Herdman Buka Suara soal Adaptasi Vickery dan Baker: Mereka Proyek Jangka Panjang Timnas Indonesia
Baca dalam 60 detik
- John Herdman menegaskan Luke Vickery dan Mitchell Baker masih dalam tahap awal karier profesional meski sudah dipercaya memperkuat Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026.
- Kecepatan Vickery dianggap mengisi celah yang lama absen dari permainan skuad Garuda, sementara peran pemain senior menjadi kunci percepatan integrasi keduanya.
- Laga pamungkas Grup A melawan Bangladesh di SUGBK menjadi ujian berikutnya bagi Herdman untuk mengukur seberapa jauh proses adaptasi dua pemain naturalisasi muda itu berjalan.

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, menilai proses integrasi Luke Vickery dan Mitchell Baker di skuad Garuda belum memasuki fase matang. Keduanya disebut masih berada di titik awal perjalanan sebagai pesepak bola profesional, meski telah dipercaya tampil di ajang FIFA ASEAN Cup 2026.
Pernyataan itu disampaikan Herdman di tengah sorotan publik terhadap dua pemain naturalisasi yang baru resmi menyandang status Warga Negara Indonesia pada awal tahun ini. Menurutnya, banyak pihak kerap melupakan bahwa usia 19 tahun bukanlah usia yang lazim bagi pemain untuk langsung menanggung beban kompetisi internasional.
"Ada proses integrasi jangka panjang bagi pemain berusia 19 tahun yang baru memulai perjalanan dalam sepak bola," ujar Herdman, dikutip dari keterangannya kepada media.
Herdman menggarisbawahi bahwa kualitas teknis keduanya sudah terlihat jelas di lapangan. Namun, yang tak kalah penting adalah peran pemain senior yang secara aktif merangkul Vickery dan Baker, mulai dari menjaga fokus hingga memberi arahan soal pengambilan keputusan di momen-momen krusial pertandingan.
Secara spesifik, Herdman menyoroti minimnya jam terbang Vickery di sepak bola profesional. Winger berusia 20 tahun itu hanya melewati satu musim kompetisi sebelum dipanggil memperkuat Indonesia. Kondisi ini, menurut Herdman, menuntut pendekatan berbeda dalam pengelolaan pemain muda, terutama terkait ekspektasi publik yang tinggi.
Meski demikian, Herdman menilai Vickery telah memperlihatkan satu atribut yang selama ini sulit ditemukan di skuad Garuda: kecepatan. Elemen tersebut dinilai memberi variasi baru dalam pola serangan tim, terutama ketika Indonesia membutuhkan pemain dinamis yang mampu melebar dan mengirim umpan silang berkualitas.
"Dia sudah menunjukkan kepada para penggemar di sini bahwa tim kami memiliki sesuatu yang kurang, yaitu kecepatan," papar Herdman.
Kontribusi nyata Vickery terlihat pada laga debutnya, ketika ia mencatatkan assist. Bagi Herdman, capaian itu menjadi indikator awal bahwa pemain muda tersebut mampu menghadapi tekanan pertandingan besar, sesuatu yang tidak selalu dimiliki pemain seusianya.
Faktor non-teknis juga disebut Herdman mempercepat proses adaptasi. Vickery dan Baker merupakan teman dekat yang tumbuh di wilayah yang sama di Australia, dan keduanya memiliki kebanggaan terhadap warisan Indonesia mereka. Kedekatan personal ini, menurut Herdman, membantu keduanya merasa lebih cepat diterima di lingkungan tim.
Dari perspektif pembinaan, langkah Herdman memberi ruang bagi pemain muda di ajang sekelas FIFA ASEAN Cup 2026 bisa dibaca sebagai investasi jangka panjang. Timnas Indonesia tidak hanya mengejar hasil instan di turnamen ini, tetapi juga menyiapkan fondasi untuk siklus kompetisi berikutnya, termasuk kualifikasi Piala Asia dan Piala Dunia.
Namun, pendekatan tersebut menyimpan risiko. Menurunkan pemain dengan pengalaman profesional terbatas di laga-laga bertekanan tinggi dapat berujung pada inkonsistensi performa. Di sinilah peran pemain senior menjadi penopang, baik sebagai mentor di ruang ganti maupun sebagai pengatur ritme di lapangan.
Timnas Indonesia sendiri akan menghadapi laga penentuan Grup A melawan Bangladesh di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Kamis (1/10/2026). Hasil pertandingan ini akan menentukan langkah Indonesia di fase berikutnya sekaligus menjadi tolok ukur seberapa jauh proses integrasi Vickery dan Baker berjalan.
Pertanyaannya, apakah Herdman akan tetap memberi kepercayaan kepada dua pemain muda itu di laga sepenting melawan Bangladesh, atau memilih pengalaman sebagai prioritas? Jawaban atas pilihan tersebut akan memperlihatkan arah pembangunan Timnas Indonesia di bawah kepemimpinannya.



