Bottas Ungkap Biang Kerok Performa Buruk di Azerbaijan: Suspensi dan Mesin Lama Ferrari
Baca dalam 60 detik
- Valtteri Bottas menyebut degradasi peredam kejut dan mesin Ferrari spek lama sebagai penyebab utama pace buruknya di Grand Prix Azerbaijan.
- Ia konsisten 6-7 km/jam lebih lambat dari Sergio Perez di trek lurus karena perbedaan spesifikasi power unit.
- Performa buruk Cadillac di Baku memicu kekhawatiran menjelang balapan berikutnya di Sirkuit Sepang, Malaysia.

Valtteri Bottas mengungkapkan penyebab di balik penampilan mengecewakannya pada Grand Prix Azerbaijan akhir pekan lalu. Pebalap Cadillac itu menuding degradasi peredam kejut (damper) dan penggunaan mesin Ferrari spek lama sebagai faktor utama yang membuatnya kesulitan bersaing di Sirkuit Baku.
Bottas harus puas berkutat di posisi bawah sepanjang balapan, kontras dengan rekan setimnya Sergio Perez yang tampil impresif di trek yang memang menjadi spesialisasinya. Balapan Bottas berakhir tragis di lap terakhir setelah menabrak pembatas di Tikungan 15, akibat kegagalan sistem pengereman mesin saat superclipping.
“Saya paham dari luar terlihat sangat buruk; saya juga merasa sangat buruk di dalam mobil. Tidak ada cara untuk mengikuti rombongan,” ujar Bottas mengenang balapan tersebut. Ia mengaku telah mencoba berbagai setelan, namun tetap kehilangan waktu signifikan, terutama di trek lurus dan tikungan.
Masalah utama yang diidentifikasi Bottas adalah degradasi peredam kejut akibat panas selama balapan. Komponen ini berfungsi meredam energi dari guncangan dan trotoar, tetapi ketika suhu meningkat, viskositas fluida di dalamnya menurun sehingga redaman melemah. Akibatnya, sasis menerima beban berlebih dan handling mobil memburuk, terutama di sirkuit bergelombang seperti Baku.
Selain itu, Bottas juga menyoroti kekurangan informasi aerodinamis pada lantai mobil. Ia mengaku tidak memiliki data tekanan yang cukup untuk memantau performa komponen tersebut secara real-time. “Kami masih buta di beberapa bagian lantai,” tambahnya. Kombinasi masalah mekanis dan kurangnya data ini membuatnya sulit merasakan mobil sepanjang balapan.
Faktor lain yang memperparah keadaan adalah perbedaan spesifikasi mesin. Bottas menggunakan power unit Ferrari spek lama, sementara Perez sudah memakai mesin “ADUO 2” terbaru. Perbedaan ini membuat Bottas konsisten 6-7 km/jam lebih lambat di trek lurus, sebuah defisit yang sulit dikompensasi dengan setelan apa pun.
Meski demikian, Bottas menilai infrastruktur tim Cadillac cukup kuat dan terus berkembang. Namun, ia mengakui bahwa proses desain mobil pertama yang terburu-buru telah mengorbankan performa puncak. “Kami memiliki alat yang bagus, tapi tidak secanggih yang diharapkan. Pasti akan ada perubahan suspensi di mobil tahun depan,” jelasnya. Pernyataan ini sejalan dengan komentar principal tim, Marcin Budkowski, yang menyebut tim terpaksa mengambil jalan pintas untuk memenuhi tenggat produksi.
“Saat ini masalah utamanya adalah kurangnya downforce dan drag yang besar. Kami tahu tahun pertama ini akan sulit,” ujar Sergio Perez.
Sergio Perez, yang sempat berada di ambang zona poin, mengakui bahwa performanya di Baku adalah anomali. “Saya membuat perbedaan besar di sana, tapi di sini akan kembali ke realita kami,” ujarnya. Perez juga menyoroti dua masalah utama Cadillac: kurangnya downforce dan drag berlebih, yang membuat mobil sulit bersaing di trek lurus.
Menjelang Grand Prix Bahrain di Sirkuit Sepang, Malaysia, akhir pekan ini, Bottas dan Perez tidak memiliki ekspektasi tinggi. Perez bahkan menyebut Baku sebagai “one-off” dan memperkirakan tim akan kembali kesulitan. “Saya tidak terlalu bersemangat menyambut akhir pekan ini,” akunya.
Bagi penggemar Formula 1 di Indonesia, perjuangan Cadillac ini menjadi cerminan betapa kompleksnya membangun tim dari nol. Dengan regulasi teknis yang ketat dan persaingan ketat, setiap detail—dari damper hingga spesifikasi mesin—bisa menjadi penentu. Akankah Cadillac mampu bangkit dan memberikan kejutan di Sepang, atau justru semakin terpuruk? Kita tunggu aksinya di lintasan.



