Paus Fransiskus Serang 'AI Slop': Algoritma Tak Punya Percikan Kemanusiaan
Baca dalam 60 detik
- Paus Fransiskus menegaskan bahwa karya seni manusia dan output mesin memiliki perbedaan ontologis, bukan sekadar estetika.
- Anthropic dilaporkan melobi Vatikan agar mempertimbangkan kesadaran model AI, namun mendapat penolakan halus.
- Ketegangan antara Gereja Katolik dan industri AI memunculkan pertanyaan tentang batas antara penciptaan ilahi dan komputasi statistik.

Paus Fransiskus kembali menyuarakan kritik tajam terhadap produk kecerdasan buatan yang dianggap merendahkan martabat manusia. Dalam pesan terbarunya di platform X, Pemimpin Gereja Katolik sedunia itu menegaskan bahwa ada perbedaan mendasar antara karya seni yang diciptakan manusia dan gambar atau teks yang dihasilkan algoritma. "Algoritma tidak memiliki percikan kemanusiaan," tulisnya, seraya menyerukan aliansi baru antara Gereja dan para seniman untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Pernyataan ini bukan sekadar seruan moral. Sejak beberapa bulan terakhir, Vatikan memang berada di pusat perdebatan tentang batas etis AI. Menurut laporan The New York Times, pada Mei lalu Anthropic—perusahaan di balik chatbot Claude—dilaporkan melobi penasihat Paus agar "menganggap serius prospek kesadaran model AI." Namun, dalam dokumen Magnifica Humanitas, Paus justru menegaskan bahwa kecerdasan buatan "tidak mengalami pengalaman, tidak memiliki tubuh, tidak merasakan suka atau duka, tidak matang melalui hubungan, dan tidak mengetahui dari dalam apa arti cinta, kerja, persahabatan, atau tanggung jawab."
Kritik Paus ini memicu reaksi dari kalangan teknolog. Dean Ball, mantan penasihat teknologi Gedung Putih yang kini menjabat kepala strategi masa depan di OpenAI, menilai surat Paus menempatkan Gereja "dalam peran canggung sebagai advokat regulasi teknokratik Eropa." Ball adalah salah satu suara yang vokal menentang pandangan bahwa AI bisa disamakan dengan entitas hidup.
Di media sosial, dukungan untuk Paus mengalir deras, bahkan dari kalangan yang biasanya apatis terhadap otoritas agama. Namun, sejumlah evangelis AI tetap berusaha meyakinkan Takhta Suci tentang keindahan "superintelligence." Salah satu balasan di X bahkan bertanya, "Bagaimana dengan Minions?"—sebuah sindiran yang menunjukkan betapa absurdnya perdebatan ini di mata publik.
"Ada perbedaan ontologis, bahkan sebelum perbedaan estetika, antara seni dan apa yang dapat dihasilkan mesin melalui perhitungan statistik berdasarkan jutaan gambar yang dibuat orang lain." — Paus Fransiskus
Pertanyaan yang lebih besar pun muncul: akankah perpecahan berikutnya dalam sejarah Gereja terjadi karena perdebatan apakah Claude adalah pribadi yang nyata? Atau mungkinkah seorang pemimpin opini AI naik ke status setara Paus? Gagasan semacam ini mungkin terdengar seperti plot novel cyberpunk tahun 90-an, namun realitas kini melampaui fiksi. Palmer Luckey, pencipta headset VR Oculus, misalnya, kini menjadi taipan senjata dengan helikopter Black Hawk pribadi—sebuah bukti bahwa distopia teknologi bukan lagi imajinasi.
Bagi Indonesia, perdebatan ini bukan hal yang jauh. Dengan adopsi AI yang semakin masif di sektor kreatif, pendidikan, dan layanan publik, pertanyaan tentang nilai kemanusiaan di tengah otomatisasi menjadi relevan. Regulator dan pelaku industri dalam negeri perlu mengambil pelajaran dari ketegangan Vatikan vs Silicon Valley: bahwa kemajuan teknologi harus tetap berpijak pada etika dan martabat manusia. Tanpa itu, kita berisiko kehilangan "percikan kemanusiaan" yang justru menjadi pembeda utama.
Ke depan, apakah Gereja akan benar-benar membentuk aliansi global dengan seniman untuk melawan dominasi AI? Atau justru sebaliknya, AI akan semakin merasuki ruang-ruang sakral dan budaya? Publik menunggu langkah konkret, bukan sekadar pernyataan di media sosial.



