Bank Sentral Korsel Kembali Beli Emas Setelah 13 Tahun, Sinyal Diversifikasi Cadangan
Baca dalam 60 detik
- Bank of Korea akan membeli sekitar satu ton emas domestik, pembelian pertama sejak 2013.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya diversifikasi cadangan devisa yang saat ini hanya 3,4% dalam bentuk emas.
- Keputusan tersebut dapat memicu bank sentral lain di Asia untuk meninjau kembali alokasi emas mereka.

Bank of Korea (BOK) bersiap melakukan pembelian emas pertamanya dalam 13 tahun, dengan mengakuisisi sekitar satu ton emas produksi dalam negeri. Menurut laporan Seoul Economic Daily yang dikutip dari anggota Komisi Strategi dan Keuangan Majelis Nasional, Chung Tae-ho dari Partai Demokrat, langkah ini menjadi awal dari upaya diversifikasi aset cadangan bank sentral Korea Selatan.
BOK terakhir membeli emas pada 2013, sebelum akhirnya menghentikan pembelian karena harga yang menurun dan meningkatnya kritik politik terhadap kebijakan tersebut. Kini, dengan harga emas yang kembali menguat dan ketidakpastian global yang tinggi, bank sentral memilih untuk kembali mengakumulasi logam mulia itu. Hingga akhir Agustus, cadangan emas BOK tercatat 104,4 ton, hanya setara 3,4% dari total aset berdasarkan harga pasar.
Chung menilai keputusan ini sebagai langkah awal yang diperlukan untuk mendiversifikasi cadangan Korea. "Ini adalah langkah pertama yang penting untuk mengurangi ketergantungan pada aset tertentu," ujarnya dalam pernyataan yang dikutip media tersebut. Diversifikasi ini dinilai krusial di tengah fluktuasi nilai tukar dan ketegangan geopolitik yang dapat mempengaruhi nilai cadangan devisa.
Langkah BOK ini dapat menjadi sinyal bagi bank sentral lain di Asia, termasuk Indonesia. Bank Indonesia (BI) juga memiliki cadangan emas yang relatif kecil, sekitar 3,1% dari total cadangan devisa per September 2026. Jika tren pembelian emas oleh bank sentral utama berlanjut, BI mungkin akan mempertimbangkan untuk meningkatkan porsi emas dalam portofolio cadangan mereka guna memperkuat ketahanan terhadap guncangan eksternal.
"Keputusan BOK untuk membeli emas lagi menunjukkan bahwa bank sentral mulai kembali melihat emas sebagai aset lindung nilai yang strategis," kata analis komoditas dari Seoul, Kim Ji-hyun, seperti dikutip Reuters.
Pasar emas global merespons positif berita ini. Harga emas spot naik 0,5% ke level US$2.450 per ons pada perdagangan Asia, meskipun masih dalam rentang konsolidasi. Analis memperkirakan bahwa jika lebih banyak bank sentral mengikuti jejak BOK, permintaan emas dapat meningkat, terutama dari sektor resmi yang selama ini menjadi penopang harga.
Bagi Indonesia, langkah BOK ini bisa menjadi cermin. Dengan cadangan devisa yang besar namun porsi emasnya kecil, ada ruang untuk diversifikasi. Namun, kebijakan moneter dan kebutuhan likuiditas tetap menjadi pertimbangan utama. Apakah Bank Indonesia akan mengikuti langkah Korea Selatan? Waktu yang akan menjawab, tetapi tekanan global untuk memperkuat cadangan dalam aset non-dolar semakin nyata.



