MU Rekrut David Eze, Remaja 16 Tahun yang Disebut 'Pogba Baru' dari Manchester City
Baca dalam 60 detik
- Manchester United merekrut David Eze, gelandang 16 tahun, dari akademi Manchester City sebagai bagian dari strategi rekrutmen muda agresif era INEOS.
- Eze digadang-gadang memiliki kemiripan dengan Paul Pogba, yang juga bergabung ke MU pada usia 16 tahun dan menjadi rekor transfer £89 juta.
- Langkah ini menandai pergeseran pendekatan MU dari belanja mahal ke pengembangan talenta muda, dengan implikasi bagi sepak bola Indonesia dalam pengelolaan pemain usia dini.

Manchester United secara mengejutkan merekrut David Eze, gelandang berbakat berusia 16 tahun, dari rival sekota Manchester City. Langkah ini menjadi bagian dari strategi rekrutmen pemain muda yang agresif di bawah kepemimpinan INEOS, menandai pergeseran haluan klub dari kebiasaan belanja besar ke pengembangan talenta potensial.
Eze, yang telah menarik perhatian sebagai pemain dominan di level akademi, disebut memiliki kemiripan dengan Paul Pogba—baik dari segi fisik maupun gaya bermain. Pogba sendiri merupakan rekrutan termahal dalam sejarah MU dengan nilai £89 juta pada 2016, namun kariernya di Old Trafford tidak konsisten. Kini, MU berharap Eze dapat mengikuti jejak awal Pogba yang bersinar di tim muda sebelum akhirnya menembus tim utama.
Rekrutmen ini tidak lepas dari konteks ketatnya persaingan di Premier League. Klub-klub besar seperti Manchester City, Chelsea, dan Arsenal terus memperkuat skuad dengan dana besar, sementara MU di bawah INEOS tampaknya memilih pendekatan berbeda: membangun fondasi dari akademi. Jason Wilcox, yang bertanggung jawab atas pengembangan pemain muda, disebut berperan penting dalam kesepakatan ini.
Menurut koresponden United, Katherine Walsh, Eze memiliki 'kombinasi langka antara kekuatan fisik, tinggi badan, dan teknik' yang mengingatkan pada Pogba. Potensi ini membuat MU optimistis bahwa mereka mendapatkan permata baru. Namun, tantangan tetap ada: banyak pemain muda berbakat yang gagal bersinar di Old Trafford karena tekanan dan kurangnya kesempatan.
"Kombinasi langka antara kekuatan fisik, tinggi badan, dan teknik telah menarik perbandingan besar dengan Pogba," ujar Walsh.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, langkah MU ini bisa menjadi cermin bagaimana klub-klub besar Eropa mulai kembali menaruh perhatian pada pembinaan usia dini. Di Indonesia, pengelolaan pemain muda masih menjadi pekerjaan rumah besar, dengan kompetisi usia muda yang belum optimal. Keberhasilan MU dalam mengorbitkan Eze bisa menjadi studi kasus tentang pentingnya infrastruktur akademi dan kesabaran dalam mengembangkan talenta.
Jika Eze berhasil, ia bisa menjadi simbol kebangkitan MU di era INEOS—sebuah era yang mungkin lebih hemat namun berfokus pada keberlanjutan. Namun, jika gagal, ia akan menjadi pengingat bahwa label 'Pogba baru' tidak menjamin kesuksesan. Yang jelas, langkah ini menunjukkan bahwa MU serius membangun kembali kejayaan dari akar rumput.
Pertanyaannya, akankah Eze menjadi gelandang dominan yang selama ini dicari MU, atau justru tersesat dalam ekspektasi? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: sepak bola modern semakin menuntut klub untuk cerdas dalam mengelola sumber daya, termasuk pemain muda.



