Game of Thrones: War for Westeros Hadirkan Laba-laba Raksasa yang Tak Pernah Muncul di Serial
Baca dalam 60 detik
- PlaySide Studios mengungkap unit laba-laba es dalam game RTS Game of Thrones: War for Westeros, makhluk yang hanya disebut dalam cerita Old Nan di musim pertama.
- Game ini mengusung kampanye sandbox yang memungkinkan pemain mengubah takdir Tujuh Kerajaan, dengan fokus pada keseruan ketimbang keseimbangan kompetitif murni.
- Dijadwalkan rilis awal 2027, game ini menawarkan pertempuran berbasis wilayah dan aliansi politik yang menentukan siapa duduk di Iron Throne.

PlaySide Studios secara resmi mengungkap keberadaan unit laba-laba es dalam game real-time strategy (RTS) mereka, Game of Thrones: War for Westeros. Makhluk ini sebelumnya hanya disebutkan dalam dongeng Old Nan pada musim pertama serial HBO, namun tak pernah divisualisasikan di layar kaca. Kini, laba-laba tersebut menjadi bagian dari pasukan White Walker yang bisa dikerahkan pemain.
Dalam wawancara virtual dengan Polygon, direktur game Ryan McMahon menjelaskan bahwa detail ini sengaja disisipkan sebagai easter egg bagi penggemar berat. "Jika Anda mengamati dengan saksama, Anda akan melihat faksi White Walker memiliki laba-laba di latar belakang sebagai bagian dari pasukan mereka," ujarnya. "Itu adalah sesuatu yang hanya pernah dibicarakan dalam kisah Old Nan di musim 1, dan sekarang menjadi unit nyata dalam game."
Keputusan menghadirkan laba-laba es ini bukan sekadar fan service. PlaySide Studios memang dikenal sebagai penggemar berat waralaba Game of Thrones. Game pertama mereka, Age of Darkness: Final Stand (2021), sangat terinspirasi oleh dunia Westeros. Tim pengembang telah menonton serial dan membaca buku berulang kali, serta memainkan A Song of Ice & Fire Tabletop Miniatures Game dan A Game of Thrones: The Board Game. Mereka menggali detail pasukan dari buku yang tidak diadaptasi ke layar, namun tetap mengikuti kanon serial ketika ada perbedaan.
Berbeda dari game strategi kebanyakan, War for Westeros menawarkan kampanye sandbox yang dipimpin pemain. McMahon menggambarkannya sebagai pengalaman di mana pemain memulai dengan wilayah sendiri di peta Westeros, lalu menaklukkan wilayah lain, menjalin aliansi berisiko tinggi, dan melakukan pengkhianatan yang menentukan faksi mana yang akhirnya menguasai Iron Throne. "Ini adalah kampanye sandbox yang dipimpin pemain," jelasnya. "Anda mulai dengan wilayah yang Anda tempati di peta Westeros, lalu harus menaklukkan wilayah lain, serta beberapa tujuan politik dengan aliansi dan pengkhianatan bertaruh tinggi."
Mekanisme perebutan wilayah membawa pemain ke pertempuran skirmish yang ditentukan oleh penguasaan objektif. Menguasai tanah sangat penting untuk mengumpulkan sumber daya, membangun pasukan, dan memenangkan pertempuran. Dalam demo, pemain sering bertempur melawan pasukan dari house minor, tetapi versi lengkap akan menawarkan cara lain untuk berinteraksi dengan faksi netral. McMahon menekankan bahwa batas wilayah memainkan peran besar dalam Game of Thrones. "Para lord minor berselisih tentang pabrik mana yang milik mereka, dan di mana tanah mereka dimulai dan berakhir," katanya. "Wilayah bertindak sebagai jalur progresi yang hebat, sehingga Anda tidak bisa langsung menyerbu peta, membangun apa pun, dan mengalahkan lawan. Anda harus mengatur tempo, membangun ekonomi, produksi, lalu berkembang."
Menariknya, War for Westeros tidak membatasi akses hero berdasarkan linimasa tertentu. Pemain dapat menciptakan tim dan rivalitas yang tidak pernah terjadi di serial. Hero dibagi menjadi tiga kelas: warrior, commander, dan support. Contohnya, The Mountain sebagai kekuatan garis depan, Tywin Lannister sebagai pemimpin, dan Arya Stark sebagai assassin licik. Sementara itu, White Walker dapat mengerahkan unit kuat seperti raksasa dan laba-laba es, tetapi memiliki lebih sedikit hero. Stark memiliki keunggulan relatif karena Robb Stark dan Jon Snow dapat merekrut direwolf mereka untuk bertarung.
"Kami ingin pertempuran kompetitif terasa lebih seperti Super Smash Bros. atau Marvel Rivals. Mereka tidak fokus pada kemurnian keseimbangan kompetitif, tetapi lebih pada filosofi yang mengutamakan keseruan," ujar McMahon.
PlaySide Studios memang merujuk pada seri RTS klasik seperti StarCraft, Age of Empires, dan The Lord of the Rings: The Battle for Middle-earth saat mengembangkan game ini. Namun, mereka ingin pertempuran kompetitif terasa lebih seperti Super Smash Bros. atau Marvel Rivals. "Kami memiliki dragon yang sangat kuat, White Walker yang bisa membangkitkan orang mati, wildfire yang eksplosif dan berbahaya, serta raksasa dan mammoth yang mengayunkan gada dan melempar semua orang," tambah McMahon. "Itu menyenangkan dan menarik untuk ditonton, dan kami ingin memastikan itu yang utama."
Bagi penggemar yang kecewa dengan akhir serial, game ini menawarkan kesempatan untuk mengubah nasib Tujuh Kerajaan. Dengan pendekatan sandbox dan fokus pada keseruan, Game of Thrones: War for Westeros berpotensi menjadi angin segar di genre RTS yang sudah lama tidak menghadirkan inovasi besar. Pertanyaannya, akankah game ini mampu memuaskan dahaga penggemar akan ending yang lebih memuaskan, atau justru tenggelam dalam ekspektasi tinggi? Waktu yang akan menjawab, tetapi setidaknya laba-laba es Old Nan akhirnya mendapatkan panggungnya.



