Ella Langley Terbuka soal Hujatan Daring: "Aku Tak Cukup Kuat"
Baca dalam 60 detik
- Ella Langley mengaku kewalahan dengan serangan komentar negatif yang terus menghujaninya di media sosial.
- Di atas panggung Columbus, ia menyebut tekanan itu menyasar penampilan, gaya bicara, hingga cara menulis lagunya.
- Meski single "Choosin' Texas" memecahkan rekor Billboard, kesehatan mentalnya justru diuji oleh ekspektasi publik.

Penyanyi country Ella Langley mengungkapkan kerapuhan mentalnya di hadapan penggemar saat konser di Columbus, Ohio, 25 September lalu. Perempuan 27 tahun itu mengaku tidak selalu memiliki kekuatan untuk menghadapi banjir kritik yang menerpa dirinya di dunia maya.
Dalam sesi bicara di atas panggung, Langley menyatakan bahwa dalam setahun terakhir ia merasa hidupnya menjadi bahan penilaian publik tanpa henti. "Saya rasa belum pernah ada begitu banyak opini tentang diri saya seperti yang terjadi belakangan ini," ujarnya, dikutip dari laporan hiburan internasional.
Ia merinci bahwa serangan tersebut tidak hanya menyentuh karya musiknya, tetapi juga merambah ke ranah personal: cara ia berpenampilan, berbicara, berpakaian, bergerak, hingga cara ia menulis lagu. "Awalnya itu mengganggu saya. Saya bahkan sempat berpikir, apa yang harus saya lakukan? Jika ini yang harus saya hadapi, saya tidak yakin sanggup," tuturnya.
Pada satu titik, Langley terang-terangan meragukan ketangguhannya. "Saya tidak tahu apakah saya cukup kuat untuk ini, Tuhan," katanya, menggambarkan beban psikologis yang ia rasakan sebagai figur publik.
Meski begitu, ia berusaha membangkitkan kembali semangatnya dengan mengingat perjalanan kariernya. Ia bercerita tentang masa-masa sulit ketika harus menempuh perjalanan malam demi malam dengan van 15 penumpang atau Honda Accord, hidup dari makanan bar dan uang tip. "Gadis itu tidak punya apa-apa selain mimpi dan kemampuan untuk bangkit setiap hari. Saya bangga pada gadis yang sekarang tampaknya menjadi sasaran empuk itu," ujarnya.
Pernyataan ini muncul setelah insiden viral di Knoxville, Tennessee, di mana seorang pengguna TikTok meneriakinya dari balik pagar, menanyakan berapa jumlah suka yang diperlukan untuk mengajaknya kencan. Langley langsung menolak dengan jawaban singkat: "Tidak akan pernah cukup di dunia ini." Respons itu menuai kritik dari sebagian warganet yang menilai ia bisa menolak dengan cara lebih lembut.
Di sisi lain, karier musik Langley justru sedang menanjak. Single "Choosin' Texas" baru saja memecahkan rekor 23 minggu berturut-turut di puncak Billboard Hot 100, melampaui capaian Mariah Carey dengan "All I Want for Christmas Is You" yang bertahan 22 minggu. Prestasi ini menempatkannya sebagai salah satu penyanyi country dengan pencapaian tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam pesan video terpisah, Langley menyampaikan rasa syukurnya atas pencapaian tersebut. "Saya benar-benar kesulitan menemukan kata-kata untuk menjelaskan apa yang ada di kepala saya hari ini. Terima kasih telah mencintai lagu ini. Ini mengubah hidup saya, para penulisnya, dan keluarga saya," ucapnya.
Ia menambahkan bahwa momen itu terasa tidak nyata. "Seperti ada yang akan datang dan berkata, 'Kami hanya bercanda.' Tapi saya sangat bersemangat bisa mengalami momen seperti ini dalam hidup saya," katanya.
Fenomena tekanan daring yang dialami Langley bukan hal baru di industri hiburan global. Banyak musisi muda harus menyeimbangkan antara ekspektasi penggemar, tuntutan industri, dan kesehatan mental. Di Indonesia, kasus serupa juga kerap menimpa selebritas tanah air, yang sering menjadi sasaran komentar pedas di media sosial. Hal ini menyoroti perlunya kesadaran akan dampak psikologis dari budaya komentar daring yang semakin agresif.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa jauh industri musik dapat melindungi artisnya dari tekanan psikologis yang timbul akibat interaksi daring? Langley sendiri tampaknya masih berusaha bertahan, meski ia mengakui kerap merasa tidak cukup kuat. Dukungan dari penggemar dan manajemen menjadi kunci agar bakat-bakat muda tidak tumbang oleh hujatan yang tak berkesudahan.



