OpenAI Kejar Valuasi Rp21.000 Triliun, Tunda IPO Demi Keamanan AI
Baca dalam 60 detik
- OpenAI mengincar pendanaan segar minimal USD30 miliar dengan valuasi sekitar USD1,4 triliun, menunda rencana IPO hingga 2026.
- Pendapatan tahunan perusahaan dikabarkan melampaui USD40 miliar dan naik 70% sejak Juli, sementara produk agen AI 'Dots' dan langganan USD500 diluncurkan.
- Langkah ini memanaskan persaingan dengan Anthropic yang bersiap IPO November dan berpotensi bernilai lebih dari USD2 triliun.

OpenAI dikabarkan tengah menggalang dana segar minimal USD30 miliar dengan valuasi sekitar USD1,4 triliun, setelah memutuskan menunda penawaran umum perdana (IPO) hingga 2026. Langkah ini menandai salah satu upaya pendanaan terbesar dalam sejarah perusahaan rintisan teknologi dan menegaskan ambisi OpenAI mendominasi pasar kecerdasan buatan global.
Menurut laporan Bloomberg, pendanaan tersebut akan memperkuat posisi modal OpenAI sebelum akhirnya melantai di bursa. Sebelumnya, pada Maret lalu, pengembang ChatGPT itu mengumpulkan USD122 miliar dengan valuasi USD852 miliar. CEO Sam Altman menyatakan perusahaan tidak akan go public tahun ini, dengan alasan meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan AI serta tantangan beradaptasi dengan sistem yang semakin canggih.
Di sisi operasional, kinerja keuangan OpenAI menunjukkan akselerasi. Pendapatan tahunan (annualised revenue run rate) menembus USD40 miliar pada musim panas dan dilaporkan naik 70% sejak Juli. Perusahaan juga memperluas penawaran komersialnya dengan meluncurkan agen AI yang selalu aktif bernama Dots serta tier langganan seharga USD500.
Persaingan di sektor AI kian memanas. Rival utama, Anthropic, diperkirakan akan melantai di bursa pada November dengan valuasi yang berpotensi melebihi USD2 triliun. Prospektus IPO Anthropic mengungkap rencana belanja USD518 miliar untuk komputasi awan dan infrastruktur. Langkah agresif kedua perusahaan ini mencerminkan betapa besarnya taruhan modal di industri AI yang sedang bertransformasi cepat.
"Kami tidak akan go public tahun ini. Fokus kami adalah memastikan keselamatan dan kesiapan sistem sebelum membuka akses lebih luas ke pasar modal," ujar Sam Altman dalam pernyataan yang dikutip Bloomberg.
Bagi Indonesia, dinamika pendanaan OpenAI dan persaingan dengan Anthropic memiliki implikasi langsung. Pertama, gelombang modal besar ini akan mempercepat adopsi AI di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, melalui ekspansi layanan cloud dan agen AI. Kedua, perusahaan teknologi dalam negeri perlu mengantisipasi tekanan kompetitif dari produk global yang semakin murah dan canggih. Ketiga, pemerintah dan regulator diharapkan mempercepat penyusunan kerangka tata kelola AI yang seimbang antara inovasi dan perlindungan data.
Selain itu, langkah OpenAI menunda IPO dapat memengaruhi sentimen investor terhadap sektor teknologi di pasar modal global, termasuk Bursa Efek Indonesia. Meski tidak serta-merta mengubah arus investasi, keputusan ini memberi sinyal bahwa perusahaan AI masih memprioritaskan pertumbuhan jangka panjang dan keamanan dibanding tekanan pasar jangka pendek.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa lama OpenAI dapat mempertahankan laju pendanaan tanpa akses pasar publik, dan apakah strategi agen AI serta langganan premium mampu menopang valuasi yang terus melambung. Sementara itu, langkah Anthropic menuju IPO akan menjadi ujian bagi selera investor terhadap sektor AI yang kian matang.



