CEO Xbox Bantah Isu Penjualan: 'Xbox Tidak Dijual' di Tengah Gelombang PHK
Baca dalam 60 detik
- Asha Sharma menegaskan divisi Xbox tidak akan dilepas ke pihak lain meski rumor spin-off menguat.
- Restrukturisasi besar-besaran memangkas empat studio dan mengubah model layanan Game Pass.
- Peluncuran konsol generasi berikutnya, Project Helix, tetap berjalan di tengah ketidakpastian organisasi.

Di tengah gejolak internal yang mengguncang divisi gim Microsoft, CEO Xbox Asha Sharma menyatakan dengan tegas bahwa unit bisnisnya tidak akan dijual. Pernyataan ini sekaligus membantah spekulasi yang beredar luas setelah serangkaian pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran dan pembubaran sejumlah studio internal sepanjang tahun ini.
Dalam wawancara dengan The New York Times, Sharma menepis anggapan bahwa langkah "reset" yang dilakukan Microsoft—yang berdampak pada hilangnya ratusan posisi dan pergeseran kepemilikan studio—merupakan sinyal bahwa raksasa teknologi itu akan meninggalkan industri gim. "Kami masih memiliki perjalanan panjang bersama Microsoft, dan kami akan mengambil perspektif jangka panjang," ujarnya, seperti dikutip dalam profil tersebut.
Sharma, yang menggantikan Phil Spencer pada Februari lalu, langsung mengambil kendali dan melakukan perubahan signifikan. Ia menilai industri gim saat ini membutuhkan disrupsi. Pendekatannya terlihat kontras dengan era Spencer yang lebih konservatif. Di bawah kepemimpinannya, Xbox telah menurunkan harga langganan Game Pass di tengah jumlah pelanggan yang stagnan, serta menghapus penawaran premium berupa akses gim Call of Duty terbaru pada hari pertama peluncuran. Langkah ini diambil untuk merampingkan biaya operasional yang membengkak.
Menanggapi laporan yang menyebutkan potensi spin-off atau penjualan merek Xbox, Sharma bersikeras. "Xbox tidak dijual. Kami akan melakukan apa pun untuk membuat perusahaan ini sukses, dan kami akan melihat kemitraan yang tepat, model operasional yang tepat, dan segala hal yang diperlukan untuk mencapainya," tegasnya.
"Kami masih memiliki perjalanan panjang bersama Microsoft, dan kami akan mengambil perspektif jangka panjang." — Asha Sharma, CEO Xbox
Salah satu wujud nyata dari strategi kemitraan baru adalah kesepakatan dengan Kojima Productions untuk menerbitkan Physint, penerus spiritual Metal Gear Solid. Menariknya, kesepakatan ini terjadi setelah Sony dikabarkan mundur dari proyek tersebut. Menurut laporan The Times, nilai kontrak dengan Kojima Productions jauh di bawah biaya yang biasanya dikeluarkan Xbox untuk mengembangkan gim premium. Namun, kesepakatan itu mencakup hak adaptasi untuk televisi dan film dari IP Physint, sebuah langkah diversifikasi yang jarang dilakukan Xbox di masa lalu.
Meski Sharma menegaskan komitmen jangka panjang, ketidakpastian masih menyelimuti. Ratusan PHK tambahan masih direncanakan, dan peluncuran Project Helix—konsol generasi berikutnya—semakin dekat. Rencana yang ada saat ini bisa berubah sewaktu-waktu, mencerminkan dinamika industri yang keras.
Bagi pasar Indonesia, pergerakan Xbox ini patut dicermati. Meskipun pangsa pasar konsol di Tanah Air tidak sebesar PC dan mobile, kebijakan Game Pass dan ketersediaan gim di platform Xbox memengaruhi ekosistem gim lokal, terutama bagi pengembang yang mengandalkan distribusi global. Jika Xbox benar-benar memperluas kemitraan dan model operasi baru, peluang kolaborasi dengan studio Asia Tenggara bisa terbuka, asalkan stabilitas internal terjaga.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi soal dijual atau tidak, melainkan seberapa dalam Microsoft siap mengubah DNA Xbox untuk bertahan di pasar yang semakin kompetitif. Apakah strategi disrupsi Sharma akan membuahkan hasil, atau justru mempercepat eksodus talenta dan basis penggemar? Waktu yang akan menguji, tetapi satu hal yang pasti: Xbox tidak akan menyerah tanpa perlawanan.



