Ocon Resmi Didepak Haas, tapi Bersikeras: F1 Adalah Tempat Saya
Baca dalam 60 detik
- Haas mengonfirmasi Esteban Ocon tidak akan melanjutkan kontraknya musim depan, namun pembalap Prancis itu menegaskan fokusnya tetap bertahan di Formula 1.
- Inkonsistensi performa VF-26 dan ketegangan internal menjadi pemicu keputusan tim, sementara Oliver Bearman tampil lebih kompetitif dengan mobil yang sama.
- Peluang Ocon menyempit ke kursi Cadillac atau peran test driver Aston Martin, dengan Rafael Camara disebut sebagai kandidat pengganti utama.

Kepastian yang lama dinanti akhirnya datang juga: Haas memutuskan tidak memperpanjang kontrak Esteban Ocon untuk musim 2026. Pengumuman ini menutup spekulasi yang sudah berembus di paddock sejak beberapa balapan terakhir, tetapi Ocon sendiri menolak mengibarkan bendera putih. Dalam pernyataannya di Malaysia, ia menegaskan bahwa Formula 1 tetap menjadi satu-satunya tujuan kariernya.
“Fokus saya adalah Formula 1. Sudah jelas, di situlah tempat saya, di situlah saya ingin berada. Jadi saya tidak akan mencari peluang di tempat lain,” ujar Ocon, seperti dikutip Motorsport.com. Ia menyadari dinamika F1 bergerak sangat cepat, namun ia masih berupaya mencari solusi untuk musim depan. “Untuk saat ini, fokus kami adalah tampil baik di lintasan. Saya rasa kami sudah cukup baik dalam beberapa balapan terakhir, dan itu cara terbaik untuk menunjukkan bahwa saya masih layak berada di F1.”
Keputusan Haas bukan tanpa alasan. Sejak bergabung dari Alpine pada 2025, Ocon memang sempat menunjukkan kecepatan, tetapi inkonsistensi menjadi momok. Mobil VF-26 yang ia kemudikan kerap mengalami perubahan karakter aerodinamis yang sulit diprediksi, bahkan setelah perakitan ulang komponen yang sama. Di sisi lain, rekan setimnya, Oliver Bearman, mampu memaksimalkan paket yang identik dengan hasil lebih baik dan keluhan yang lebih sedikit. Sumber internal tim menyebut manajemen mulai menilai Ocon kurang mengambil tanggung jawab atas performa di bawah potensi, meski ia dikenal vokal mengkritik masalah teknis.
Problem teknis yang mendera Haas bukan rahasia lagi. Sebagai tim independen dengan anggaran terbatas, Haas kerap tertinggal dalam pengembangan mobil sepanjang musim. Musim lalu, VF-25 mengalami osilasi aerodinamis tak terduga pada kecepatan tinggi, memaksa tim mengorbankan ketinggian belakang ideal untuk memaksimalkan efek ground effect. Ocon bahkan pernah menyebut dirinya “seperti pembalap pemula yang belum pernah mengendarai mobil F1” setelah sesi latihan di Abu Dhabi, sebelum akhirnya bangkit dan finis ketujuh. “Selama 10 balapan terakhir kami seharusnya tampil seperti itu,” katanya. “Kami jelas kehilangan sesuatu. Rasanya pahit bercampur manis.”
Ketegangan antara Ocon dan tim memuncak ketika ia ditanya apakah keputusan Haas merupakan bentuk hukuman atas kritiknya terhadap mobil. “Tidak, saya rasa itu tidak ada hubungannya,” bantahnya. “Saya hanya menjalankan tugas, berusaha membawa mobil ke tempat yang seharusnya. Pada akhirnya, itu menguntungkan semua orang di tim karena kami melihat hasil kerja keras, dan saya yang pertama menunjukkan masalahnya.” Ia menambahkan bahwa seluruh departemen teknik kini menyadari persoalan tersebut, sehingga bukan alasan pemecatannya.
“Anda tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi di F1. Segalanya bergerak setiap dua detik. Saya masih bekerja mencari solusi untuk tahun depan.” — Esteban Ocon
Dengan pintu Haas tertutup, opsi Ocon menyempit. Kursi yang mungkin kosong hanya di Cadillac, tempat Sergio Perez dan Valtteri Bottas memiliki opsi kontrak yang belum diambil. Ada pula kemungkinan peran test driver di Aston Martin, dengan prospek naik ke kursi balap begitu Fernando Alonso pensiun. Namun Ocon enggan berspekulasi. “Saya tidak akan bilang ke sini atau ke sana. Saya terus bekerja dengan tim, berusaha tampil baik, dan akan menilai opsi nanti. Yang pasti, saya ingin berada di grid tahun depan.”
Bagi penggemar F1 di Indonesia, saga ini menjadi pengingat bahwa olahraga ini tidak hanya soal kecepatan di lintasan, tetapi juga politik internal dan manajemen ekspektasi. Haas, yang memiliki basis penggemar kecil namun loyal, sering menjadi contoh bagaimana keterbatasan sumber daya memaksa tim mengambil keputusan sulit. Jika Ocon benar-benar tersingkir, ia akan bergabung dengan daftar panjang pembalap berbakat yang kariernya terhenti bukan karena kurang cepat, melainkan karena ketidakcocokan dengan mesin dan dinamika tim. Pertanyaannya kini: akankah ada tim yang berani menampung pembalap yang vokalnya sering dianggap mengganggu, atau justru kejujurannya yang menjadi nilai jual di paddock yang penuh pencitraan?



