Jalen Duren Tolak Rp3,1 Triliun, Pistons di Ambang Kehilangan Aset Masa Depan
Baca dalam 60 detik
- Jalen Duren menolak tawaran perpanjangan kontrak lima tahun senilai $200 juta dari Detroit Pistons dan memilih absen dari media day serta awal training camp.
- Pistons berupaya merevisi klausul kontrak, termasuk menghapus syarat berat badan, namun hubungan Duren dengan manajemen disebut telah rusak.
- Jika tidak ada kesepakatan sebelum tenggat Kamis, Duren akan menandatangani qualifying offer $9,6 juta dan dipastikan hengkang musim panas mendatang.

Detroit Pistons menghadapi situasi pelik jelang musim baru. Center All-Star mereka, Jalen Duren, menolak tawaran perpanjangan kontrak senilai $200 juta (sekitar Rp3,1 triliun) dan memilih tidak hadir dalam media day serta sesi pembukaan training camp. Sikap ini menandai kebuntuan yang telah berlangsung sepanjang musim panas dan kini memasuki babak kritis.
Menurut laporan insider ESPN, Shams Charania, Duren belum menandatangani kontrak lima tahun dengan jaminan penuh tersebut. Ia justru memberikan sinyal kuat akan mengambil qualifying offer satu tahun senilai $9,6 juta, yang tenggatnya berakhir Kamis. Jika opsi itu diambil, Duren akan berstatus unrestricted free agent pada musim panas 2026, dan Pistons berisiko kehilangan aset berharga tanpa kompensasi.
Manajemen Pistons dilaporkan telah melakukan berbagai upaya untuk mencairkan kebuntuan. Dalam 24 jam terakhir, mereka merestrukturisasi proposal kontrak, bahkan menghapus klausul berat badan yang sebelumnya menjadi syarat. Langkah ini menunjukkan tekanan besar yang dirasakan tim, namun belum cukup menggoyahkan pendirian Duren.
Analis Barstool Sports, Sam Vecenie, menilai secara logika sulit bagi Duren untuk menolak uang sebesar itu. "Terasa seperti kita sudah mencapai titik di mana terlalu banyak uang di atas meja bagi Jalen Duren untuk tidak menandatangani kesepakatan dengan Detroit sebelum tenggat 1 Oktober," ujarnya. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada perubahan signifikan.
Insider NBA Brett Siegel menambahkan bahwa hubungan Duren dengan jajaran kepemimpinan Pistons disebut telah retak. "Hingga malam ini, tidak ada yang berubah terkait Pistons dan Jalen Duren, yang terus memberi sinyal tidak takut mengambil qualifying offer karena hubungan yang rusak dengan kepemimpinan organisasi," tulis Siegel. Keretakan ini menjadi akar masalah yang membuat negosiasi alot.
Bagi Pistons, skenario terburuk adalah kehilangan Duren tanpa mendapatkan imbalan apa pun. Duren merupakan pemain muda dengan potensi besar, dan kepergiannya akan meninggalkan lubang besar di posisi center. Tim harus bersiap mencari pengganti melalui draft atau pasar bebas, namun opsi tersebut tidak akan seinstan mempertahankan pemain yang sudah terbukti.
Dari kacamata Duren, mengambil qualifying offer adalah taruhan berani. Ia akan bermain dengan gaji jauh di bawah nilai pasar selama satu musim, namun mendapatkan kebebasan penuh untuk memilih tim berikutnya. Risiko cedera atau penurunan performa tetap ada, tetapi jika ia tampil gemilang, kontrak maksimal di musim panas mendatang bisa jauh lebih besar.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda kesepakatan akan tercapai. Pistons dan Duren sama-sama berada di persimpangan yang menentukan arah masa depan franchise. Keputusan dalam hitungan jam akan menjadi penentu apakah hubungan keduanya masih bisa diperbaiki atau justru berakhir dengan perpisahan.



