadirkan RGB di kursi adalah kelanjutan logis dari strategi tersebut, meski secara fungsional lampu tersebut lebih terlihat oleh penonton stream daripada penggunanya sendiri.
Dari sisi desain, Soma Chroma meninggalkan lekuk lembut keluarga Iskur dan beralih ke siluet tajam dengan kain rajut hitam, busa cold-cured dua tingkat, serta rangka baja. Posisinya mengisi celah antara Iskur V2 X (USD 350) dan Iskur V2 (USD 649,99).
Perakitan kursi terbilang mudah. Kaki lima lengan, gas lift, dan mekanisme tilt dapat dipasang dengan kunci Allen dalam waktu sekitar 20 menit. Razer bahkan menyertakan sarung tangan putih dan dongle nirkabel 2,4 GHz yang menempel di kartu instruksi. Sayangnya, tidak ada baterai atau adaptor daya dalam paket. Lampu RGB hanya bisa menyala melalui kabel USB-C yang menonjol sekitar 10 cm dari belakang kursi, atau dengan power bank pribadi yang dimasukkan ke kantong berzip di bawah dudukan.
Keputusan ini menuai kritik. Pada harga Rp8 juta, konsumen seharusnya tidak perlu menyediakan sumber daya sendiri. Kabel yang terpasang permanen juga menyulitkan perbaikan jika rusak. Dalam pengujian, power bank 10.000 mAh mampu menyalakan lampu selama lebih dari sehari, tetapi tetap terasa merepotkan.
Dari sisi pencahayaan, Razer Synapse memungkinkan sinkronisasi penuh dengan Chroma Studio, termasuk kontrol kecerahan, peredupan otomatis saat idle, dan reaksi real-time di lebih dari 300 game. Tombol fisik di tepi atas sandaran memudahkan perubahan cepat tanpa perangkat lunak. Namun, posisi lampu yang menghadap ke depan membuat pengguna hampir tidak pernah melihatnya saat duduk. Efeknya lebih terasa bagi penonton stream atau dalam foto dan video.
Kenyamanan menjadi nilai jual utama. Busa cold-cured terasa padat namun responsif, dan alas dudukan selebar 21,5 inci cukup lega untuk duduk bersila. Kain rajut tetap sejuk selama sesi panjang. Lumbar support built-in dengan lengkungan lembut mendorong postur netral, meski tidak dapat disesuaikan. Sandaran dapat direbahkan 90โ155 derajat, dan tinggi dudukan berkisar 41โ51 cm.
Kompromi muncul pada fitur penyesuaian. Armrest hanya 2D dengan tinggi dan putaran 25 derajat, sementara pesaing di harga USD 500 menawarkan 3D atau 4D. Tidak ada lumbar support yang bisa diatur, berbeda dengan Iskur V2 yang lebih mahal. Bagi pengguna yang membutuhkan dukungan punggung ekstra, Soma Chroma terasa kurang.
"Ini adalah gimmick, tetapi menempel pada salah satu kursi paling nyaman yang pernah dibuat Razer," tulis ulasan tersebut, seraya menambahkan bahwa kursi ini lebih cocok untuk dipamerkan.
Secara keseluruhan, Soma Chroma adalah kursi yang solid dengan keunggulan kenyamanan. Namun, bagi yang tidak membutuhkan RGB, Iskur V2 X menawarkan struktur serupa dengan harga USD 150 lebih murah. Razer tampaknya menyasar streamer dan pengguna yang sudah terikat ekosistem Chroma.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Razer akan merilis versi Pro dengan penyesuaian lebih lengkap, atau justru memperluas jajaran furnitur RGB ke produk lain. Jika tren ini berlanjut, kursi gaming bisa menjadi kanvas baru bagi produsen periferal untuk menjual pengalaman visual, bukan sekadar ergonomi.



