Dwayne Johnson Berduka atas Kepergian Benjamin Satterley, Pegulat Muda yang Menggetarkan Dunia Gulat
Baca dalam 60 detik
- Dwayne 'The Rock' Johnson menyampaikan penghormatan emosional kepada Benjamin Satterley, pegulat yang dikenal sebagai Neville di WWE dan Pac di AEW, yang meninggal pada usia 40 tahun.
- Kematian Satterley tidak dianggap mencurigakan oleh pihak berwenang, namun penyebab pastinya masih menunggu hasil tes tambahan dari pemeriksaan medis.
- Kepergian mendadak Satterley, kurang dari 24 jam setelah tampil di acara AEW All Out, menyoroti tekanan dan kerentanan yang dihadapi para atlet gulat profesional.

Dwayne "The Rock" Johnson mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam atas meninggalnya pegulat Benjamin Satterley, yang dikenal luas sebagai Neville di WWE dan Pac di AEW, pada Minggu (27/09) di usia 40 tahun. Dalam sebuah video yang diunggah ke X dan Instagram, Johnson menyatakan bahwa kematian Satterley sangat mengguncangnya secara pribadi.
Satterley ditemukan tidak responsif di dalam sebuah kendaraan di area parkir restoran CAVA di Des Plaines, Illinois, pada Minggu sore. Pelanggan yang melihatnya segera menghubungi 911. Kurang dari 24 jam sebelumnya, ia baru saja bertanding melawan Andrade El Idolo di acara AEW All Out di Chicago. Pihak Kepolisian Des Plaines menyatakan bahwa kematian mendadak ini tidak dianggap mencurigakan dan tidak ada tanda-tanda kejahatan. Meskipun otopsi telah dilakukan, Kantor Pemeriksa Medis Cook County menyebutkan bahwa tes tambahan masih diperlukan dan hasil lengkapnya bisa memakan waktu beberapa minggu.
Dalam pesan emosionalnya, Johnson menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Satterley dan menyoroti ikatan erat komunitas gulat profesional. "Sangat menyakitkan hati saya untuk melakukan ini. Saya ingin menyampaikan cinta, dukungan, dan cahaya saya kepada keluarga Satterley," ujarnya. Johnson juga menekankan bahwa meskipun gulat profesional telah mendunia, para pegulat tetap merupakan unit yang solid karena berbagi DNA yang sama: cinta dan gairah terhadap ring persegi. "Ketika kita kehilangan salah satu dari kita, itu menyakitkan. Apalagi ketika mereka masih muda dan sangat berbakat, itu benar-benar menyakitkan," tambahnya.
Johnson, yang saat ini menjabat sebagai anggota dewan direksi TKO, perusahaan induk WWE, juga mengirimkan pesan dukungan kepada bos AEW Tony Khan dan semua orang di kedua perusahaan rival yang mengenal Satterley. Ia berharap kehilangan ini menjadi pelajaran untuk lebih hadir di setiap momen. "Biarkan kehilangan yang memilukan ini mengingatkan kita semua bagaimana kita harus menjalani hidup setiap hari, di setiap momen. Cobalah untuk hadir sebisa mungkin dalam segala hal yang kita lakukan, karena kita tidak pernah tahu apa yang menunggu di depan," pesannya.
"Ketika kita kehilangan salah satu dari kita, itu menyakitkan. Apalagi ketika mereka masih muda dan sangat berbakat, itu benar-benar menyakitkan." - Dwayne 'The Rock' Johnson
Kepergian Satterley yang mendadak menyoroti tekanan fisik dan mental yang dihadapi para atlet gulat profesional. Meskipun industri gulat global terus berkembang, kesejahteraan para pegulat menjadi perhatian utama. Di Indonesia, komunitas gulat profesional juga semakin tumbuh, dengan munculnya promotor lokal dan penggemar yang antusias. Peristiwa ini dapat menjadi pengingat akan pentingnya dukungan kesehatan mental dan fisik bagi para atlet, serta perlunya sistem pendukung yang kuat di industri hiburan olahraga.
Bagi penggemar di Indonesia, sosok Satterley mungkin dikenal melalui penampilannya di WWE dan AEW yang disiarkan secara internasional. Kematiannya yang tragis menjadi cerminan bahwa di balik gemerlapnya pertunjukan, para pegulat adalah manusia biasa yang rentan terhadap berbagai risiko. Hal ini juga membuka diskusi tentang bagaimana promotor lokal dapat memastikan keselamatan dan kesejahteraan para pegulatnya, terutama dengan meningkatnya popularitas gulat di tanah air.
Ke depan, kasus ini dapat memicu perubahan kebijakan di industri gulat global terkait protokol kesehatan dan dukungan psikologis bagi para atlet. Apakah promotor akan lebih proaktif dalam menyediakan layanan kesehatan mental? Dan bagaimana penggemar dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih suportif? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi sorotan seiring dengan penyelidikan yang masih berlangsung.



