NASCAR Suspensi Tak Terbatas Chad Bryant dan Kru Usai Keroyok Corey Heim di Martinsville
Baca dalam 60 detik
- NASCAR menjatuhkan sanksi tanpa batas waktu kepada pemilik tim Chad Bryant dan anggota kru Steven Civitarese karena terlibat dalam penyerangan fisik terhadap pembalap Corey Heim.
- Insiden terjadi setelah balapan ValleyStar Credit Union 300 di Martinsville, memicu kritik keras dari Denny Hamlin yang menyebut para penyerang sebagai 'pengecut'.
- Total tujuh orang didenda dan dua diskors dalam dua perkelahian terpisah, menandai tindakan disipliner terbesar NASCAR musim ini.

NASCAR bergerak cepat menindak kerusuhan yang melibatkan pembalap muda Corey Heim di Martinsville Speedway. Chad Bryant, pemilik tim Chad Bryant Racing (CBR), dan anggota kru Steven Civitarese diskors tanpa batas waktu akibat serangan fisik terhadap Heim setelah balapan ValleyStar Credit Union 300, akhir pekan lalu. Keputusan ini menandai salah satu sanksi terberat yang dijatuhkan NASCAR dalam beberapa tahun terakhir.
Insiden bermula dari bentrokan di lintasan antara Heim dan pembalap CBR, Treyten Lapcevich, pada akhir balapan late model tersebut. Setelah bendera finis dikibarkan, sejumlah anggota tim CBR mendekati Heim yang saat itu terpisah dari rombongannya. Bryant dan Civitarese dilaporkan memukul Heim berulang kali di dekat area stand makanan, sementara Heim tidak membalas. Rekaman video yang beredar memperlihatkan aksi satu arah yang membuat publik motorsport geram.
Hukuman tidak berhenti pada Bryant dan Civitarese. NASCAR juga mendenda Ryden Lapcevich, saudara Treyten, sebesar $500 dan menempatkannya dalam masa percobaan hingga akhir musim 2027. Ryden tidak terlibat dalam keributan, namun dianggap melanggar kode etik keanggotaan. Sementara itu, perkelahian terpisah antara pembalap Brad Houseright dan Chad Burrow setelah balapan heat membuat satu pembalap berlumuran darah. Keduanya didenda $250 dan menjalani masa percobaan hingga 2027, sedangkan dua kru yang berafiliasi dengan Burrow, Ryan Burrow dan Dylan Jenks, masing-masing didenda $500 dengan status serupa.
"Mereka pengecut," ujar Denny Hamlin, co-owner 23XI Racing, dalam podcast-nya, Actions Detrimental, merujuk pada aksi pengecut yang menyerang Heim saat terisolasi.
Hamlin, yang juga pembalap veteran dan memiliki pengaruh besar di paddock, secara terbuka menyerukan agar NASCAR menghukum berat para pelaku. Kritiknya menyoroti masalah budaya keselamatan di balapan regional, di mana pengawasan sering kali lebih longgar dibandingkan seri utama. Heim sendiri merupakan rekrutan anyar 23XI Racing, tim yang dimiliki Hamlin bersama legenda NBA Michael Jordan, dan baru saja memenangkan Brickyard 400. Insiden ini mencoreng momen penting dalam kariernya.
Dari perspektif regulasi, langkah NASCAR ini mempertegas batas antara persaingan sengit di lintasan dan kekerasan di luar lintasan. Sanksi tanpa batas waktu plus kewajiban pelatihan manajemen amarah menunjukkan pendekatan rehabilitatif, bukan sekadar hukuman. Namun, beberapa pengamat menilai denda yang relatif kecil tidak akan menimbulkan efek jera bagi tim-tim dengan kantong tebal. Perbandingan dengan insiden serupa di masa lalu, seperti perkelahian di pit lane pada 2022, menunjukkan bahwa NASCAR cenderung meningkatkan hukuman ketika ada tekanan publik dan tokoh berpengaruh seperti Hamlin angkat bicara.
Bagi penggemar di Indonesia, kasus ini menjadi cermin bagaimana federasi olahraga otomotif nasional dapat menegakkan disiplin tanpa kompromi. Sirkuit seperti Mandalika dan Sentul kerap menghadapi tantangan serupa dalam mengontrol emosi peserta dan kru, terutama di ajang balap lokal yang kompetitif. Pelajaran dari NASCAR adalah pentingnya sanksi yang konsisten dan transparan, serta keterlibatan tokoh senior untuk mengawal integritas kompetisi. Tanpa itu, citra olahraga bisa rusak dan sponsor menjauh.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah skorsing ini akan efektif mencegah kekerasan serupa, atau justru memicu balas dendam di lintasan. NASCAR juga perlu memastikan bahwa proses reinstatement Bryant nanti benar-benar ketat, bukan sekadar formalitas. Jika tidak, preseden buruk bisa terulang dan merusak kepercayaan publik terhadap sportivitas balap.



