Saham Cerebras Anjlok 20%, Terendah Sejak IPO: Tekanan Nvidia dan Lockup Expiration Jadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- Saham Cerebras Systems merosot hampir 20% dalam sepekan ke level terendah pasca-IPO di $166,43, dipicu kabar Nvidia akan memasok GPU untuk mode Ultrafast OpenAI GPT-6.1 Sol.
- Kedaluwarsa lockup period membebaskan hingga 19,4 juta saham (8% dari total outstanding) milik direksi dan karyawan, sementara CEO Andrew Feldman dan CTO Sean Lie telah menjual lebih dari $240 juta saham sejak Agustus.
- Kapitalisasi pasar Cerebras kini menyusut menjadi $39 miliar dari puncak $95 miliar saat debut, memicu pertanyaan tentang daya saing produsen chip AI non-Nvidia di tengah dominasi ekosistem CUDA.

Saham Cerebras Systems Inc. (CBRS) ambruk hampir 20% sepanjang pekan ini dan ditutup pada $166,43—level terendah sejak perusahaan melantai di Nasdaq pada Mei 2026. Aksi jual masif terjadi setelah laporan bahwa Nvidia akan menjadi pemasok utama untuk salah satu komponen krusial dalam model AI terbaru OpenAI, menggusur posisi Cerebras dari rantai pasok inferensi AI generasi berikutnya.
Pemicu langsung datang dari cuitan lembaga riset SemiAnalysis di platform X pada Rabu, yang mengungkap bahwa OpenAI akan mengandalkan unit pemrosesan grafis (GPU) Nvidia untuk menjalankan mode "Ultrafast" pada model GPT-6.1 Sol, bukan perangkat keras Cerebras. Kabar ini memukul sentimen investor karena Cerebras selama ini diposisikan sebagai alternatif nyata terhadap dominasi Nvidia di pasar chip AI. Sejak penutupan hari pertama perdagangan, harga saham Cerebras telah merosot lebih dari 50%.
Tekanan jual bertambah berat seiring berakhirnya periode lockup untuk sebagian saham insider. Menurut prospektus perusahaan, sekitar 19,4 juta saham yang dipegang direksi, pejabat, karyawan non-eksekutif, dan pemegang saham non-karyawan mulai bebas diperdagangkan pada Rabu—setara 8% dari total saham beredar. Sebelumnya, sejak 19 Agustus, hingga 14,6 juta saham telah dibuka setiap dua pekan, menciptakan gelombang pasokan baru yang berkelanjutan di pasar.
Tekanan dari dalam semakin memperparah situasi. CEO Andrew Feldman dan CTO Sean Lie—keduanya menjadi miliarder berkat IPO—telah melepas lebih dari $240 juta saham Class A antara 20 Agustus dan 25 September di bawah rencana perdagangan yang disahkan tak lama setelah pencatatan. Eksekutif lain juga tercatat menjual saham senilai jutaan dolar, memperkuat sinyal bahwa kalangan internal memilih mengunci keuntungan di tengah ketidakpastian prospek jangka pendek.
"Cerebras adalah mitra dekat, dan kami memiliki keterlibatan mendalam untuk mendorong batas kecepatan," tulis CEO OpenAI Sam Altman dalam unggahan di X, menanggapi laporan tersebut.
Pernyataan Altman tidak serta-merta meredakan kekhawatiran pasar. Cerebras selama ini dikenal memproduksi ASIC berukuran sebesar piring makan—chip khusus yang dirancang untuk beban kerja inferensi—dan menyewakannya melalui pusat data milik sendiri sebagai layanan cloud. Model bisnis ini menarik perhatian investor yang mencari alternatif dari ketergantungan pada Nvidia. Pada Januari 2026, Cerebras menandatangani kesepakatan senilai lebih dari $10 miliar dengan OpenAI untuk memasok 750 megawatt daya komputasi hingga 2028. Namun, kehilangan beban kerja inferensi OpenAI ke tangan Nvidia meredam euforia tersebut.
Menurut analisis McKinsey, inferensi diproyeksikan melampaui pelatihan (training) sebagai beban kerja dominan di pusat data AI pada akhir dekade ini. Artinya, segmen yang kini lepas dari Cerebras justru merupakan pasar dengan pertumbuhan tercepat. Kegagalan mempertahankan klien sebesar OpenAI dapat menjadi preseden buruk bagi prospek komersial perusahaan di masa depan.
Bagi investor Indonesia, dinamika Cerebras menjadi cermin penting tentang risiko investasi di sektor semikonduktor dan AI global. Ketika satu kontrak dengan klien utama hilang, valuasi perusahaan dapat terpangkas separuh dalam hitungan bulan. Fenomena ini juga relevan bagi pelaku pasar domestik yang mulai melirik eksposur ke saham teknologi AS melalui reksa dana atau ETF lintas negara—volatilitas tinggi menuntut pemahaman mendalam tentang struktur lockup, konsentrasi klien, dan lanskap persaingan chip AI yang masih dikuasai Nvidia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Cerebras mampu mendiversifikasi basis pelanggan dan membuktikan bahwa arsitektur ASIC-nya tetap kompetitif di luar ekosistem OpenAI. Dengan pasokan saham yang terus bertambah pasca-lockup dan dominasi Nvidia yang semakin dalam, tekanan terhadap harga saham kemungkinan belum berakhir. Pasar akan menanti laporan keuangan kuartal berikutnya untuk melihat seberapa besar dampak kehilangan beban kerja inferensi OpenAI terhadap pendapatan dan pipeline kontrak baru.


