Krisis Air di Sikka: Warga Palue Andalkan Batang Pisang demi Setetes Air Bersih
Baca dalam 60 detik
- Warga Desa Tuanggeo, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, NTT, terpaksa menyadap air dari batang pohon pisang karena krisis air bersih yang berlangsung tiga pekan.
- Setiap rumah hanya mampu mengumpulkan 2โ3 liter per hari dari batang pisang, meski rasanya sepat dan pahit, untuk mandi, mencuci, dan memasak.
- Hingga kini belum ada bantuan air bersih dari pemerintah daerah, sementara Bupati Sikka belum memberikan tanggapan resmi.

Krisis air bersih yang melanda Desa Tuanggeo, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), memaksa warga berimprovisasi dengan cara yang jarang terpikirkan: menyadap air dari batang pohon pisang. Selama hampir tiga pekan, sumur dan sumber air di desa tersebut mengering, dan warga tidak memiliki akses ke pasokan air layak konsumsi.
Nestor Langga, seorang warga setempat, menuturkan bahwa setiap hari ia dan tetangganya hanya bisa mengandalkan air yang menetes dari batang pisang. โDalam sehari, paling banyak kami dapat dua sampai tiga liter,โ ujarnya, Selasa (29/9), seperti dikutip dari detikBali. Air tersebut digunakan untuk mandi, mencuci, hingga memasak. Meski rasanya sepat dan agak pahit, warga tidak punya pilihan lain.
Krisis ini bukan yang pertama terjadi di Palue, sebuah kecamatan kepulauan yang secara geografis memang rawan kekeringan. Namun, lamanya musim kemarau tahun ini membuat situasi jauh lebih parah. Warga mengaku belum menerima bantuan air bersih dari pemerintah kabupaten maupun lembaga terkait. Hingga berita ini diturunkan, Bupati Sikka, Yuventus Prima Yoris Kago, belum memberikan respons atas permintaan konfirmasi.
Palue selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah terkering di NTT. Letaknya yang berada di kawasan kepulauan dengan curah hujan rendah membuat akses air bersih menjadi persoalan kronis. Beberapa tahun lalu, Presiden ke-7 RI Joko Widodo sempat menginap di Palue dalam rangkaian kunjungannya ke korban gempa Flores. Dalam kesempatan itu, warga menyampaikan keluhan tentang kebutuhan teknologi penyulingan air laut menjadi air tawar. Hingga kini, harapan tersebut belum terwujud.
โKami hanya bisa berharap ada bantuan. Selama ini, air batang pisang yang menyelamatkan kami,โ kata Nestor menggambarkan kondisi di lapangan.
Krisis air di Sikka mencerminkan persoalan lebih luas: ketimpangan infrastruktur dasar antara wilayah perkotaan dan kepulauan terpencil. Investasi dalam teknologi desalinasi atau penampungan air hujan sebenarnya bisa menjadi solusi jangka panjang, tetapi minimnya anggaran dan koordinasi antarlembaga sering kali menghambat realisasi. Padahal, perubahan iklim diprediksi akan memperpanjang musim kemarau di NTT, memperburuk kerentanan warga.
Pemerintah kabupaten dan provinsi perlu segera mengambil langkah darurat, setidaknya dengan mengirim pasokan air bersih secara rutin. Tanpa intervensi cepat, warga Palue akan terus bergantung pada cara-cara primitif yang tidak menjamin kesehatan. Pertanyaannya, sampai kapan mereka harus bertahan dengan air batang pisang?



