Nolberto Solano Bernostalgia di Jakarta: Jersey Peru Era 1970-an dan Tantangan Melatih Pakistan
Baca dalam 60 detik
- Nolberto Solano menerima jersey Timnas Peru era 1970-an dari jurnalis Indonesia di Stadion Madya GBK, memicu kenangan masa lalu.
- Pelatih berusia 51 tahun itu tengah menangani Timnas Pakistan, negara tanpa liga profesional dan berperingkat 198 FIFA.
- Momen ini menyoroti peran FIFA ASEAN Cup 2026 sebagai panggung pertemuan budaya sepak bola lintas generasi.

Nama Nolberto Solano mungkin sudah lama absen dari panggung sepak bola Asia, tetapi kehadirannya di Jakarta pekan ini justru memantik cerita yang jarang tersorot. Pelatih Timnas Pakistan itu menerima sebuah jersey bersejarah Timnas Peru dari seorang jurnalis Indonesia, Muhammad Robbani, seusai sesi latihan di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Rabu (30/9/2026). Jersey tersebut berasal dari era 1970-an, jauh sebelum Solano menginjakkan kaki di lapangan hijau sebagai pemain profesional.
Robbani, yang dikenal sebagai kolektor jersey lintas era, sengaja membawa artefak itu begitu mengetahui Pakistan akan berlatih di Jakarta. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk meminta tanda tangan legenda Peru itu. Reaksi Solano pun spontan. “Wah, banyak sekali kenangan yang muncul,” ujarnya singkat, seperti dikutip dari laporan Bola.com. Namun, ia segera menyadari satu hal: jersey itu bukan dari masa kejayaannya. “Banyak kenangan, tapi saya tidak setua itu,” tambahnya sambil tertawa.
Momen ini lebih dari sekadar interaksi penggemar dan idola. Bagi Solano, jersey Peru era 1970-an merepresentasikan generasi yang membentuk fondasi sepak bola negaranya, jauh sebelum ia menjadi bagian dari tim nasional pada 1990-an hingga awal 2000-an. Sementara bagi Robbani, ini adalah bentuk apresiasi terhadap sejarah sepak bola yang sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk turnamen modern.
Solano bukan nama asing di dunia sepak bola. Ia pernah menjadi asisten pelatih Timnas Peru sebelum menerima tawaran menjadi pelatih kepala Pakistan. Keputusan itu tergolong berani. Pakistan adalah negara dengan infrastruktur sepak bola yang belum mapan. Tidak adanya liga profesional domestik menjadi hambatan struktural yang jarang dihadapi pelatih Eropa atau Amerika Latin. Peringkat FIFA yang stagnan di posisi 198 menegaskan betapa panjangnya jalan yang harus ditempuh.
Namun, justru di sinilah nilai strategis kehadiran Solano. Ia membawa pengalaman dari sepak bola Amerika Selatan yang kompetitif ke lingkungan yang serba terbatas. Tantangan ini bukan hanya soal taktik, melainkan juga membangun budaya sepak bola dari akar rumput. Dalam konteks FIFA ASEAN Cup 2026, keikutsertaan Pakistan—meski bukan anggota ASEAN—menunjukkan perluasan turnamen yang semakin inklusif. Ajang ini menjadi laboratorium bagi tim-tim dengan sumber daya terbatas untuk mengukur diri melawan lawan yang lebih mapan.
“Banyak kenangan, tapi saya tidak setua itu.” — Nolberto Solano, Pelatih Timnas Pakistan
Bagi Indonesia, cerita ini memperkuat posisi Jakarta sebagai tuan rumah yang tidak hanya menyajikan pertandingan, tetapi juga ruang pertemuan budaya sepak bola. Kehadiran pelatih sekaliber Solano, meski bersama tim yang belum diperhitungkan, menambah bobot turnamen. Ini juga menjadi kesempatan bagi publik sepak bola nasional untuk melihat langsung bagaimana negara dengan keterbatasan mencoba membangun tim.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya soal hasil di lapangan. Apakah Solano mampu mentransformasi Pakistan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di Asia, ataukah ini hanya persinggahan singkat sebelum ia kembali ke Amerika Latin? Yang jelas, momen di Stadion Madya menunjukkan bahwa sepak bola selalu punya cara untuk menghubungkan generasi, bahkan melalui sehelai jersey lama yang dibawa seorang kolektor dari Jakarta.



